Pemkot Bogor Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi, Waspada Banjir dan Longsor

Riky Iskandar
6 Nov 2026 06:18
News 0 3
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Ancaman bencana akibat cuaca ekstrem selama musim penghujan menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, Pemkot Bogor resmi menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri hingga masyarakat.

Penetapan status tersebut dibarengi dengan apel kesiapsiagaan bencana yang digelar di Kantor BPBD Kota Bogor, Jalan Pool Binamarga, Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal, Jumat (6/11/2026).

Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus upaya menyatukan langkah seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah.

Menurutnya, peningkatan curah hujan dan perubahan kondisi cuaca harus diantisipasi melalui tindakan pencegahan yang terencana, bukan hanya mengandalkan penanganan ketika bencana sudah terjadi.

Karena itu, Pemkot Bogor memperkuat kolaborasi bersama Forkopimda, Polresta Bogor Kota, Kodim 0606/Kota Bogor, organisasi perangkat daerah (OPD), relawan, serta unsur kewilayahan.

“Keselamatan dan kesiapsiagaan bencana menjadi tanggung jawab bersama. Ada langkah-langkah mitigasi yang harus dilakukan dan disepakati, karena pencegahan lebih baik daripada penanganan ketika kondisi sudah darurat,” ujar Jenal.

Ia menegaskan, penanggulangan bencana bukan semata-mata menjadi tanggung jawab BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran maupun Satpol PP. Seluruh OPD harus terlibat melakukan pencegahan sesuai tugas dan fungsi masing-masing.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah banjir lintasan akibat saluran drainase yang tersumbat sehingga air hujan tidak dapat mengalir dengan optimal. Selain itu, pemeliharaan pohon di sepanjang jalan dan kawasan permukiman juga perlu ditingkatkan untuk mengurangi risiko pohon tumbang.

“Mitigasi awal harus dilakukan lintas OPD sesuai leading sector masing-masing. Jadi, bukan hanya menjadi tugas BPBD atau Damkar, tetapi perlu keterlibatan seluruh unsur pemerintah,” tegasnya.

Di tingkat kewilayahan, Pemkot Bogor akan mengoptimalkan keberadaan Kelurahan Tangguh Bencana dan Kecamatan Tangguh Bencana. Melalui penguatan kedua unsur tersebut, identifikasi titik rawan dan langkah antisipasi diharapkan bisa dilakukan lebih cepat sebelum bencana terjadi.

Jenal juga menyoroti sejumlah kawasan yang memiliki tingkat kerawanan longsor karena kondisi geografis dan kontur tanahnya. Beberapa di antaranya Bojongkerta, Bogor Tengah, Batutulis, serta Pasirkuda di wilayah Bogor Barat.

Ia berharap pemetaan kawasan rawan bencana tidak hanya menjadi pedoman penanganan saat musim hujan, tetapi juga terintegrasi dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, termasuk RPJMD dan RPJPD.

Selain kesiapan pemerintah, Jenal meminta masyarakat ikut mengambil bagian dalam mengurangi risiko bencana. Salah satunya dengan mengubah kebiasaan membuang sampah ke sungai maupun saluran air yang dapat menyebabkan penyumbatan drainase.

Warga juga diminta lebih berhati-hati ketika hujan deras disertai angin kencang, terutama dengan tidak berteduh di bawah pohon besar yang berpotensi tumbang.

“Ayo jaga lingkungan kita, kita jaga alam, insyaallah alam akan menjaga kita. Jangan membuang sampah sembarangan, apalagi ke sungai dan saluran air. Saat hujan deras, jangan berhenti atau berteduh di bawah pohon besar,” imbaunya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, menyampaikan bahwa pihaknya tengah mengembangkan sistem informasi pemetaan risiko bencana berbasis digital.

Sistem tersebut nantinya dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengetahui perkembangan laporan kejadian bencana, lokasi yang sudah ditangani, hingga wilayah yang masuk kategori zona merah berdasarkan akumulasi laporan kejadian.

Berdasarkan infografis BPBD hingga 4 November 2026, tercatat 682 laporan kejadian bencana di Kota Bogor. Mayoritas laporan berkaitan dengan dampak cuaca ekstrem.

Kecamatan Bogor Barat tercatat sebagai wilayah dengan laporan kejadian terbanyak. Posisi berikutnya ditempati Bogor Selatan dan Tanah Sareal.

“Kalau dilihat dari sebarannya, potensi risiko bencana hampir merata di enam wilayah kecamatan,” ungkap Dimas.

Ia menambahkan, cuaca ekstrem menjadi potensi ancaman paling dominan yang dapat mengakibatkan pohon tumbang hingga kerusakan rumah. Selain itu, bencana tanah longsor dan banjir, baik banjir lintasan maupun banjir limpasan, juga perlu diwaspadai.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan di Kota Bogor diprediksi terjadi pada Desember 2026. Oleh karena itu, kesiapsiagaan seluruh unsur dan masyarakat perlu terus diperkuat untuk menghadapi peningkatan risiko bencana menjelang akhir tahun.

x
x