Lisa BLACKPINK rilis EP Press Play 23 Oktober 2026, warganet protes rekomendasi YouTube

Abdul Halim
4 Nov 2026 02:30
Gaya Hidup 0 0 View
5 menit membaca

Infopantulan.com – Lisa BLACKPINK merilis EP solo bertajuk Press Play pada 23 Oktober 2026. Rilis yang dipublikasikan melalui label LLOUD bekerja sama dengan RCA Records itu memuat enam lagu, termasuk Tarantino. Di saat yang sama, sejumlah pengguna YouTube mengeluhkan video Lisa terus muncul di rekomendasi mereka meski tidak selalu mengikuti konten tersebut, memicu perdebatan publik soal cara kerja sistem rekomendasi.

Protes itu muncul setelah EP dan materi terkait, khususnya lagu SaWaDiKa, lebih dulu dikenalkan pada 4 September 2026. Keluhan berlanjut hingga ada diskusi yang menyinggung kemungkinan promosi berbayar, namun pihak YouTube menegaskan rekomendasi dibentuk oleh banyak faktor seperti riwayat tontonan, interaksi pengguna, serta aktivitas pencarian. Perdebatan ini berjalan bersamaan dengan catatan performa video, di mana SaWaDiKa mencatat lebih dari 100 juta penayangan dalam sekitar 52 jam setelah dirilis.

EP Press Play dirilis 23 Oktober 2026, memuat enam lagu

Press Play merupakan EP solo Lisa yang berisi enam lagu, yaitu SaWaDiKa, V12, Cobra, Tarantino, Cut U Off, dan Sweat. Perilisan ini juga menampilkan Tarantino sebagai salah satu fokus utama, lengkap dengan video musik bernuansa aksi yang disebut terinspirasi gaya sinematik khas sutradara Quentin Tarantino. Pilihan tema tersebut memperlihatkan arah kreatif yang ingin menonjol, bukan hanya lewat lirik atau aransemen, tetapi juga lewat visual yang lebih “bercerita”.

Namun, respons publik tidak tunggal. Sebagian penggemar menyambut rilis tersebut, sementara kelompok lain menilai pendekatan lirik dan persona di materi baru masih terasa mengulang pola yang pernah tampil sebelumnya. Kritik seperti ini umumnya muncul ketika audiens membandingkan “identitas” yang dibawa artis dari satu rilis ke rilis berikutnya, terutama pada lagu-lagu yang memiliki struktur hook atau reff yang kuat dan mudah dikenali.

Kritik kualitas dan repetisi reff SaWaDiKa memantik diskusi

Sebelum EP lengkap keluar, Lisa lebih dulu memperkenalkan SaWaDiKa pada 4 September 2026. Lagu ini menggunakan sapaan khas Thailand dan menampilkan karakter rap serta hip-hop yang menjadi ciri ketika Lisa tampil sebagai penyanyi solo. Di ruang diskusi komunitas musik, sebagian pendengar menyoroti bagian reff yang dianggap terlalu repetitif, karena pengulangan melodi dan lirik yang sama.

Menariknya, tidak semua penilaian negatif. Ada pula pendengar yang justru menemukan daya tarik pada produksi musik, termasuk bagian pre-chorus. Perbedaan respons seperti ini biasanya terjadi karena preferensi pendengar terhadap gaya repetisi dalam pop-rap atau dance-pop berbeda-beda. Bagi sebagian orang, repetisi membuat lagu cepat melekat, sementara yang lain merasa repetisi mengurangi rasa variasi setelah beberapa kali dengar.

Keluhan YouTube: video Lisa berulang di rekomendasi

Di luar penilaian terhadap materi lagu, keluhan yang lebih “praktis” datang dari pengalaman pengguna YouTube. Seorang pengguna yang mengaku tinggal di Valencia, Spanyol mempertanyakan mengapa video Lisa terus muncul di rekomendasi mereka. Ia menyebut jarang menonton konten BLACKPINK, tetapi lebih sering mengikuti konten dari BTS, sehingga munculnya video Lisa terasa tidak sesuai dengan kebiasaan menonton yang ia pahami.

Keluhan serupa kemudian memicu perdebatan. Sebagian warganet menduga adanya promosi melalui iklan berbayar untuk mendorong video musik tampil lebih sering. Dugaan ini mudah muncul karena algoritma rekomendasi memang dapat membuat satu jenis konten terlihat dominan di beranda, khususnya ketika pengguna pernah berinteraksi dengan video tertentu atau ketika sistem menganggap konten tersebut “mirip” dengan yang sering ditonton.

YouTube menjelaskan rekomendasi tidak otomatis berarti iklan

Menanggapi perdebatan tersebut, akun resmi TeamYouTube menjelaskan bahwa rekomendasi dibentuk oleh sejumlah faktor. YouTube menyebut riwayat tontonan, interaksi seperti suka dan tidak suka, aktivitas pengguna, serta riwayat pencarian di YouTube dan Google. Penjelasan ini menekankan bahwa rekomendasi bukan hanya soal satu video yang pernah dibuka, melainkan gabungan sinyal perilaku.

YouTube juga menegaskan bahwa kemunculan video secara berulang di halaman beranda maupun rekomendasi tidak otomatis membuktikan adanya promosi melalui iklan berbayar. Bagi pengguna yang merasa terganggu, YouTube menyarankan penggunaan fitur seperti Not Interested atau Don’t Recommend Channel untuk membatasi kemunculan konten dari kanal tertentu. Dengan cara itu, pengguna dapat “mengoreksi” sinyal preferensi di sistem.

SaWaDiKa tembus 100 juta penayangan dalam 52 jam

Di tengah pro dan kontra, performa video SaWaDiKa tetap menjadi sorotan. Lagu tersebut mencatat lebih dari 100 juta penayangan dalam waktu sekitar 52 jam setelah dirilis. Pencapaian ini disebut menjadikannya salah satu video musik dengan pertumbuhan penayangan tercepat sepanjang 2026.

Angka penayangan yang cepat biasanya menjadi indikator kuat bahwa rilis baru berhasil menarik perhatian lintas kelompok audiens. Namun, tingginya penayangan tidak selalu berarti semua orang menyukai kualitas atau konsepnya. Dalam kasus ini, perdebatan mengenai repetisi reff dan keluhan rekomendasi menunjukkan bahwa “jangkauan” dan “kepuasan” bisa bergerak dengan arah yang berbeda.

Apa arti protes rekomendasi bagi pengguna YouTube

Keluhan pengguna, seperti yang disampaikan dari Valencia, Spanyol, menggambarkan pengalaman yang mungkin dialami banyak orang saat algoritma memutuskan satu konten terlalu dominan. Bagi pengguna, itu bukan hanya soal preferensi selera musik, tetapi juga kenyamanan saat membuka beranda. Ketika video yang tidak dicari terus muncul, pengguna cenderung menganggap sistem tidak “sinkron” dengan kebiasaan menonton mereka.

Di sisi lain, penjelasan YouTube memberi gambaran bahwa pengguna memiliki kontrol melalui fitur pengaturan rekomendasi. Dengan memilih opsi ketidaktertarikan atau tidak merekomendasikan kanal tertentu, pengguna dapat membantu sistem mengurangi kemunculan konten yang dianggap mengganggu. Perdebatan warganet soal iklan berbayar tetap berjalan, tetapi penjelasan tersebut menggeser fokus dari dugaan tunggal ke mekanisme rekomendasi yang lebih kompleks.

x
x