
INFOPANTULAN.COM, BANDUNG – Anggota Komisi IX DPR RI Dr. Netty Prasetiyani, M.Si., mendorong penguatan sinergi antara pemerintah, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), mitra kerja, serta masyarakat dalam mengimplementasikan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana).
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Fasilitasi Teknis Program Bangga Kencana Bersama Mitra* yang berlangsung di Aula B Handoyo Yon Zipur, Bandung, Jawa Barat, pada (22/10/2026) lalu.
Netty menegaskan bahwa Program Bangga Kencana tidak hanya berfokus pada pengendalian penduduk, tetapi juga mencakup pembangunan keluarga berkualitas, peningkatan kesehatan keluarga, penguatan ketahanan keluarga, serta upaya menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
“Program Bangga Kencana bukan hanya berbicara mengenai pengendalian penduduk semata, namun lebih luas lagi mengenai pembangunan keluarga yang berkualitas, peningkatan kesehatan keluarga, pembinaan ketahanan keluarga, serta upaya menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing,” ujar Netty.
Ia menyampaikan bahwa keluarga merupakan fondasi utama pembangunan bangsa. Menurutnya, keluarga yang kuat akan melahirkan sumber daya manusia yang unggul sehingga diperlukan kolaborasi berbagai pihak untuk memastikan program pemerintah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kita semua memahami bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam pembangunan bangsa. Keluarga yang kuat akan melahirkan sumber daya manusia yang unggul. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, BKKBN, mitra kerja, tokoh masyarakat, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting,” katanya.
Netty juga menyoroti berbagai tantangan pembangunan keluarga, mulai dari kesehatan reproduksi, stunting, ketahanan keluarga, hingga peningkatan kualitas generasi muda. Ia berharap kegiatan fasilitasi teknis tersebut dapat menghasilkan masukan, gagasan, dan langkah strategis untuk memperkuat pelaksanaan Program Bangga Kencana agar lebih efektif dan tepat sasaran.
“Saya berharap melalui kegiatan fasilitasi teknis ini dapat lahir berbagai masukan, gagasan, serta langkah-langkah strategis yang dapat memperkuat implementasi Program Bangga Kencana agar semakin efektif dan tepat sasaran,” tuturnya.
Sementara itu, Plt. Direktur Bina Institusi Masyarakat Pedesaan/Perkotaan BKKBN Pusat, Sitti Jamilah, S.K.M., M.H., menjelaskan bahwa Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN memiliki tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kependudukan dan pembangunan keluarga, termasuk pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana.
Sitti menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap empat kondisi yang dikenal sebagai prinsip “4T”, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu rapat, dan terlalu banyak dalam kehamilan.
“Terlalu muda adalah ibu hamil yang usianya di bawah 20 tahun, terlalu tua adalah ibu hamil yang usianya di atas 35 tahun, terlalu rapat adalah jarak antara kelahiran anak sebelumnya kurang dari dua tahun, dan terlalu banyak adalah ibu hamil yang memiliki lebih dari empat anak hidup,” jelas Sitti.
Ia menerangkan bahwa prinsip tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai perencanaan keluarga.
Menurut Sitti, Program Bangga Kencana merupakan upaya strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas keluarga melalui pembangunan keluarga, pengelolaan kependudukan, keluarga berencana, percepatan penurunan stunting, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Program tersebut juga berfokus pada peningkatan kualitas keluarga, penguatan pelayanan keluarga berencana, pencegahan stunting, pembinaan remaja dan generasi muda, serta pendampingan keluarga berisiko stunting.
Sitti mengajak seluruh pihak untuk berperan aktif membangun keluarga sehat, mempersiapkan generasi unggul, meningkatkan kesadaran mengenai perencanaan keluarga, serta menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Penata KKB Ahli Madya BKKBN Provinsi Jawa Barat, Adang Syamsul Hadi, menyampaikan bahwa Program Bangga Kencana merupakan program strategis nasional yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan ketahanan keluarga.
Menurut Adang, program tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengendalian penduduk, tetapi juga menitikberatkan pada pembangunan keluarga yang sehat, mandiri, dan sejahtera.
“Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) merupakan program strategis nasional yang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan ketahanan keluarga,” ujar Adang.
Ia mengungkapkan, pelaksanaan program masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya perubahan pola sosial masyarakat, belum meratanya pemahaman masyarakat, perkembangan teknologi dan informasi, serta perlunya peningkatan kesadaran keluarga mengenai pentingnya perencanaan keluarga.
Adang berharap kegiatan fasilitasi teknis tersebut dapat memperkuat sinergi antara BKKBN dan mitra, meningkatkan pemahaman peserta mengenai Program Bangga Kencana, serta membangun komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas keluarga Indonesia.
“Keberhasilan Program Bangga Kencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat, komitmen bersama, serta partisipasi aktif seluruh pihak, kita optimistis dapat mewujudkan keluarga berkualitas sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.
Sementara itu, Kepala UPTD Dalduk dan PK Kecamatan Dayeuhkolot, Wahidatun Nikmah, S.Kom., M.Si., menekankan pentingnya sinergi dalam pembangunan keluarga, termasuk melalui kerja sama dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Wahidatun mengajak masyarakat meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terhadap kondisi keluarga serta lingkungan sekitar. Ia menyinggung kasus pembuangan bayi yang menjadi perhatian masyarakat sebagai pengingat pentingnya penguatan edukasi, pendampingan, dan tanggung jawab dalam keluarga.
Menurutnya, upaya membangun keluarga yang berkualitas tidak dapat dibebankan hanya kepada ibu, tetapi membutuhkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendampingan anak.
“Ini bukan hanya tanggung jawab ibu-ibu saja, tapi juga ayahnya. Tema Kemendukbangga, #AyahWajibHadir, boleh diterapkan di lingkungan Bapak dan Ibu,” ujar Wahidatun.
Ia juga menyoroti fenomena fatherless, yakni kondisi ketika anak tidak memperoleh peran dan keterlibatan ayah secara memadai dalam kehidupannya. Menurut Wahidatun, kehadiran ayah tidak cukup hanya secara fisik, tetapi perlu diwujudkan melalui keterlibatan dalam pengasuhan, perhatian, dan pendampingan anak.
Selain itu, Wahidatun menyebut sejumlah program prioritas Kemendukbangga/BKKBN, antara lain Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Lansia Berdaya (Sidaya), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (Gati), Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), serta Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita non-PAUD sesuai sasaran program.
Ia menambahkan bahwa tantangan pengasuhan anak saat ini semakin kompleks karena dipengaruhi perkembangan teknologi dan media sosial, selain faktor pergaulan.
“Pengasuhan anak saat ini tantangannya dari teknologi, media sosial, bukan hanya dari pergaulannya,” katanya.
Melalui kegiatan fasilitasi teknis tersebut, para narasumber berharap terbangun pemahaman yang lebih baik mengenai Program Bangga Kencana dan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan keluarga.
Kolaborasi pemerintah, BKKBN, mitra kerja, kader, serta masyarakat diharapkan dapat memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kesadaran perencanaan keluarga, dan mendukung terwujudnya keluarga Indonesia yang sehat, berkualitas, dan sejahtera.

