Pemprov Jabar Batal Pinjam ke SMI, Dedi Mulyadi Optimalkan APBD 2026

Abdul Halim
19 Okt 2026 14:20
Ekonomi 0 10
4 menit membaca

Pemerintah Provinsi Jawa Barat membatalkan rencana pengajuan pinjaman kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) untuk membiayai pembangunan yang dijadwalkan berjalan pada 2026. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM, menyampaikan keputusan ini dalam konteks kebutuhan agar program pembangunan tetap berjalan meski kondisi fiskal daerah mendapat tekanan.

Langkah tersebut diambil setelah pemerintah daerah menghadapi tantangan keuangan, termasuk adanya penundaan dana bagi hasil. Dedi menegaskan, fokus Pemprov Jabar adalah mengoptimalkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang tersedia, sehingga pelaksanaan pekerjaan tetap bisa dipercepat dan target hingga tingkat penyelesaian maksimal dapat dikejar menjelang tenggat 2026.

Alasan Pemprov Jabar batal pinjaman SMI untuk 2026

Dedi Mulyadi menyatakan bahwa pembangunan tetap akan dikerjakan sesuai skala prioritas, meskipun ruang fiskal daerah tidak sepenuhnya longgar. Ia menilai, saat dana bagi hasil tertunda, pemerintah provinsi harus mengatur ulang ritme belanja dan cara menutup kebutuhan pembiayaan agar tidak menambah beban baru berupa pinjaman.

Dalam penjelasannya, Dedi menekankan prinsip percepatan pelaksanaan pekerjaan. Pemerintah daerah menargetkan agar semua pekerjaan dapat selesai dalam rentang waktu yang relatif singkat, sehingga capaian program bisa tetap berada di jalur yang direncanakan. Dengan pendekatan ini, pembiayaan proyek tidak ditumpukan pada pinjaman tambahan, melainkan diarahkan pada pengelolaan anggaran yang sudah ada.

Optimasi APBD dan opsi tunda bayar untuk kegiatan 2026

Keputusan membatalkan pinjaman ke SMI tidak berarti pembangunan berhenti, melainkan memunculkan skema manajemen pembayaran. Dedi menyebut kemungkinan penerapan tunda bayar, yakni pembayaran sejumlah kegiatan yang dikerjakan pada tahun 2026 dilakukan pada tahun berikutnya.

Skema tunda bayar diposisikan sebagai cara menjaga kesinambungan proyek tanpa harus menanggung biaya bunga utang. Dedi menilai, bagi pemerintah, opsi ini memberi ruang agar belanja tetap bisa berjalan, sementara beban bunga dari pinjaman tidak ikut membesar. Pada praktiknya, mekanisme seperti ini biasanya berkaitan dengan pengaturan jadwal pembayaran sesuai progres pekerjaan dan kesiapan administrasi.

Percepatan proyek tetap ditargetkan meski ada tekanan fiskal

Dedi menuturkan bahwa pemerintah provinsi sedang menggeber pelaksanaan pekerjaan agar target dapat tercapai hingga mendekati 100 persen. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya upaya mengunci progres fisik proyek, bukan hanya memindahkan isu pembiayaan. Pemerintah daerah, menurutnya, akan memastikan pengelolaan keuangan berlangsung dengan baik agar program tetap bergerak meski ada kendala arus kas.

Dalam situasi fiskal yang tertekan, pendekatan percepatan biasanya menuntut koordinasi ketat antara perangkat teknis, pengadaan barang dan jasa, serta mekanisme penyerapan anggaran. Ketika penundaan dana bagi hasil terjadi, pemerintah daerah perlu menata ulang prioritas dan melakukan penjadwalan ulang kegiatan agar proyek utama tidak tersendat.

Dampak ke pengguna jalan: kemacetan saat perbaikan ruas

Di luar isu pembiayaan, Dedi juga menyinggung dampak langsung yang dirasakan masyarakat, khususnya wisatawan yang berkunjung pada akhir pekan. Ia meminta maaf apabila terjadi kemacetan di sejumlah ruas jalan, yang berkaitan dengan pekerjaan perbaikan jalan.

Perbaikan tersebut meliputi pengaspalan hotmix dan betonisasi. Aktivitas konstruksi di badan jalan kerap memengaruhi arus lalu lintas, terutama pada jam padat atau di koridor yang menjadi rute utama. Dengan adanya percepatan pekerjaan, gangguan mobilitas sementara dapat meningkat, meski ditargetkan selesai sesuai jadwal pekerjaan.

Dukungan DPRD dan arahan Kemendagri untuk pengelolaan anggaran

Dedi menyampaikan apresiasi kepada DPRD Jawa Barat atas dukungan terhadap program pembangunan serta pengelolaan anggaran agar belanja pemerintah lebih tepat sasaran. Dukungan legislatif dalam proses pembahasan kebijakan anggaran dan pengawasan pelaksanaan program menjadi faktor penting, terutama ketika pemerintah harus menyesuaikan skema pembiayaan.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Dalam Negeri atas arahan dan pendampingan dalam pengelolaan keuangan daerah. Dalam kerangka pemerintahan, pendampingan semacam ini biasanya relevan untuk memastikan kebijakan penganggaran dan pelaksanaan belanja mematuhi ketentuan yang berlaku, termasuk saat pemerintah mempertimbangkan skema seperti tunda bayar.

Peran pajak kendaraan bermotor bagi keberdayaan Pemprov Jabar

Di bagian akhir pernyataannya, Dedi menekankan peran masyarakat melalui pembayaran pajak kendaraan bermotor. Ia menyebut bahwa tanpa kepatuhan pembayaran pajak, Pemprov Jabar akan kesulitan menjalankan program-program pembangunan yang membutuhkan dukungan penerimaan daerah.

Penekanan pada pajak kendaraan bermotor menggambarkan bagaimana sumber pendapatan daerah memengaruhi kemampuan pemerintah provinsi menjaga keberlangsungan belanja. Ketika penerimaan berjalan, pemerintah daerah memiliki ruang lebih baik untuk mengatur prioritas proyek, menutup kebutuhan operasional, dan menata jadwal pembayaran kegiatan agar tetap sesuai target.

x
x