
INFOPANTULAN.COM, BOGOR– Kesabaran pengguna KRL Commuter Line di Stasiun Bojonggede, Kabupaten Bogor, mulai mencapai batas. Eskalator yang menjadi akses naik dan turun penumpang dilaporkan sudah hampir setahun mengalami kerusakan berulang. Kondisi itu membuat penumpang kelelahan, terutama setelah pulang bekerja.
Kekecewaan tersebut disuarakan melalui karangan bunga yang diletakkan di area stasiun. Bukan sekadar hiasan, karangan bunga itu menjadi bentuk aspirasi sekaligus harapan agar eskalator segera diperbaiki.
Dwi Multi (35), warga Bojonggede yang setiap hari bekerja di Pasar Minggu, mengaku sudah cukup lama menunggu fasilitas tersebut kembali berfungsi normal.
“Sebagai pengguna KRL, kami berharap semoga cepat diperbaiki. Kami sudah capek, soalnya sudah lama banget,” ujar Dwi, Rabu (28/10/2026).
Menurut dia, kerusakan eskalator bukan persoalan baru. Selama hampir setahun, fasilitas tersebut disebut kerap mengalami kondisi mati dan kembali berfungsi, sebelum akhirnya bermasalah lagi.
Bagi Dwi, persoalan ini bukan hanya menyangkut kenyamanan, tetapi juga menyulitkan penumpang yang memiliki keterbatasan fisik maupun membutuhkan bantuan saat berjalan.
Ia menceritakan, sejumlah pengguna KRL harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melewati akses stasiun. Bahkan, ada temannya yang setiap hari menggunakan kursi roda dan harus didorong ketika melintas.
“Kadang lelah pulang kerja, harus muter. Saya masih agak kuat, tapi teman saya setiap hari harus pakai kursi roda dan didorong. Banyak juga ibu hamil,” tuturnya.
Dwi menduga lambatnya penanganan berkaitan dengan kewenangan pihak yang bertanggung jawab atas fasilitas tersebut. Ia menilai persoalan itu perlu segera ditangani oleh instansi terkait, termasuk Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor.
Menurutnya, perbaikan fasilitas serupa di lokasi lain bisa berlangsung lebih cepat. Karena itu, ia berharap eskalator di Stasiun Bojonggede tidak terus dibiarkan bermasalah.
Keluhan serupa disampaikan Astuti (53), pengguna KRL yang setiap hari mengandalkan transportasi tersebut untuk beraktivitas. Ia mengaku sudah merasakan dampak kerusakan eskalator dalam waktu yang cukup lama.
“Sudah hampir setahun. Yang kami rasakan, apalagi kalau bolak-balik kerja, capek, lelah, pegel,” ungkap Astuti.
Astuti mengatakan, dirinya biasanya melewati Stasiun Bojonggede saat pulang kerja. Ketika berangkat pagi, ia kerap tidak sempat menggunakan akses tersebut karena harus mengejar jadwal kereta.
Kondisi itu membuat persoalan eskalator semakin terasa bagi penumpang yang memiliki rutinitas padat dan harus berpacu dengan waktu.
Bagi mereka, eskalator bukan sekadar fasilitas tambahan di stasiun. Keberadaannya menjadi bagian penting dari akses perjalanan sehari-hari, terutama bagi lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta penumpang yang kelelahan setelah bekerja.
Melalui karangan bunga dan keluhan yang disampaikan, para pengguna KRL berharap ada langkah nyata untuk mengakhiri persoalan yang telah berlangsung berbulan-bulan tersebut.
“Semoga cepat diperbaiki,” harap Astuti.

