Risiko Karhutla Meningkat, PTPN 1 Regional 2 Imbau Pengunjung Gunung Mas

Abdul Halim
27 Agu 2026 08:09
Bogor 0 37
3 menit membaca

Udara panas dan kering di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, membuat risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat, terutama di sekitar Agrowisata Gunung Mas. PTPN 1 Regional 2 pun memperketat langkah preventif agar kejadian kecil tidak berkembang menjadi bencana besar, mengingat kondisi cuaca yang sedang tidak bersahabat bagi vegetasi kering.

Asisten Legal dan Umum PTPN 1 Regional 2, Asep Zaenal Muttaqin, menegaskan rumput serta semak belukar yang mengering akibat kemarau panjang berpotensi mudah tersulut. Percikan api kecil, kata dia, dapat cepat membesar dan menyebar, sehingga pencegahan perlu dilakukan sejak dini, termasuk melalui edukasi kepada pengunjung dan warga sekitar.

Cegah Karhutla, Wisatawan di Puncak Bogor Dilarang Buang Puntung Rokok Sembarangan

Cuaca panas dan vegetasi kering jadi pemicu karhutla di Gunung Mas

Di area dataran tinggi Puncak, vegetasi yang berada di sekitar perkebunan dan semak belukar cenderung lebih cepat mengering saat kemarau berkepanjangan. Dalam kondisi seperti ini, sumber pemicu yang tampak sepele seperti bara rokok atau aktivitas pembakaran bisa menjadi titik awal kebakaran.

Asep menyampaikan bahwa saat ini cuaca terasa sangat panas dan kering, sehingga kerawanan karhutla berada pada tingkat tinggi. Ia juga mengingatkan bahwa api tidak selalu harus berasal dari pembakaran besar. Pada kondisi kering, api kecil saja dapat cukup untuk merembet ke area lain, termasuk ke hamparan perkebunan teh dan bagian hutan yang masih terjaga.

Imbauan khusus untuk wisatawan Agrowisata Gunung Mas

Langkah pencegahan tidak hanya menyasar lingkungan internal pengelola, tetapi juga perilaku pengunjung. PTPN 1 Regional 2 mengimbau wisatawan yang berkunjung ke Agrowisata Gunung Mas untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan. Menurut Asep, kebiasaan tersebut berisiko memicu percikan api yang sulit dikendalikan ketika angin bertiup dan tumbuhan sekitar dalam keadaan kering.

Selain itu, pengunjung juga diminta lebih waspada terhadap aktivitas yang dapat menimbulkan panas atau percikan api. Ketika pengunjung membawa rokok atau melakukan kegiatan di area terbuka, potensi bahaya meningkat karena bahan bakar alami di sekitar lokasi mudah terbakar.

Ilustrasi: Kawasan Agro Wisata Gunung Mas di kaki Gunung Gede Pangrango

Larangan pembakaran lahan, edukasi bersama RT-RW dan aparat desa

PTPN 1 Regional 2 juga menegaskan agar masyarakat di sekitar kawasan tidak melakukan pembakaran apa pun yang berisiko merembet ke area hutan maupun perkebunan teh. Asep meminta warga tidak membakar lahan terbuka, terutama saat kondisi sedang kering dan angin bergerak kencang.

Ia menilai pembakaran yang tampak terkendali di awal bisa berubah menjadi bencana ketika api menjalar lebih cepat dari perkiraan. Karena itu, edukasi dilakukan tidak hanya oleh petugas perusahaan, tetapi juga melibatkan pengurus RT/RW, Linmas, hingga kepala desa agar pesan keselamatan sampai ke masyarakat dengan cara yang lebih dekat dan realistis.

Prosedur pelaporan jika melihat asap atau tanda potensi kebakaran

Selain pencegahan, kesiapsiagaan juga ditekankan melalui mekanisme pelaporan. Asep menyampaikan bahwa apabila masyarakat melihat asap atau tanda-tanda potensi kebakaran, mereka diminta segera melapor kepada pemerintah desa, kecamatan, Babinsa, maupun Bhabinkamtibmas.

Langkah cepat dari warga sangat menentukan, karena penanganan awal biasanya lebih efektif sebelum api membesar. Dengan adanya jalur pelaporan yang jelas, respons di lapangan dapat dilakukan lebih cepat, termasuk untuk mengantisipasi meluasnya titik api ke area lain.

Pemantauan aktif di dua kecamatan sekitar area milik BUMN

Upaya preventif juga diiringi pemantauan lapangan secara aktif. PTPN 1 Regional 2 menyebut pihaknya terus mengamati potensi karhutla di area milik BUMN yang berada di dua kecamatan, yaitu Cisarua dan Megamendung.

Dengan pemantauan rutin, petugas dapat lebih cepat mendeteksi perubahan kondisi lingkungan, termasuk meningkatnya kepulan asap atau munculnya titik api. Pendekatan ini penting karena karhutla sering kali mulai dari kejadian kecil yang tidak disadari, lalu berkembang ketika kondisi cuaca mendukung.

Imbauan PTPN 1 Regional 2 terhadap wisatawan dan warga sekitar pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, menjaga kawasan Puncak tetap aman dan lestari. Ketika musim kering berlangsung dan vegetasi mudah terbakar, disiplin perilaku, pelaporan cepat, serta edukasi bersama menjadi kunci untuk mencegah karhutla sejak dini.

x
x