
Jakarta, Infopantulan.com – Mahasiswa dan elemen masyarakat sipil menggelar aksi #IndonesiaSadar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada Rabu, 28 Oktober 2026. Mereka menggunakan salam tiga jari sebagai simbol kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Aksi yang menjadi sorotan karena penggunaan gestur populer itu diorganisasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Komite SADAR (Selamatkan Daulat Rakyat).
Dalam demonstrasi tersebut, massa terlihat mengacungkan tiga jari sambil menyampaikan pesan yang merujuk pada pengalaman sosial yang mereka nilai tidak adil, termasuk “Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan”. Gerakan ini membawa sejumlah tuntutan yang mencakup persoalan lingkungan, ekonomi, pendidikan, penegakan hukum, serta demokrasi. Simbol tiga jari, yang dikenal luas dari budaya populer, dipakai untuk memperkuat identitas gerakan sekaligus menegaskan solidaritas antar-peserta.
Salam tiga jari atau three-finger salute dikenal melalui novel dan adaptasi film The Hunger Games karya Suzanne Collins. Dalam cerita berlatar distopia bernama Panem, gestur tersebut mula-mula dipahami sebagai tanda penghormatan, perpisahan, dan solidaritas yang muncul di kalangan masyarakat tertentu. Perubahan makna terjadi ketika tokoh utama menggunakan gestur itu untuk menghormati Rue, peserta Hunger Games dari Distrik 11 yang meninggal dunia, sehingga gestur yang semula bersifat sosial berubah menjadi penanda emosional dan politis.
Seiring perkembangan alur, salam tiga jari kemudian melekat pada respons kolektif masyarakat terhadap kekuasaan yang menindas. Dalam narasi itu, simbol menjadi cara warga menyatakan penolakan terhadap ketidakadilan yang dilakukan penguasa. Ketika sebuah gestur fiksi berpindah fungsi ke ruang publik nyata, ia sering membawa lapisan makna yang lebih luas daripada sekadar referensi populer, karena peserta gerakan biasanya menafsirkan ulang simbol sesuai konteks yang mereka hadapi.
Dalam sejumlah gerakan pro-demokrasi, salam tiga jari dikenal dipakai untuk menegaskan nilai kebebasan, kesetaraan, solidaritas, dan penolakan terhadap otoritarianisme. Contoh yang disebut dalam bahan mencakup demonstrasi di Thailand pada 2014 dan gerakan penolakan kudeta militer di Myanmar pada 2021. Pola penggunaannya menunjukkan bahwa simbol serupa kerap dipilih karena mudah dikenali, cepat dipahami, dan relatif kuat sebagai penanda identitas kelompok.
Pada aksi #IndonesiaSadar, penggunaan salam tiga jari dapat dibaca sebagai upaya menghadirkan narasi perlawanan yang lebih simbolik. Gestur tersebut memberi cara komunikasi nonverbal yang serentak, sehingga pesan kritik tidak hanya bergantung pada spanduk atau pengeras suara. Bagi peserta, gestur itu menjadi penanda solidaritas sekaligus ungkapan kekecewaan terhadap persoalan yang mereka soroti. Meski demikian, makna spesifik tetap bergantung pada konteks dan penjelasan kelompok penyelenggara.
Aksi berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta. Bahan menyebutkan bahwa demonstrasi ini berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, sehingga nuansa mahasiswa dan elemen masyarakat sipil terasa menonjol. Dalam kerangka itu, gerakan juga menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan aspirasi terkait arah kebijakan negara.
Menurut rincian yang tersedia, massa membawa simbol tiga jari sambil mengangkat pesan “Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan”. Frasa tersebut merujuk pada kritik yang diarahkan pada berbagai persoalan yang dinilai berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Pilihan kalimat yang ringkas dan berirama memudahkan penyampaian seruan secara kolektif, terutama saat peserta bergerak dalam kerumunan besar.
Organisasi penyelenggara yang disebut adalah BEM UI bersama Komite SADAR (Selamatkan Daulat Rakyat). Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan tuntutan yang berkaitan dengan persoalan lingkungan, ekonomi, pendidikan, penegakan hukum, serta demokrasi. Kelima tema ini penting karena saling terkait dalam cara kebijakan publik memengaruhi keseharian warga, mulai dari kualitas lingkungan hidup sampai akses pendidikan dan keadilan penegakan hukum.
Jika ditarik ke konteks gerakan, penempatan tema ekonomi, pendidikan, dan penegakan hukum biasanya menjadi cara untuk menghubungkan nilai demokrasi dengan dampak praktis. Sementara itu, isu lingkungan dapat berfungsi sebagai pengingat bahwa persoalan publik tidak hanya berbentuk kebijakan tata kelola, tetapi juga menyentuh kualitas hidup. Dengan membawa spektrum tuntutan yang luas, aksi #IndonesiaSadar berupaya membentuk narasi bahwa kritik mereka bersifat menyeluruh, bukan satu isu tunggal.
Penggunaan salam tiga jari dalam aksi #IndonesiaSadar memperlihatkan bagaimana budaya populer dapat menjadi medium penyampaian pesan politik. Simbol yang awalnya lahir dari fiksi kini dipakai dalam ruang publik untuk menyuarakan kritik terhadap kondisi politik dan kebijakan pemerintah. Pada titik ini, gestur tidak lagi dipahami sebagai adegan film semata, melainkan sebagai bahasa bersama yang mengikat peserta.
Namun, bahan juga menekankan bahwa makna spesifik simbol tersebut perlu dipahami berdasarkan konteks dan pernyataan kelompok yang menggunakan simbol. Artinya, meskipun salam tiga jari memiliki reputasi sebagai penanda perlawanan dalam beberapa gerakan pro-demokrasi, interpretasi di setiap tempat bisa memiliki penekanan yang berbeda sesuai tuntutan yang dibawa. Dalam aksi di Bundaran HI, penekanan itu tampak pada pesan kolektif dan daftar isu yang disorot.

