Pencurian perangkat sekolah Bogor: 7 laptop dan komputer hilang di Rumpin

Abdul Halim
22 Okt 2026 12:46
3 menit membaca

Sejumlah peralatan elektronik milik SDN Leuwiranji 02 di Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, dilaporkan hilang akibat dugaan pencurian pada Kamis, 22 Oktober 2026 pagi. Peristiwa ini terungkap sekitar pukul 05.30 WIB, ketika penjaga sekolah menemukan kondisi ruang guru tidak seperti biasanya.

Kasus pencurian tersebut melibatkan hilangnya tujuh unit laptop, tiga unit notebook, beberapa perangkat pendukung seperti printer dan sound system, serta satu set komputer yang masih berada di dalam dus. Pihak sekolah memperkirakan kerugian materiil mencapai Rp100 juta, sementara kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan saksi untuk menelusuri pelaku serta alur masuknya orang ke lingkungan sekolah.

Penemuan awal pencurian di SDN Leuwiranji 02

Kapolsek Rumpin, AKP Heri Iwan, menjelaskan bahwa kejadian bermula dari laporan penjaga sekolah bernama Badrudin. Saat hendak membersihkan ruangan, Badrudin mendapati pintu ruang guru dalam keadaan terbuka, berbeda dari kondisi sebelum jam kerja dimulai.

Ia kemudian melaporkan temuannya kepada Ulfa, guru di sekolah tersebut, serta ketua RT setempat. Pemeriksaan lanjutan dilakukan secara bersama untuk memastikan barang-barang yang berada di ruangan mengalami kehilangan. Setelah ditelusuri, ditemukan bekas congkelan pada daun jendela ruang guru, yang memperkuat dugaan bahwa pelaku masuk melalui jendela.

Barang hilang dan perkiraan kerugian sekolah

Dari hasil pemeriksaan awal, sejumlah perangkat elektronik yang berada di sekolah dinyatakan tidak ada di tempatnya. Barang yang dilaporkan hilang meliputi tujuh unit laptop, tiga unit notebook, dua unit printer, satu unit sound system, satu unit amplifier audio, serta satu unit mesin printer.

Selain itu, pihak sekolah juga melaporkan satu set komputer yang masih berada di dalam dus. Dengan komposisi kerugian tersebut, pihak sekolah memperkirakan nilai kerugian materiil mencapai Rp100 juta. Angka ini penting karena menggambarkan dampak langsung pada kegiatan belajar, terutama bila perangkat tersebut digunakan untuk administrasi dan pembelajaran berbasis teknologi.

Polisi turun, olah TKP, dan pemeriksaan saksi

Setelah kejadian dilaporkan, pihak kepolisian di tingkat desa melalui Bhabinkamtibmas Desa Sukamulya, Aiptu Asep H., mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan. Petugas Polsek Rumpin kemudian melanjutkan rangkaian proses di tempat kejadian perkara, termasuk pendokumentasian kondisi lokasi dan lingkungan sekitar.

Pelaksana tugas kepala sekolah, Ayub, membuat laporan polisi di Polsek Rumpin agar proses penanganan berjalan sesuai ketentuan. Dari sana, polisi melakukan olah TKP, meminta keterangan sejumlah saksi, dan menyelidiki kemungkinan lintasan pelaku masuk ke ruang guru, termasuk memeriksa bekas congkelan pada jendela.

Peran warga dan kewaspadaan saat jam rawan

Dalam situasi seperti ini, informasi dari warga sering menjadi petunjuk penting, terutama bila ada aktivitas mencurigakan di sekitar sekolah pada jam-jam sebelum peristiwa diketahui. Aparat kepolisian mengimbau agar masyarakat dan pengelola fasilitas pendidikan meningkatkan kewaspadaan, khususnya pada waktu yang dianggap rawan.

Imbauan tersebut relevan karena sekolah memiliki aset berharga yang umumnya tersimpan di ruang-ruang tertentu. Ketika akses masuk tidak terpantau, pelaku bisa memanfaatkan celah keamanan, termasuk kondisi pintu yang terbuka atau jendela yang memungkinkan untuk dibuka paksa. Polisi juga mengharapkan warga yang mengetahui informasi terkait kejadian untuk segera melapor guna mendukung proses penyelidikan.

Dampak kehilangan perangkat bagi kegiatan belajar

Hilangnya laptop, notebook, dan perangkat printer tidak hanya berarti kerugian finansial, tetapi juga mengganggu operasional sekolah. Perangkat-perangkat tersebut lazim digunakan untuk administrasi, penyusunan dokumen, hingga kebutuhan pembelajaran yang memanfaatkan teknologi. Ketika perangkat hilang, sekolah perlu menyesuaikan jadwal dan metode kerja, terutama pada periode awal setelah perangkat seharusnya dipakai.

Bagi warga sekitar, kasus ini juga menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa keamanan lingkungan sekolah perlu diperkuat. Di Kecamatan Rumpin, insiden seperti ini dapat memunculkan kekhawatiran baru bagi orang tua dan tenaga pendidik, sekaligus mendorong diskusi mengenai standar pengamanan, mulai dari pengawasan jam malam hingga prosedur pemeriksaan kondisi ruangan sebelum aktivitas harian dimulai.

x
x