INFOPANTULAN.COM – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menggelar pemantauan kesiapan Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang dimulai Kamis, 15 Oktober 2026. Pemerintah menargetkan pemeriksaan berlangsung selama delapan hari untuk memastikan sekitar 8.000 koperasi bisa menjalankan kegiatan usaha, termasuk distribusi kebutuhan pokok dan barang bersubsidi.
Langkah percepatan ini digerakkan setelah Presiden Prabowo Subianto meminta operasional koperasi segera dilengkapi, mulai dari ketersediaan barang dagangan hingga sarana transportasi, kesiapan pengelola, dan peran agen perbankan. Di Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026, Zulhas menyampaikan arahan Presiden diterimanya melalui komunikasi telepon, dengan tenggat penyelesaian pekerjaan yang dirapikan pada 20 Oktober 2026.
Pemantauan 8 hari untuk 8.000 KDKMP, fokus operasional bukan sekadar bangunan
Dalam rapat koordinasi terbatas di Jakarta, Zulhas menegaskan bahwa pengecekan tidak berhenti pada aspek administratif. Pemeriksaan akan menilai apakah koperasi benar-benar siap menjalankan operasional harian, termasuk apakah barang tersedia dan bisa dipakai untuk kegiatan usaha, serta apakah sarana pendukung berfungsi sesuai kebutuhan.
Ia menyebut pemeriksaan akan melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta unsur terkait. Rapat diikuti 107 peserta yang terdiri atas pejabat dan perwakilan instansi, mencerminkan bahwa pemantauan ini diposisikan sebagai kerja lintas sektor, bukan urusan satu unit.
“Selama 8 hari ini akan ngecek terus apa yang belum, apa yang sudah,” kata Zulhas. Frasa tersebut menunjukkan arah kerja yang berorientasi pada pemetaan kekurangan, agar tiap koperasi bisa ditangani sesuai kondisi nyata, bukan hanya dikejar seragamnya dokumen.
Tenggat 20 Oktober 2026 jadi penanda percepatan pelaksanaan
Zulhas menyampaikan arahan Presiden menjadi dasar percepatan pemeriksaan. Pemerintah menargetkan pengecekan dapat mencakup sekitar 15.000 koperasi dalam delapan hari, sebelum masuk ke tahap rapat evaluasi yang menilai hasil temuan.
Ia juga menekankan tenggat yang menjadi perhatian, yaitu “20 Oktober ini, ini harus rapi.” Dengan batas waktu tersebut, kementerian dan lembaga terkait dituntut menyelesaikan proses pemenuhan yang masih tertinggal, sekaligus menyiapkan tindak lanjut berdasarkan temuan di lapangan.
Meski begitu, hasil pemeriksaan tetap perlu ditunggu untuk melihat gambaran utuh: berapa koperasi yang sudah memenuhi kebutuhan operasional dan unit mana yang masih memerlukan perbaikan. Pemerintah juga diminta memastikan pemantauan tidak hanya berhenti pada inventaris, tetapi memastikan sarana tersebut benar-benar dapat digunakan.
Prioritas 8.000 KDKMP, pemenuhan barang hingga akhir Oktober 2026
Di sisi lain, pemerintah menargetkan sekitar 8.000 KDKMP dilengkapi barang kebutuhan pokok dan sarana usaha sampai akhir Oktober 2026. Target ini ditempatkan di tengah kebutuhan pemenuhan yang masih mencakup sekitar 28.000 hingga 29.000 koperasi, sehingga 8.000 unit menjadi prioritas untuk dikejar lebih cepat.
Zulhas menyatakan harapannya agar penyelesaian untuk 8.000 koperasi bisa tuntas pada akhir bulan. Ia mengakui kondisi tiap unit tidak seragam, sehingga ada koperasi yang sudah lengkap, ada yang sudah terisi, dan ada pula yang masih belum terisi. Pengakuan ini penting karena mengisyaratkan bahwa distribusi dan pengisian barang tidak bisa diperlakukan sama untuk semua lokasi.
Barang yang disiapkan mencakup pupuk bersubsidi, gula, minyak goreng, gas elpiji, serta beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Perum Bulog. Selain persediaan, kesiapan angkutan seperti truk, mobil pikap, dan becak motor juga diperiksa agar distribusi barang bisa berjalan dan kegiatan usaha tidak tersendat.
Data Perum Bulog: penyaluran beras SPHP melalui koperasi masih bertahap
Perum Bulog memaparkan data yang memperlihatkan proses penyaluran beras SPHP melalui jaringan KDKMP. Per 13 Oktober 2026, sebanyak 1.985 koperasi masuk dalam cakupan pelayanan beras SPHP. Dari jumlah tersebut, 736 koperasi telah mendapatkan pelayanan, sementara 1.249 lainnya masih dalam proses pelayanan.
Bulog juga mencatat total pesanan pembelian beras SPHP melalui jaringan koperasi mencapai 624 ton. Untuk 107 titik KDKMP, pesanan tercatat 53,5 ton, dengan target penyelesaian pelayanan pada 14 Oktober 2026. Angka-angka ini menunjukkan bahwa mekanisme penyaluran sudah berjalan di sejumlah titik, tetapi masih ada layanan yang belum selesai pada sebagian koperasi.
Data tersebut tidak otomatis berarti koperasi yang belum menerima beras SPHP tidak beroperasi. Cakupan yang disebut khusus berkaitan dengan pelayanan beras SPHP, sehingga koperasi bisa saja menjalankan aktivitas lain sesuai kesiapan yang dimiliki.
Ukuran keberhasilan KDKMP, dampak ke warga dan kesinambungan layanan
Program KDKMP diarahkan untuk mendukung distribusi kebutuhan pokok dan barang bersubsidi di tingkat desa maupun kelurahan. Karena itu, keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah koperasi yang sudah memiliki bangunan atau inventaris. Pemerintah perlu memastikan pengelolaan berjalan, pasokan konsisten, dan pelayanan benar-benar dimanfaatkan masyarakat setempat.
Dalam peninjauan KDKMP di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 13 Oktober 2026, Zulhas menekankan pentingnya manfaat yang dirasakan warga. Penekanan ini relevan mengingat target pemenuhan 8.000 koperasi pada akhir Oktober, sebab capaian logistik harus berujung pada layanan yang nyata.
Delapan hari pemantauan dipakai untuk memetakan persoalan secara lebih konkret, termasuk kebutuhan stok, sarana distribusi, serta kelengkapan pengelolaan. Hasilnya menjadi dasar pekerjaan lanjutan agar pemenuhan barang tidak berhenti sebagai capaian administratif, melainkan benar-benar menegaskan bahwa koperasi yang diprioritaskan mampu menjalankan kegiatan usaha dan melayani kebutuhan masyarakat.