Desa Wisata Gunung Malang Bogor masuk 10 besar Smiling West Java

Abdul Halim
26 Sep 2026 10:01
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Desa Wisata Gunung Malang di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, mulai menarik perhatian setelah masuk jajaran 10 besar Smiling West Java tingkat Provinsi Jawa Barat dan melaju ke Wonderful Indonesia Awards 2026. Pengumuman dan sorotan capaian itu dibahas dalam Gerakan Aksi Sapta Pesona yang digelar Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) di Desa Wisata Gunung Malang pada Sabtu, 26 September 2026.

Peristiwa ini menegaskan bahwa desa wisata yang masih berstatus rintisan tetap bisa bersaing, asalkan pengelolaannya serius. Kepala Disparekraf Kabupaten Bogor, Ria Marlisa, menilai keberhasilan Gunung Malang menunjukkan potensi pariwisata dapat dikembangkan secara berkelanjutan sambil menjaga lingkungan. Ia juga menggarisbawahi bahwa penguatan Sapta Pesona tidak bisa hanya ditanggung pengelola desa wisata, melainkan melibatkan pemerintah desa, kecamatan, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, hingga perangkat daerah.

Gunung Malang tembus 10 besar Smiling West Java

Dalam acara aksi Sapta Pesona, Ria Marlisa menyampaikan bahwa masuknya Desa Wisata Gunung Malang ke 10 besar menjadi bukti nyata adanya daya saing sejak tahap awal. Menurutnya, desa wisata tidak harus menunggu status “maju” untuk memperkenalkan keunikan wilayahnya. Gunung Malang, yang masih bertumbuh sebagai destinasi rintisan, justru mampu menunjukkan kesiapan tata kelola dan daya tarik yang layak bersaing di tingkat provinsi.

Ria juga menempatkan capaian tersebut dalam konteks lebih luas pariwisata Kabupaten Bogor. Ia menyebut Kabupaten Bogor memiliki 416 desa di berbagai wilayah, yang semuanya menyimpan potensi. Tantangannya bukan sekadar menemukan potensi, melainkan mengelola agar manfaatnya terasa jangka panjang, bukan hanya mengejar keuntungan sesaat. Dari sudut pandang kebijakan, pernyataan ini relevan karena pariwisata yang berkelanjutan lazimnya menuntut konsistensi layanan, standar pengelolaan, serta keterlibatan warga.

Sapta Pesona jadi gerakan bersama, bukan tugas pengelola

Ria menegaskan penerapan Sapta Pesona tidak bisa dibebankan pada satu pihak. Ia mendorong agar gerakan itu menjadi kerja kolektif. Dalam praktiknya, keterlibatan pemerintah desa dan kecamatan penting untuk memastikan dukungan administrasi dan koordinasi, sedangkan masyarakat dan pelaku usaha dibutuhkan untuk menghadirkan pengalaman wisata yang hidup, termasuk kesiapan layanan dan ketersediaan aktivitas.

Ria juga menyebut Disparekraf bersama Pemerintah Kabupaten Bogor akan terus mengawal dan mendukung pengembangan Desa Wisata Gunung Malang. Frasa “mengawal” di sini menunjukkan adanya pendampingan, bukan hanya seremonial. Dukungan semacam ini biasanya mencakup pembinaan kapasitas, penguatan promosi, dan pendampingan pemenuhan persyaratan yang dibutuhkan dalam berbagai ajang penilaian.

Gabungkan alam, budaya, seni, pertanian hingga edukasi

Ke depan, pengembangan Gunung Malang diarahkan secara terpadu dengan menggabungkan potensi alam, budaya, seni, pertanian, hingga edukasi. Pendekatan ini berangkat dari karakter desa yang memiliki beragam daya tarik, sehingga wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga mendapatkan pengalaman yang lebih berlapis.

Rencana ini juga disebut melibatkan kolaborasi lintas perangkat daerah, termasuk Dinas Kebudayaan, Bappedalitbang, Diskominfo, dan DPMD, serta akademisi dan pihak lain. Kolaborasi semacam ini biasanya berhubungan dengan dua kebutuhan besar desa wisata, yaitu promosi dan tata kelola. Promosi membantu meningkatkan kunjungan, sedangkan tata kelola menjaga kualitas layanan dan memastikan destinasi berkembang sesuai standar.

Aksi Sapta Pesona diikuti 23 desa wisata

Dalam Gerakan Aksi Sapta Pesona, Pemerintah Kabupaten Bogor menggelar sosialisasi nilai-nilai Sapta Pesona, deklarasi komitmen bersama 23 desa wisata yang telah memiliki SK Bupati, aksi penanaman pohon, serta eksplorasi edu-farm. Serangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa pemerintah daerah mencoba membangun budaya sadar pariwisata, bukan hanya mengejar pencapaian penilaian tahunan.

Ria menekankan agar kegiatan tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Ia berharap gerakan ini menjadi komitmen kultural untuk merawat masa depan pariwisata Kabupaten Bogor agar semakin bersinergi, berkelanjutan, dan berdampak pada perekonomian masyarakat. Di level desa, dampak ekonomi yang dimaksud bisa terlihat dari meningkatnya peluang kerja, perputaran uang untuk usaha lokal, hingga terbukanya aktivitas ekonomi baru yang terkait langsung dengan kunjungan wisata.

Reorganisasi 2024, penguatan administrasi dorong capaian

Ketua Desa Wisata Gunung Malang, Tedi Saefudin, menyebut pengembangan desa wisata menjadi lebih serius setelah reorganisasi pada 2024. Ia menjelaskan proses awalnya diawali pendampingan dan kunjungan mahasiswa Universitas Pakuan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak. Setelah itu, pengelola bersama masyarakat melakukan pemetaan potensi yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata.

Potensi yang dipetakan mencakup wisata alam, wisata buatan, seni dan budaya, pertanian, peternakan, kerajinan, hingga edukasi. Tedi menilai keberadaan desa wisata membuat warga lebih bersemangat mempromosikan potensi dan menggelar kegiatan. Ia juga menyebut gotong royong menjadi kunci agar desa wisata berkembang lebih baik dan mampu menerima kunjungan lebih banyak.

Curug dan kedekatan dengan Taman Nasional jadi nilai jual

Tedi menambahkan salah satu keunggulan Gunung Malang adalah potensi alam yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional. Sejumlah curug disebut menjadi daya tarik wisata alam, sementara kegiatan edukasi juga telah menarik kunjungan dari berbagai sekolah. Kombinasi wisata alam dan edukasi ini berpotensi membuat destinasi lebih menarik untuk rombongan pelajar maupun kegiatan belajar di luar kelas.

Ia juga menekankan faktor yang mendukung capaian dalam berbagai ajang penilaian, yaitu konsistensi pengelola dalam memenuhi persyaratan administrasi serta melengkapi dokumentasi. Menurut Tedi, meski masih berstatus desa wisata rintisan dan baru berkembang, Gunung Malang bisa masuk 10 besar tingkat Jawa Barat hingga mencapai tingkat nasional, sehingga menjadi motivasi untuk terus berbenah dan mengembangkan destinasi tersebut.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

x
x