Kebiasaan sehari-hari pemicu kuku mudah patah, rapuh, dan terkelupas

Abdul Halim
1 Nov 2026 12:44
Kesehatan 0 1
4 menit membaca

Infopantulan.com – Kuku yang mudah patah, terkelupas, atau terasa rapuh biasanya bukan masalah yang muncul mendadak. American Academy of Dermatology (AAD) menyoroti bahwa kondisi ini kerap berkaitan dengan paparan air yang terlalu sering, penggunaan bahan kimia, serta kebiasaan merawat kuku yang tidak tepat. Dalam banyak kasus, kuku terlihat makin rapuh karena rutinitas harian berulang memberi tekanan dan mengubah kelembapan alami lempeng kuku.

Masalahnya sering datang dari hal yang terasa sepele: mencuci piring atau pakaian tanpa perlindungan, membersihkan rumah dengan deterjen, mengorek atau membuka benda memakai ujung kuku, hingga menggigit atau menarik bagian kuku yang terkelupas. AAD juga menekankan bahwa perawatan yang berlebihan, seperti mengikir terlalu agresif, dapat membuat kuku makin kering dan mudah terbelah. Karena itu, pencegahan biasanya berfokus pada pengurangan pemicu dan perbaikan cara perawatan, bukan hanya menutupi tampilan kuku.

Kebiasaan yang membuat kuku cepat patah dan terkelupas

Salah satu pemicu yang paling sering luput adalah rutinitas yang membuat tangan berulang kali basah. Saat mencuci piring, mencuci pakaian, atau membersihkan rumah, kuku terkena air dan sabun dalam waktu yang cukup sering. AAD menjelaskan bahwa siklus basah dan kering yang berulang dapat melemahkan kuku, karena lempeng kuku mengalami perubahan kondisi secara terus-menerus. Dampaknya bisa terlihat sebagai kuku yang tampak kering, mudah retak di bagian ujung, hingga terkelupas.

Langkah yang disarankan cukup praktis, yaitu memakai sarung tangan saat melakukan pekerjaan rumah yang melibatkan air. Dengan begitu, paparan air dan bahan pembersih dapat ditekan, sehingga kuku tidak terus-menerus mengalami “kejut” perubahan kelembapan. Untuk banyak orang, kebiasaan ini terasa sederhana, tetapi efeknya biasanya terasa karena perlindungan terjadi setiap kali aktivitas basah dilakukan.

Selain faktor air, cara menggunakan kuku sebagai alat juga menjadi masalah besar. AAD menyoroti kebiasaan membuka kaleng, mengorek label, atau mencungkil benda dengan ujung kuku. Tindakan tersebut memberi tekanan langsung ke lempeng kuku, yang dapat memicu retak, terkelupas, hingga kuku terangkat dari dasarnya. Jika pekerjaan memang membutuhkan tenaga atau ujung tajam, penggunaan alat yang sesuai akan mengurangi beban pada kuku.

Kebiasaan lain yang perlu dihindari adalah menggigit kuku atau menarik bagian kuku yang terkelupas. AAD menilai tindakan itu merusak lapisan pelindung kuku sehingga ujung kuku menjadi tidak rata. Pada saat yang sama, tindakan tersebut juga bisa melukai kulit di sekitar kuku. Luka kecil di area tersebut meningkatkan risiko infeksi, sehingga masalah yang awalnya tampak kosmetik bisa berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.

Perawatan kuku yang keliru: mengikir berlebihan dan produk yang terus dipakai

Kerapuhan kuku tidak selalu datang dari aktivitas harian. Perawatan yang terlalu agresif juga bisa memperparah kondisi. AAD menekankan bahwa menggosok atau mengikir bagian atas kuku secara berlebihan dapat membuat lempeng kuku semakin tipis. Jika tujuan hanya merapikan bentuk, penggunaan kikir sebaiknya dilakukan dengan lembut, terutama pada tepi kuku, bukan mengikis permukaan lempeng. Ketika ketebalan kuku berubah tanpa kontrol, kuku menjadi lebih mudah patah saat mendapat tekanan ringan.

Penggunaan produk seperti kuku palsu atau gel yang dilakukan terus-menerus juga perlu ditata ulang. AAD menyebutkan bahwa proses pemasangan dan pelepasan sering melibatkan pengikiran serta bahan tertentu yang berpotensi membuat kuku alami menjadi tipis, kering, dan rapuh. Memberi jeda dari pemakaian produk tersebut memberi waktu bagi kuku untuk pulih dan kembali lebih stabil, terutama bagi mereka yang sudah merasakan tanda kerapuhan.

Faktor kelembapan juga tidak boleh diabaikan. AAD mengaitkan kuku yang sering terkena air dan sabun dengan kondisi yang makin kering bila tidak dirawat dengan tepat. Mengoleskan krim tangan atau pelembap ke kuku dan area kutikula secara rutin membantu menjaga kelembapan, sehingga ujung kuku tidak mudah terbelah. Kebiasaan ini juga membantu memperbaiki tekstur kuku yang tampak kasar atau bersisik.

Jaga kutikula, dan kenali tanda kapan harus periksa

Kutikula, yaitu bagian kulit di sekitar pangkal kuku, berperan melindungi area pertumbuhan kuku. AAD menilai memotong atau mendorong kutikula terlalu agresif dapat memicu iritasi dan meningkatkan risiko infeksi. Karena itu, perawatan kutikula sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang hati-hati, tidak memaksa area tersebut tampak “bersih” dalam waktu singkat.

Walau perawatan rumahan bisa membantu pada kasus kerapuhan ringan, ada kondisi yang perlu evaluasi lebih lanjut. AAD menyarankan konsultasi ke dokter kulit bila kuku terus-menerus rapuh, berubah warna atau bentuk, terasa nyeri, atau bahkan terlepas. Perubahan seperti ini bisa berkaitan dengan infeksi atau kondisi kesehatan tertentu, sehingga penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan perawatan kosmetik.

Dengan memahami pemicu yang sering terjadi, mulai dari paparan air dan bahan kimia hingga kebiasaan menggunakan kuku sebagai alat, Anda bisa menata ulang rutinitas perawatan secara lebih aman. Fokus utamanya adalah mengurangi tekanan pada lempeng kuku, menjaga kelembapan, serta memberi ruang pemulihan bagi kuku yang sudah terlanjur kering atau tipis.

x
x