Gempa susulan Flores M7,7: BMKG perkirakan stabil 2-3 pekan ke depan

Abdul Halim
19 Agu 2026 02:41
Peristiwa 0 31
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Gempa susulan masih menyertai wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 mengguncang pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Hingga 19 Agustus 2026 pagi, aktivitas seismik tercatat masih tinggi dan kekuatannya bervariasi, dengan sejumlah gempa susulan mencapai magnitudo 6,2.

BMKG menegaskan pola penurunan kekuatan gempa belum terlihat jelas. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyasmata, menyampaikan bahwa grafik peluruhan masih fluktuatif, sehingga masyarakat perlu tetap waspada terhadap kemungkinan guncangan susulan dalam beberapa waktu ke depan. Untuk itu, BMKG memperkirakan rangkaian aktivitas ini mulai menuju kondisi yang lebih stabil dalam kisaran dua sampai tiga pekan.

Ribuan gempa susulan tercatat, kekuatan bervariasi di Flores

Berdasarkan pembaruan data BMKG hingga 19 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB atau 06.00 WITA, jumlah gempa susulan pascagempa utama M7,7 mencapai 2.768 kejadian. Dari total tersebut, gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2, sedangkan gempa terkecil berada di magnitudo 1,1.

BMKG juga mencatat ada 24 gempa susulan dengan magnitudo di atas 5. Di sisi lain, 81 kejadian dilaporkan dirasakan oleh masyarakat. Angka-angka ini menunjukkan bahwa meski gempa utama sudah terjadi, proses pelepasan energi di area terdampak belum selesai sepenuhnya, sehingga getaran masih mungkin muncul dalam rentang waktu yang beragam.

Pola peluruhan belum jelas, BMKG sebut aktivitas masih fluktuatif

Meski jumlah gempa susulan terus bertambah dari hari ke hari, BMKG menyoroti bahwa aktivitas kegempaan di Flores masih bersifat fluktuatif. Arief Tyasmata menjelaskan bahwa dari grafik peluruhan, penurunan kekuatan gempa belum menunjukkan pola yang konsisten atau mudah diprediksi.

Artinya, penurunan tidak berjalan mulus dari hari ke hari. Ada fase ketika aktivitas relatif lebih tenang, namun kemudian bisa meningkat lagi. Kondisi seperti ini membuat peringatan untuk tetap siap menghadapi kemungkinan gempa susulan menjadi relevan, bukan sekadar formalitas.

BMKG akan terus memantau perkembangan aktivitas seismik di Flores dan sekitarnya untuk melihat apakah pola fluktuasi mulai mengarah pada penurunan yang lebih stabil.

Estimasi stabil 2-3 pekan, namun gempa tidak dipastikan berhenti

Dalam penilaian BMKG, rangkaian gempa susulan diperkirakan secara bertahap menuju kondisi yang lebih stabil. Arief menyebut estimasinya berada pada kisaran dua sampai tiga minggu ke depan, sehingga masyarakat dapat mengantisipasi perubahan kondisi seismik dalam periode tersebut.

Namun, estimasi stabil tidak berarti gempa susulan akan berhenti sepenuhnya setelah dua atau tiga pekan. BMKG tetap perlu melihat data lanjutan untuk memastikan apakah aktivitas seismik benar-benar melandai dan membentuk pola yang lebih jelas.

Ke depan, kewaspadaan tetap diperlukan karena sifat gempa susulan memang dapat menampilkan variasi magnitudo dan frekuensi, tergantung dinamika sistem sesar dan pelepasan energi di bawah permukaan.

Warga diminta tidak panik dan menilai keamanan bangunan

BMKG mengimbau warga di wilayah terdampak untuk tidak panik, tetapi meningkatkan kewaspadaan. Perhatian utama diarahkan pada kondisi bangunan, terutama rumah atau fasilitas umum yang sebelumnya mengalami kerusakan saat gempa utama.

Bangunan yang retak atau mengalami kerusakan disarankan tidak digunakan sebelum dipastikan aman. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko apabila terjadi guncangan susulan. Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk menunda penggunaan bangunan yang belum jelas keamanannya bisa menjadi faktor penentu keselamatan.

Selain itu, warga juga diminta lebih selektif terhadap informasi yang beredar. Informasi yang mengklaim bisa menentukan secara pasti kapan gempa berikutnya terjadi patut diwaspadai karena tidak sejalan dengan pendekatan pemantauan resmi.

Ikuti informasi resmi, perkuat kesiapsiagaan menghadapi guncangan susulan

BMKG menekankan agar informasi mengenai aktivitas gempa sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi BMKG dan pemerintah daerah. Dengan cara ini, warga dapat mengikuti perkembangan parameter seismik yang diperbarui secara berkala, termasuk perubahan jumlah kejadian dan magnitudo gempa susulan.

Praktik kesiapsiagaan juga perlu diterjemahkan dalam tindakan sederhana di lingkungan tempat tinggal, misalnya memastikan area berkumpul, menyiapkan perlengkapan darurat, serta memperbarui pengetahuan keluarga mengenai langkah aman saat getaran kembali terjadi.

Dengan aktivitas seismik yang masih tercatat ribuan kali dan pola peluruhan yang belum terlihat jelas, kewaspadaan bukan berarti hidup dalam ketakutan, melainkan memastikan keputusan sehari-hari tetap mengutamakan keselamatan.

x
x