google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

Ia menuturkan, rumah tersebut masih menyimpan berbagai benda bersejarah, mulai dari bendera pusaka tahun 1948, meja kerja, hingga meja makan yang digunakan pada masa perjuangan.
Sebagai generasi penerus, dirinya merasa memiliki tanggung jawab moral menjaga warisan sejarah tersebut, bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai bagian dari identitas Kabupaten Bogor.
“Saya diamanahkan orang tua bukan untuk mencari keuntungan. Alam ini harus dijaga agar pendopo dan sejarah Kabupaten Bogor tetap bisa dinikmati generasi sekarang maupun yang akan datang,” katanya.
Akademisi sekaligus pemerhati lingkungan, Associate Professor Dr. Yayan Sudrajat, menegaskan bahwa kelestarian hutan merupakan fondasi utama keberlangsungan kehidupan masyarakat. Hutan bukan hanya menghasilkan oksigen tetapi juga menjaga ketersediaan air bagi generasi mendatang.
Menurutnya, upaya pelestarian tidak cukup hanya melalui penanaman pohon, tetapi juga harus dibarengi dengan pemetaan kondisi lingkungan secara berkala.
“Saya kira yang penting adalah mendata berapa banyak mata air yang masih berfungsi dan berapa yang sudah beralih fungsi. Itu menjadi dasar dalam menyusun langkah konservasi ke depan,” ujarnya.
Yayan juga mendorong setiap rumah tangga memiliki tanaman obat keluarga (TOGA) sebagai bentuk ketahanan masyarakat menghadapi kondisi darurat kesehatan sekaligus memperkuat hubungan masyarakat dengan lingkungan sekitarnya.
Sementara itu, Laboratory Manager PPLI Muhammad Yusuf Firdaus menegaskan bahwa perusahaan memandang pelestarian lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap generasi mendatang.


Tidak ada komentar