Ia menjelaskan, tata kelola dapur yang baik mencakup berbagai aspek. Mulai dari penetapan titik dan mitra dapur; desain dan fisik dapur yang memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi lingkungan, keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja, pengelolaan food waste, hingga ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.
Selain itu, diperlukan manajemen yang akuntabel dan transparan, penegakkan kebijakan, standar operasional prosedur (SOP) dan etika, serta pengawasan dan audit berlapis, termasuk pelibatan pihak eksternal seperti orang tua siswa dan tokoh masyarakat yang telah dilatih.
“Setiap yang bekerja dan jadi mitra MBG harus dimotivasi dan dibangun mindset dan perilaku untuk zero corruption dan zero food safety incidence,” tandasnya.



















