CCTV AI MBG 2.0 diawasi pusat, BGN targetkan 5.000-10.000 dapur sampai 2026

Abdul Halim
30 Okt 2026 04:38
Berita 0 1
6 menit membaca

Jakarta, Infopantulan.com – Badan Gizi Nasional (BGN) memaparkan transformasi Makan Bergizi Gratis (MBG) 2.0 yang menempatkan CCTV di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar rekaman dapat dianalisis dengan kecerdasan buatan (AI). Rencana ini disampaikan Kepala BGN Sudaryono dalam agenda refleksi 100 hari kepemimpinannya di Usmar Ismail Hall, Jakarta, Kamis 29 Oktober 2026, dengan target menghubungkan 5.000 sampai 10.000 dapur dari total 26.300 dapur sampai akhir 2026. Pemerintah menyebut uji coba CCTV terintegrasi AI sudah dilakukan di sekitar 70 dapur, sementara publik ramai menyoroti kesiapan penerapan skala besar dan detail materi presentasi.

Dalam pemaparannya, Sudaryono menjelaskan bagaimana CCTV yang sudah terpasang di dapur akan dihubungkan ke sistem pemantauan pusat. Rekaman kamera kemudian dianalisis menggunakan teknologi AI untuk membantu memeriksa kepatuhan pekerja terhadap standar operasional prosedur (SOP). Fokus pengawasan mencakup perilaku yang dianggap tidak sesuai prosedur, seperti pekerja tidak memakai sarung tangan, serta kebiasaan menaruh dan memotong bahan makanan di lantai, yang menurut BGN dapat “ter-pop up” untuk dicegah sebelum bahan olahan berubah menjadi makanan.

MBG 2.0: CCTV di dapur terhubung pusat, AI bantu cek kepatuhan SOP

Gagasan CCTV AI pada program MBG 2.0 berangkat dari kebutuhan memastikan proses dapur berjalan sesuai SOP. BGN menyusun mekanisme pengawasan yang tidak hanya mengandalkan kontrol manual, tetapi juga memanfaatkan analitik dari AI atas rekaman CCTV. Dengan pendekatan ini, sistem diharapkan dapat memberi peringatan ketika aktivitas pekerja terindikasi menyimpang dari standar yang ditetapkan.

Sudaryono menyebut contoh jenis pelanggaran yang ingin dideteksi. Ia menyinggung situasi ketika pekerja menaruh bahan di lantai, tidak menggunakan sarung tangan, hingga kebiasaan “nyacah kol di lantai”, lalu menyatakan bahwa temuan itu akan muncul di sistem sehingga bisa dicegah sebelum bahan makanan yang diolah menjadi makanan. Pernyataan tersebut menegaskan tujuan utama AI bukan sekadar merekam, melainkan membantu deteksi dini dan intervensi sebelum proses berujung pada produk siap saji.

“Sehingga dia naruh, naruh bahannya di lantai, dia tidak pakai sarung tangan, dia nyacah kol di lantai dan lain sebagainya, itu ter-pop up, kemudian kita bisa cegah sebelum bahan makanan yang dia olah itu jadi makanan,” kata Sudaryono.

Rancangan ini juga menunjukkan arah penguatan tata kelola dapur melalui standardisasi. Jika SOP yang sama diterapkan di banyak dapur SPPG, sistem pemantauan terpusat berpotensi menjadi alat konsistensi, terutama ketika jumlah lokasi operasional tersebar luas dan pengawasan langsung membutuhkan sumber daya besar.

Target konektivitas sampai akhir 2026: 5.000 hingga 10.000 dapur dari 26.300

BGN menyampaikan bahwa uji coba CCTV terintegrasi AI telah dilakukan di sekitar 70 dapur. Dari total 26.300 dapur SPPG yang disebut menjadi basis program, pemerintah menargetkan 5.000 sampai 10.000 dapur dapat terhubung dengan sistem pemantauan terpusat sampai akhir 2026. Angka ini berarti cakupan konektivitas yang dituju berada pada kisaran kira-kira 19 persen hingga 38 persen dari total dapur, dengan fase implementasi bertahap.

Target tersebut penting untuk dibaca sebagai ukuran skala transisi, bukan langsung penggantian seluruh mekanisme pengawasan. Dengan rentang 5.000 sampai 10.000, BGN tampaknya menempatkan prioritas pada dapur yang lebih siap teknis atau lebih memungkinkan untuk ditingkatkan konektivitas dan kualitas operasionalnya. Namun, publik biasanya akan menilai apakah penambahan jumlah dapur yang terhubung bisa berjalan sebanding dengan kesiapan infrastruktur, pelatihan petugas, dan kapasitas tim pemantauan di pusat.

Di sisi lain, uji coba di sekitar 70 dapur memberi petunjuk bahwa sistem sudah melewati tahap awal. Meski demikian, ukuran “sekitar” menunjukkan masih ada ruang variasi pada jumlah titik uji yang dilakukan, sehingga evaluasi performa AI dan efektivitas deteksi pelanggaran pada skala berbeda menjadi bagian yang akan menentukan kelanjutan ekspansi.

Reaksi warganet: kekhawatiran beban kerja, micromanage, dan efektivitas di skala besar

Rencana pengawasan berbasis AI memicu beragam respons di media sosial. Sebagian pengguna menilai sistem berpotensi menambah kerumitan dalam pelaksanaan, terutama ketika harus menjangkau ribuan dapur. Ada pula yang membandingkan transformasi program dengan model inovasi ala “startup” yang menghadirkan pembaruan berulang, tetapi tidak selalu sesuai kebutuhan pengguna di lapangan.

Keluhan lain lebih spesifik pada aspek operasional. Warganet menyoroti kemungkinan petugas dapur harus terus berhadapan dengan pemantauan CCTV yang terhubung pusat. Kritik semacam ini biasanya berhubungan dengan dua hal: pertama, apakah sistem akan menghasilkan terlalu banyak notifikasi yang sulit disaring, dan kedua, bagaimana alur tindak lanjut ketika AI mendeteksi indikasi pelanggaran. Jika proses tindak lanjut tidak jelas, potensi beban administrasi dan tekanan kerja bisa meningkat.

Selain itu, ada komentar yang menilai cara presentasi teknologi kadang lebih menonjolkan kesan “canggih” ketimbang manfaat praktisnya. Penilaian seperti ini umumnya muncul ketika publik melihat jarak antara rencana teknologi dan pengalaman kerja sehari-hari di dapur. Dalam konteks MBG 2.0, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah AI benar-benar memperbaiki kepatuhan SOP secara terukur, atau justru menambah ritme kerja yang membuat petugas merasa diawasi secara berlebihan.

Logo Garuda BGN disorot, pita Bhinneka Tunggal Ika dinilai tidak jelas

Selain isu CCTV berbasis AI, materi presentasi MBG 2.0 juga mendapat perhatian karena tampilan logo Garuda BGN yang beredar. Sorotan warganet tertuju pada bagian pita yang seharusnya memuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika, namun dalam gambar yang dibahas justru menampilkan tulisan yang dinilai tidak jelas dan sulit dibaca.

Karena logo Garuda merupakan identitas yang melekat dengan simbol negara, kekeliruan visual semacam ini mudah berubah menjadi bahan sindiran. Publik mempertanyakan ketelitian penggunaan materi grafis dalam dokumen resmi, terutama ketika isu yang sama sedang membahas penggunaan AI untuk pengawasan dapur. Kritik yang muncul cenderung mengarah pada konsistensi antara penggunaan teknologi dan kualitas pemeriksaan detail yang seharusnya menjadi standar dalam penyusunan materi institusi.

Warganet juga mempertanyakan alasan penggunaan AI untuk menampilkan logo lembaga pemerintah jika seharusnya tersedia berkas desain asli. Dalam komentar yang beredar, ada kekhawatiran bahwa materi visual yang dimasukkan ke presentasi tidak melalui proses pengecekan ulang, sehingga hasilnya tampak seperti keluaran yang tidak siap pakai untuk kebutuhan identitas institusi.

Makna bagi pembaca: pengawasan AI dan kualitas eksekusi di dapur SPPG

Bagi pembaca yang mengikuti program MBG, rencana CCTV AI dan target konektivitas sampai akhir 2026 menjadi sinyal bahwa pengawasan ingin dibuat lebih terstandar dan terpusat. Jika sistem bekerja sesuai tujuan, deteksi dini terhadap pelanggaran SOP dapat membantu menjaga kualitas proses pengolahan pangan, terutama pada aspek kebersihan kerja seperti penggunaan sarung tangan dan penanganan bahan.

Namun, respons publik menunjukkan ada kebutuhan informasi lanjutan yang belum tampak dari pemaparan tersebut. Pertanyaan yang biasanya muncul adalah bagaimana sistem mengurangi notifikasi yang tidak relevan, siapa yang menindaklanjuti temuan dari pusat, dan sejauh mana pelaksanaan di dapur benar-benar berubah setelah AI terhubung. Pada saat yang sama, sorotan terhadap logo dalam materi presentasi mengingatkan bahwa kredibilitas program tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang diperkenalkan, tetapi juga ketelitian eksekusi pada detail administrasi dan komunikasi.

Dengan target 5.000 sampai 10.000 dapur yang terhubung sampai akhir 2026, fase berikutnya akan sangat menentukan apakah integrasi CCTV AI mampu berjalan stabil, diterima oleh petugas di lapangan, dan menghasilkan kepatuhan SOP yang lebih konsisten dibanding pengawasan manual semata.

x
x