Islam ala Prabowo, Nama Gus Kautsar Dipersoalkan Keluarga dan Akun Terkait

Abdul Halim
7 Sep 2026 06:03
Peristiwa 0 37
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Buku berjudul “Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam” kini menjadi perbincangan setelah nama Abdurrahman Kautsar, yang dikenal sebagai Gus Kautsar, muncul sebagai salah satu penulis. Polemik ini berawal dari keberatan yang disampaikan Jazilah Annahdliyah, istri Gus Kautsar, yang mempertanyakan dasar pencantuman nama suaminya dalam buku tersebut.

Menurut informasi yang beredar, buku ini disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas serta diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House. Buku dengan ketebalan sekitar 346 halaman tersebut pertama kali dirilis pada April 2025, berisi kumpulan tulisan dari sejumlah penulis dengan latar belakang berbeda, termasuk akademisi dan tokoh agama.

Nama Gus Kautsar Dipertanyakan, Proses Izin Jadi Sorotan

Jazilah Annahdliyah menyampaikan keberatannya melalui komentar di Instagram. Ia mempertanyakan bagaimana nama suaminya bisa tercantum sebagai penulis, sembari menegaskan bahwa Gus Kautsar tidak pernah menulis buku tersebut. Dalam komentarnya, Jazilah juga menyoroti aspek izin, dengan nada kecewa karena menurutnya pencantuman nama tanpa persetujuan terlebih dahulu merupakan persoalan etika.

Keberatan keluarga ini kemudian mendapat perhatian publik karena buku yang dimaksud secara spesifik membahas sisi keagamaan Presiden Prabowo Subianto. Dalam konteks seperti ini, pencantuman identitas tokoh agama sering dipandang memiliki bobot legitimasi. Karena itu, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal isi buku, melainkan juga prosedur sebelum nama seorang kiai ditampilkan di ruang publik sebagai penulis.

Akun Berafiliasi Turut Menilai Pencantuman Nama Tanpa Adab

Selain dari pihak keluarga, persoalan itu juga disinggung oleh akun Instagram @nderekpusat_official yang berafiliasi dengan Gus Kautsar. Melalui unggahan, akun tersebut menyayangkan pencantuman nama Gus Kautsar sebagai penulis dalam buku yang menyinggung Prabowo Subianto. Mereka menilai nama seorang kiai tidak semestinya dipakai untuk memperkuat legitimasi sebuah karya, terutama bila terkait kepentingan politik.

Dalam pernyataannya, akun tersebut menekankan pentingnya adab saat menggunakan nama, pendapat, atau tulisan tokoh agama. Mereka menyebut seharusnya ada komunikasi yang baik, mekanisme sowan, penyampaian maksud secara jelas, serta permintaan izin yang terang sebelum identitas tokoh dicantumkan. Penekanan semacam ini menggeser fokus polemik dari substansi buku ke tata cara penggunaan nama dan otoritas keilmuan.

Fokus Polemik Bukan Isi, Melainkan Persetujuan dan Etika

Pihak yang berafiliasi dengan Gus Kautsar juga menyatakan bahwa mereka tidak mempersoalkan siapa saja yang tercantum atau menjadi bagian dari buku tersebut. Yang mereka anggap bermasalah adalah pencantuman nama Gus Kautsar yang dinilai dilakukan tanpa izin. Dengan demikian, polemik yang berkembang cenderung menempatkan persoalan persetujuan tertulis atau konfirmasi terlebih dahulu sebagai inti perdebatan.

Di titik ini, publik kemudian menilai proses editorial sebuah buku yang memuat nama tokoh agama. Apakah ada kontribusi tulisan dari Gus Kautsar, apakah nama tersebut hanya dicantumkan sebagai rujukan, atau ada bentuk keterlibatan lain yang tidak dijelaskan secara terbuka. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat kasus ini menarik, karena buku tersebut memposisikan diri membahas praktik keislaman tokoh nasional, sehingga penggunaan otoritas agama menjadi bagian yang sensitif.

Siapa Gus Kautsar dan Mengapa Namanya Menarik Perhatian

Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Selain memimpin pesantren, ia juga dikenal sebagai tokoh agama yang aktif menyampaikan pandangan keagamaan di ruang publik. Karena latar belakang tersebut, kemunculan namanya dalam buku bertema keislaman yang dikaitkan dengan Prabowo Subianto membuat banyak orang menaruh perhatian.

Namun, klaim yang disampaikan pihak keluarga menyebut Gus Kautsar tidak pernah menulis buku itu. Klaim ini menjadi titik tanya besar bagi pembaca, sebab jika benar tidak ada kontribusi langsung, maka pencantuman nama sebagai penulis akan memunculkan pertanyaan tentang peran yang sebenarnya dimainkan tokoh tersebut dalam penyusunan naskah.

Menunggu Penjelasan Penyusun dan Penerbit

Seiring polemik melebar, proses penyusunan buku juga ikut disorot. Sejumlah pertanyaan yang muncul antara lain bagaimana nama para penulis atau kontributor dikumpulkan, apakah masing-masing nama memiliki kontribusi tulisan, serta bagaimana konfirmasi dilakukan sebelum buku diterbitkan. Pembaca juga menunggu kejelasan, apakah ada komunikasi dengan Gus Kautsar atau pihak terkait sebelum identitasnya dimuat pada halaman penulis.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari penyusun maupun dari pihak penerbit yang merespons keberatan tersebut untuk menjelaskan mekanisme pencantuman nama Gus Kautsar. Klaim bahwa Gus Kautsar tidak menulis dan tidak memberikan izin merupakan pernyataan dari pihak keluarga dan akun yang berafiliasi. Karena itu, persoalan ini masih berada pada tahap klarifikasi, menunggu penjelasan dari pihak-pihak yang terlibat dalam proses editorial dan penerbitan.

x
x