INFOPANTULAN, ACEH– “Kapan kami bisa sekolah lagi, Bu?” Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh Nora Rusaifa, Guru PAUD Tazkiyatun Nufus, di Gampong Kubu, Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Aceh, Rabu siang (25/02/2026).
Bukankah pertanyaan itu hanya cukup dijawab dengan sebuah tanggal? Sayangnya lumpur yang masih tertinggal membuat pertanyaan tersebut sulit dijawab. Lumpur-lumpur itu masih memenuhi lantai PAUD Tazkiyatun Nufus. Dinding-dindingnya juga masih tertimpa oleh sisaan lumpur akibat banjir dan longsor yang terjadi dua bulan silam.
Tiga bangunan berdiri berderet di sana, ada ruang kelas, ruang bermain, dan satu Pos Persalinan Desa (Polindes). Ketiganya dipenuhi oleh lumpur. Di ruang bermain, ruang yang seharusnya dipenuhi oleh tumpukan bola seperti sebuah bak mandi bola, namun bola-bola itu justru tertahan oleh lumpur yang hampir mengering. Sejak banjir dan longsor menimpa Gampong Kubu, pembelajaran di PAUD Tazkiyatun Nufus dan Polindes terhenti, mereka tidak tahu kapan pastinya aktivitas bisa kembali dilakukan di sana.
“Aktivitas sekolah ya karena kayak gini jadi berhenti. Kalau kemarin lumpur yang di sini sebatas itu (dinding) mungkin ada sebatas itu ya,” ungkap Nora.










