Pedagang CFD Cibinong Kenakan Kebaya dan Pangsi, Bupati Bogor: Kembalikan Marwah Budaya Sunda

Nelly Sipayung
2 Agu 2026 08:15
2 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR– Suasana berbeda terlihat di kawasan Car Free Day (CFD) Kabupaten Bogor, Minggu (2/8/2026). Para pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku UMKM yang berjualan tampil mengenakan pakaian adat Sunda. Pedagang perempuan memakai kebaya, sementara pedagang laki-laki mengenakan pangsi, sehingga menambah nuansa budaya di sepanjang area CFD.

Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan, penggunaan pakaian adat Sunda oleh para pelaku UMKM merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Bogor untuk menghidupkan kembali identitas budaya lokal.

Menurut Rudy, semangat tersebut sejalan dengan penataan kawasan Alun-alun Kabupaten Bogor yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mengangkat nilai sejarah dan budaya Sunda. Pemkab Bogor, kata dia, membangun Tugu Tritantu Tribuana, merevitalisasi Tugu Lawangkori, serta menghadirkan berbagai ikon Sunda lainnya.

“Kami mengajak para pelaku UMKM untuk memakai pakaian adat Sunda. Orang Bogor adalah orang Sunda. Kami hanya berupaya mengembalikan marwah dan kehormatan orang Bogor, bahwa sejatinya orang Bogor adalah orang Sunda,” ujar Rudy, Minggu (2/8/2026).

Rudy menambahkan, pelestarian budaya juga diiringi dengan pemerataan pembangunan. Dalam 100 hari pertama kepemimpinannya, Pemkab Bogor telah membangun Pendopo Kawedanaan Jasinga yang selama ini menjadi aspirasi masyarakat. Selain itu, pembangunan infrastruktur jalan diprioritaskan di wilayah barat Kabupaten Bogor, seperti Rumpin, Parung Panjang, Nanggung, dan Cigudeg, sesuai kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, salah seorang pedagang sekaligus pemilik usaha dimsum dan es mambo, Debi Syntia (33), mengaku antusias mengenakan kebaya saat berjualan di CFD. Menurutnya, penampilan tersebut justru menarik perhatian pengunjung.

“Alhamdulillah jadi lebih ramai dan menarik. Kebetulan saya sudah punya kebaya, jadi tinggal dipakai. Katanya setiap hari Minggu memang diminta memakai kebaya adat Sunda,” ujarnya.

Debi mengaku tetap nyaman mengenakan kebaya saat melayani pembeli. Bahkan, banyak pengunjung yang mengabadikan dirinya dengan kamera ponsel karena dianggap unik.

“Banyak yang videoin, mungkin karena unik. Saya jualan dari jam lima pagi sampai jam sebelas siang. Alhamdulillah ramai,” katanya.

Inisiatif menghadirkan pakaian adat Sunda di kawasan CFD ini tidak hanya menjadi daya tarik bagi masyarakat, tetapi juga diharapkan dapat memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal sekaligus mendorong geliat UMKM di Kabupaten Bogor.

x
x