
INFOPANTULAN.COM – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, hingga Minggu, 13 September 2026 sore belum sepenuhnya padam. Petugas masih menangani sembilan titik hotspot yang terus dipantau di area TPA.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, menyebutkan bahwa hingga sore hari masih ada api kecil yang muncul di beberapa titik, sehingga proses pemadaman dan pendinginan belum bisa dihentikan. Menurutnya, sembilan titik panas itu berada di dua zona TPA yang dikelola Pemerintah Kota Bogor.
Yudi menjelaskan bahwa pada pemantauan terbaru, petugas menemukan sekitar sembilan titik api kecil yang masih ditangani. Kondisi lapangan menunjukkan bahwa meski sebagian area terlihat mereda, masih ada sumber panas yang belum padam total, sehingga petugas gabungan tetap melakukan penanganan intensif.
Di lokasi kejadian, petugas juga melakukan pendinginan untuk mencegah titik yang sempat padam kembali menyala. Fokus penanganan diarahkan pada titik-titik api yang tersisa, sekaligus memastikan tidak ada bara yang berpotensi muncul kembali setelah pemadaman.
Yudi menyampaikan bahwa area yang masih menunjukkan asap dan beberapa titik api diperkirakan sekitar 1,5 hektare. Rinciannya, sekitar 1,4 hektare berada di zona utara, sedangkan sisanya sekitar 0,1 hektare berada di zona timur.
Pembagian zona ini penting untuk pengaturan kerja tim di lapangan. Dengan adanya dua area pengelolaan, petugas dapat menempatkan personel dan peralatan sesuai titik rawan, termasuk mengatur jalur akses agar proses pemadaman dan pendinginan berjalan efektif.
Insiden kebakaran di TPA Galuga sebelumnya terjadi pada Senin, 7 September 2026. Api bermula dari lahan milik warga, lalu merembet hingga mencapai area TPA Galuga.
Situasi seperti ini kerap membuat penanganan menjadi lebih kompleks, karena sumber api tidak hanya berada di dalam area TPA, tetapi juga terkait kondisi lahan di sekitar. Rempatan api lalu memicu munculnya titik-titik panas baru yang kemudian memerlukan penanganan berulang.
Dalam upaya pemadaman, penanganan tidak hanya mengandalkan jalur darat. Petugas sempat menggunakan helikopter untuk water bombing guna menjangkau area yang sulit dijangkau secara langsung dari permukaan.
Yudi menuturkan bahwa api sempat padam, namun kemudian kembali muncul titik api baru. Bahkan, pada beberapa momen api sempat membesar, sehingga petugas perlu menguatkan strategi penanganan, termasuk memastikan proses pendinginan dilakukan sampai benar-benar aman.
Hingga sore 13 September 2026, tim masih bekerja dengan prioritas memadamkan titik api yang tersisa. Di saat yang sama, pendinginan dilakukan untuk menekan kemungkinan bara menyala kembali, terutama pada area yang menyimpan panas dalam waktu tertentu.
Dengan masih adanya sembilan hotspot, penanganan diperkirakan tetap membutuhkan koordinasi lintas pihak dan pemantauan berkala. Petugas juga terus menilai perubahan kondisi di lapangan agar proses pemadaman bisa berlanjut hingga seluruh titik panas benar-benar teratasi.

