google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

Kisah Suci Andriani, Warga Sentul City yang Rangkul Lebih dari 300 UMKM untuk Tumbuh Bersama

Nelly Sipayung
31 Agu 2026 00:38
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Di tengah geliat kehidupan modern Sentul City, semangat membangun ekonomi dari komunitas terus tumbuh. Salah satunya digerakkan oleh Suci Andriani, seorang perempuan yang tidak hanya menjalankan usaha, tetapi juga membuka ruang bagi ratusan pelaku UMKM untuk berkembang bersama.

Melalui Harmony Community dan Sentul Marketplace, Suci mencoba mempertemukan warga, komunitas, serta para pelaku usaha kecil dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

“Kalau Sentul Marketplace itu lebih kepada UMKM yang berjualan berbagai produk, mulai dari makanan, buah-buahan sampai kebutuhan sehari-hari. Kami mencoba merangkul UMKM yang ada di Sentul City dan sekitarnya,” ujar Suci.

Saat ditemui dalam sebuah kegiatan bazar, Suci bersama komunitasnya turut memasarkan berbagai produk lokal, salah satunya tas buatan pengrajin Bogor.
Produk yang dijual memiliki beragam model dan fungsi. Ada tas untuk bekerja dan membawa laptop, tas untuk bepergian, hingga model yang lebih sederhana dan unik untuk kebutuhan sehari-hari maupun menghadiri acara.

Kisah Suci Andriani, Warga Sentul City yang Rangkul Lebih dari 300 UMKM untuk Tumbuh Bersama

Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai dari sekitar Rp200 ribuan hingga Rp400 ribuan, tergantung ukuran dan model.
Menurut Suci, tas berukuran sedang dan model simpel justru menjadi salah satu produk yang cukup diminati.

“Yang paling diminati sebenarnya yang sedang-sedang dan simpel. Banyak ibu-ibu yang suka model seperti itu karena praktis untuk dipakai sehari-hari,” katanya.

*Produk Lokal Bogor yang Bertumbuh Lewat Bazar*

Berbeda dengan toko konvensional yang memiliki gerai permanen, Suci dan jaringan UMKM yang dibangunnya lebih banyak bergerak melalui platform digital dan kegiatan bazar.
Bazar menjadi ruang penting bagi produk lokal untuk bertemu langsung dengan calon pembeli.

“Kalau offline, kami lebih banyak ikut bazar-bazar. Kalau online, tentu sekarang juga semakin mudah karena memang eranya digital,” ujarnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x