Ketika Anak Muda Bogor Bercerita Lewat Layar FFKB: Dari Sampah, Desa, hingga Nilai KemanusiaanINFOPANTULAN.COM, BOGOR – Sebuah kamera bisa menjadi lebih dari sekadar alat untuk merekam gambar. Di tangan anak-anak muda Kabupaten Bogor, kamera berubah menjadi cara untuk bercerita tentang apa yang mereka lihat, rasakan, dan temukan di lingkungan sendiri.
Ada cerita tentang sampah. Ada kisah tentang kehidupan masyarakat. Ada pula pesan tentang pendidikan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Cerita-cerita itu kemudian bertemu di layar dalam Festival Film Kabupaten Bogor (FFKB) Award 2026.
Pada gelaran kedua tersebut, sebanyak 22 film karya peserta dari berbagai kecamatan ikut dipertandingkan. Mengusung tema “Edukasi untuk Negeri”, festival ini menjadi ruang bagi sineas muda untuk mengubah persoalan di sekitar mereka menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati sekaligus direnungkan.
Salah satu cerita yang berhasil mencuri perhatian datang dari Kecamatan Ciawi melalui film “Nilai Yang Tersisa”. Film tersebut meraih Juara 1 FFKB Award 2026.
Posisi kedua ditempati Kecamatan Cibinong melalui film “Patik”, sedangkan Kecamatan Cisarua meraih Juara 3 lewat “Halimun Kandel Tina Atikan”.
Namun, festival ini tidak hanya berbicara soal siapa yang menjadi juara.
Di balik setiap film, ada anak-anak muda yang belajar menyusun cerita, mengoperasikan kamera, mengarahkan pemain, mengedit gambar, hingga menemukan pesan yang ingin mereka sampaikan kepada penonton.
Sejumlah talenta pun mendapat penghargaan khusus. Aditya Nugraha dari Kecamatan Cisarua dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik. Penghargaan Cerita Terbaik diberikan kepada Melissa Erjani dari Kecamatan Tajur Halang, sementara Rizky Aditya Maulidin dari Kecamatan Citeureup meraih Aktor Terbaik.
Dari Kecamatan Cibinong, Erzan Fauzi meraih penghargaan Kameramen Terbaik. Kecamatan tersebut juga mendapatkan penghargaan Artistik Terbaik.
Sementara itu, Editor Terbaik diraih Kecamatan Ciawi. Di kategori akting perempuan, Nabila Putri dari Kecamatan Leuwiliang meraih Aktris Terbaik. Rekannya, Anisa Fadillah, mendapatkan penghargaan Peran Pembantu Wanita Terbaik.
Adapun penghargaan Peran Pembantu Pria Terbaik diberikan kepada M. Rifqi dari Kecamatan Cibungbulang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor, Ria Marlisa, mengatakan FFKB diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi talenta-talenta baru di bidang ekonomi kreatif, khususnya perfilman.
Menurutnya, film tidak hanya dapat menjadi karya seni atau tontonan. Lebih jauh, film bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan pendidikan dengan cara yang lebih dekat dengan generasi muda.
“Tujuan festival film ini untuk mendapatkan talenta-talenta sineas baru di ekonomi kreatif sektor film. Kita juga ingin memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama generasi muda melalui film,” kata Ria.
Karena itu, tema “Edukasi untuk Negeri” dipilih agar karya yang lahir dari festival tidak berhenti setelah malam penghargaan.
Pemerintah Kabupaten Bogor, kata Ria, berencana mengkolaborasikan film-film tersebut dengan sekolah-sekolah.
Dengan begitu, karya anak-anak muda Bogor dapat kembali menemui penonton baru, terutama para pelajar.
“Film-film ini bisa diputar di sekolah karena temanya ada tentang sampah, nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan,” ujarnya.
Salah satu isu yang muncul dalam karya para peserta adalah persoalan sampah. Film dari Kecamatan Ciawi yang keluar sebagai juara pertama mengangkat persoalan tersebut. Bagi Ria, pilihan tema itu menunjukkan bahwa para sineas muda mampu melihat persoalan yang berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sampah bukan hanya persoalan pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat sejak dari lingkungan terkecil.
“Permasalahan sampah itu sangat kita inginkan masyarakat bisa mengelola dari tingkat paling bawah, terutama dari generasi muda,” kata Ria.
Ia berharap pesan semacam itu bisa tumbuh bersama anak-anak dan pelajar.
Sebab, kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus disampaikan melalui bahasa yang berat. Sebuah film dengan cerita yang dekat dengan keseharian bisa menjadi pintu masuk untuk mengajak anak muda berbicara tentang persoalan di sekitarnya.
“Kalau generasi muda kita peduli sampah, mudah-mudahan Kabupaten Bogor tidak ada lagi darurat sampah,” tuturnya.
Ketua Panitia FFKB, Tb Ule Sulaiman S, mengatakan festival tahun ini merupakan penyelenggaraan yang kedua.
Dari 40 kecamatan di Kabupaten Bogor, sebanyak 22 kecamatan ambil bagian dengan menghadirkan karya masing-masing.
Jumlah tersebut, menurutnya, menjadi modal untuk terus mengembangkan festival sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi anak-anak muda yang memiliki minat di dunia perfilman.
Ule berharap FFKB dapat terus digelar setiap tahun hingga seluruh kecamatan di Kabupaten Bogor memiliki kesempatan untuk mengirimkan karya.
“Harapannya bisa digelar setiap tahun dan semua kecamatan di Kabupaten Bogor bisa ikut,” ujarnya.
Bagi para sineas muda itu, mungkin kamera yang digunakan belum selalu besar, lokasi pengambilan gambar belum tentu mewah, dan proses produksinya masih penuh keterbatasan. Namun dari situlah cerita-cerita kecil tentang Bogor lahir.
Cerita tentang lingkungan, pendidikan, kehidupan masyarakat dan nilai kemanusiaan.
Dan bisa jadi, dari satu kamera sederhana yang digunakan untuk merekam kehidupan di sekitar mereka, sedang tumbuh seorang sineas yang kelak membawa cerita Kabupaten Bogor ke layar yang jauh lebih luas.

