
INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Ratusan sopir angkutan kota (angkot) menggelar aksi demonstrasi di Balai Kota Bogor, Kamis (3/9/2026). Mereka meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tidak menerapkan kebijakan yang mengharuskan angkot tua diremajakan.
Para sopir menilai angkot tua masih dapat digunakan untuk melayani penumpang selama kendaraan tersebut memenuhi persyaratan keselamatan dan kelayakan operasional.
Salah seorang sopir angkot, Kendar, mengatakan tuntutan utama dalam aksi tersebut adalah agar angkot tua tetap diperbolehkan beroperasi.
“Intinya semua pendemo hanya satu permintaan, mobil tua tetap operasi. Yang penting mobilnya rapi. Kalau memang siap tetap operasi, otomatis KIR harus dihidupkan, trayek pun harus dihidupkan,” kata Kendar.
Menurutnya, para sopir dan pemilik angkot keberatan jika kendaraan mereka harus direduksi atau diremajakan dengan biaya yang besar. Ia menyebut kebutuhan biaya untuk satu unit kendaraan baru dapat mencapai sekitar Rp100 juta.
“Reduksi minimal satu unit Rp100 juta. Mobil tua itu harus diganti dengan yang baru. Ke sini bayar, ke situ bayar, uang dari mana? Pemilik itu belum tentu punya duit,” ujarnya.
Kendar menegaskan, para sopir tidak menolak penertiban terhadap angkot yang memang tidak layak. Namun, ia meminta kendaraan yang masih dapat diperbaiki diberikan kesempatan untuk kembali memenuhi persyaratan.
“Jangan ada reduksi. Lebih baik mobil tua dipelihara, dibaguskan kembali, dirapikan kembali. Pajak dihidupkan, KIR dihidupkan, trayek dihidupkan. Yang penting mobil rapi,” katanya.
Ia mengaku tidak keberatan jika pemerintah menindak angkot yang kondisinya tidak memenuhi ketentuan.
“Kalau memang mobil tidak rapi, silakan ambil, silakan tangkap karena tidak memenuhi persyaratan. Usulannya seperti itu saja, jangan ada reduksi. Renovasi, mobil dibaguskan kembali, dirapikan kembali,” tegasnya.
Kendar menilai kebijakan peremajaan angkot juga berpotensi mengurangi jumlah kendaraan yang beroperasi. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat berdampak langsung terhadap pendapatan sopir yang menggantungkan hidup dari angkot.
“Kalau mobil harus diremajakan, akhirnya dikurangi, hanya jalan setengahnya. Sopir yang operasi sehari-hari mau mencari apa? Kerja dari mana? Punya anak, punya istri, punya anak sekolah. Tolong pikirkan perut orang-orang kecil,” tuturnya.
Selain persoalan angkot tua, Kendar juga menyoroti ketidakhadiran pengurus koperasi angkot dalam aksi yang dilakukan para sopir. Ia meminta tidak ada lagi pungutan kepada anggota yang mengikuti kegiatan maupun aksi.
“Dari demo pertama, demo kedua, demo ketiga, kenapa tidak hadir? Nggak ada yang datang satu pun. Saya minta untuk kutipan hari ini sampai ke depan, jangan ada yang bayar kutipan. Itu namanya pungli,” ungkapnya.
Ia pun mempertanyakan peran pengurus koperasi ketika para anggota menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.
“Buat apa kita punya bapak-bapak di saat rekan-rekan ada demo di sini? Anggota KSU-nya mana di sini? Nggak ada pengurus-pengurusnya,” tandasnya.

