google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

Dedi Mulyadi unggul elektabilitas, peluang maju Pilpres 2029 dan skenario politiknya

Abdul Halim
1 Sep 2026 12:45
4 menit membaca

Agus juga menekankan bahwa politik tidak sepenuhnya ditentukan oleh peluang suara. Ada hubungan personal, kepercayaan, perjalanan karier, serta kesesuaian komitmen yang ikut membentuk keputusan. Karena itu, ia sulit membayangkan KDM meninggalkan Prabowo hanya karena peluang elektoral sedang terbuka. Dalam logika ini, tingginya elektabilitas bisa menjadi modal, bukan selalu menjadi mandat untuk konfrontasi.

Membedakan konteks: keputusan KDM saat keluar dari Golkar tidak bisa disamakan

Agus mengingatkan agar publik tidak menyamakan situasi ketika KDM meninggalkan Golkar pada 2023 lalu bergabung dengan Gerindra. Keputusan tersebut, menurutnya, berada dalam konteks yang berbeda dengan situasi KDM saat ini yang telah terjalin dalam hubungan politik dengan Prabowo. Gerindra menjadi “rumah” yang mengantarkan KDM pada fase penting karier politiknya, termasuk kemenangan sebagai Gubernur Jawa Barat.

Dengan kata lain, perpindahan partai pada satu periode tidak otomatis berarti pola yang sama akan terjadi saat peluang nasional terbuka. Jika kepercayaan dan komitmen dibangun dalam perjalanan politik bersama, maka skenario KDM meninggalkan Gerindra lalu maju sebagai penantang Prabowo tetap mungkin secara teori, tetapi belum tentu menjadi pilihan paling masuk akal secara strategi dan nilai.

Skenario lebih realistis: KDM menunggu, bukan menantang

Menurut Agus, ada skenario yang justru lebih menarik dan mungkin lebih sesuai dengan peta hubungan yang sudah terbentuk. KDM tidak harus mengalahkan Prabowo untuk membuka jalan menuju kursi presiden. Jika Prabowo kembali maju pada 2029, KDM bisa tetap mendukungnya, sambil menempatkan diri sebagai bagian dari kesinambungan estafet kepemimpinan.

Namun, bila Prabowo memutuskan tidak maju, situasinya berubah total. Dalam kondisi itu, KDM dapat menjadi salah satu figur yang paling siap menerima peran estafet politik. Agus menilai restu Prabowo akan jauh lebih bernilai dibanding upaya membangun kendaraan politik dari nol atau harus berhadapan langsung dengan figur pemimpin partai yang selama ini menjadi penopang perjalanan politik KDM.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x