Puluhan Tahun Mengayuh Becak, Solihin Kini Rasakan Nyamannya Becak Listrik

Nelly Sipayung
8 Okt 2026 23:15
News 0 4
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Selama puluhan tahun, Solihin mengandalkan becak untuk menyambung hidup. Sejak lulus sekolah dasar, warga kelahiran 1969 itu sudah akrab dengan panas matahari, jalanan, serta beratnya mengayuh becak demi membawa pulang rezeki untuk keluarga.

Namun, Kamis (7/10/2026) menjadi hari yang berbeda bagi Solihin. Ia bersama puluhan pengemudi becak lainnya mendapat kesempatan menggunakan becak listrik yang diberikan secara gratis.

Puluhan becak listrik itu berjejer di halaman Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor. Bentuknya masih seperti becak yang selama ini digunakan para pengemudi, tetapi tenaga penggeraknya tidak lagi sepenuhnya mengandalkan kaki. Bagi Solihin, perubahan itu terasa langsung.

“Alhamdulillah, nyaman banget,” kata Solihin saat menceritakan pengalamannya mencoba becak listrik.

Solihin sehari-hari biasa mangkal dan mencari penumpang di kawasan Pasar Cileungsi. Di wilayah tersebut, menurutnya masih ada sekitar 50 pengemudi becak yang aktif mencari nafkah.

Bagi lelaki yang telah puluhan tahun menjadi pengemudi becak itu, kehadiran becak listrik menjadi bantuan yang cukup berarti. Terlebih, pekerjaan sebagai tukang becak tidak selalu mudah.

“Kalau masalah enak, becak listrik. Becak biasa. Kalau yang dapat duit, ya itu yang baru enak,” ujarnya sembari tertawa.

Di balik candanya, Solihin menyimpan rasa syukur. Penghasilan dari menarik becak selama ini menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Alhamdulillah, cukup lah buat makan anak istri. Namanya kita orang kecil, kita syukuri aja, nikmatin aja,” tuturnya.

Solihin mengaku sudah menjadi pengemudi becak sejak keluar dari sekolah dasar. Ia bahkan sudah tidak terlalu ingat persis tahun pertama dirinya mulai mengayuh becak.

“Dari mulai Kebun Jeruk, keluaran sekolah SD, narik becak,” katanya.

Kini, setelah lebih dari tiga dekade menggeluti pekerjaan tersebut, Solihin justru harus kembali belajar menggunakan kendaraan baru. Salah satunya memahami cara mengisi daya baterai atau melakukan pengisian ulang listrik.

“Insyaallah sambil jalan kita pelajari. Namanya kita baru. Mungkin lama-kelamaan,” katanya.

Ia pun tidak minder meski harus belajar teknologi baru di usia yang tak lagi muda.

“Sebodoh-bodohnya kita belajar, ya insyaallah,” ucapnya.

Menurut Solihin, becak listrik membuat pekerjaannya terasa lebih ringan dibanding becak konvensional. Meski demikian, ia menyadari tetap ada risiko yang harus dihadapi, termasuk ketika kendaraan mengalami gangguan. Namun, ia memilih melihat bantuan tersebut dari sisi positif.

“Udah dikasih semuanya, ya udah, ini udah alhamdulillah. Namanya kita orang usaha, apa aja ya memang kita ambil risiko,” ujarnya.

Solihin mengetahui program tersebut setelah ada petugas penyuluh yang datang ke kawasan pasar dan melakukan pendataan terhadap para pengemudi becak.

Ia kemudian mengikuti proses pendataan dengan persyaratan administrasi yang diperlukan, salah satunya kartu tanda penduduk (KTP).

Becak listrik itu rencananya akan dibawa Solihin dan para pengemudi lainnya kembali ke Cileungsi secara bersama-sama. Mereka berencana menyewa kendaraan untuk mengangkut becak tersebut.

Bagi Solihin, pemberian becak listrik bukan sekadar soal kendaraan baru. Ada harapan agar dirinya tetap bisa bekerja tanpa harus terlalu menguras tenaga seperti ketika mengayuh becak konvensional.

Puluhan tahun mengayuh membuatnya paham bahwa pekerjaan sederhana sekalipun membutuhkan ketekunan.

Kini, dengan becak listrik di tangannya, Solihin hanya berharap bisa terus sehat dan tetap bekerja.

“Yang penting kita sehat. Intinya mah sehat,” pungkasnya.

x
x