Cianjur, Infopantulan.com – Seekor anak macan tutul Jawa ditemukan dalam kondisi kritis di tepi Jalan Pasir Menteng, kawasan perbatasan Desa Panyindangan dan Desa Ciburial, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Satwa tersebut sempat ditolong warga, namun akhirnya mati pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Temuan satwa itu kemudian ditelusuri oleh Pemerintah Kabupaten Cianjur bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Pemeriksaan bangkai dilakukan untuk menindaklanjuti temuan, sementara pemerintah daerah merencanakan pemetaan habitat guna mendukung perlindungan satwa liar dan mencegah gangguan terhadap kelestariannya.
Awalnya, kemunculan satwa berbintik totol hitam itu diketahui dari kabar warga yang melihatnya di pinggir jalan. Setelah mendatangi lokasi, warga berupaya mencari pertolongan dan mengevakuasi satwa yang saat itu dilaporkan sudah lemas serta tidak berdaya. Dalam proses penanganan darurat, warga juga memberikan air minum agar kondisi satwa membaik.
Namun, upaya tersebut tidak menghasilkan perbaikan. Satwa dilaporkan mati sekitar satu jam setelah dievakuasi. Video penemuan satwa tersebut beredar di media sosial, memperlihatkan warga membawa satwa menggunakan karung. Setelah satwa dinyatakan mati, tubuhnya dibungkus kain dan dikuburkan.
BBKSDA periksa bangkai, penyebab kematian belum terverifikasi
Petugas kemudian meminta agar kuburan dibongkar kembali untuk memeriksa kondisi bangkai. Sekretaris Kecamatan Cibinong, Adriana, menyampaikan bahwa BBKSDA memastikan satwa yang ditemukan merupakan macan tutul Jawa, satwa endemik yang dilindungi. Pemeriksaan dilakukan agar pihak berwenang dapat menindaklanjuti temuan tersebut berdasarkan kondisi fisik bangkai.
Meski identitas satwa telah disampaikan, penyebab kematian belum bisa dipastikan dari informasi yang tersedia. Sampai pemeriksaan lanjutan dilakukan, belum ada hasil terverifikasi yang menyimpulkan apakah satwa mati akibat penyakit, kelaparan, keracunan, atau faktor lain. Unsur penyebab ini menjadi bagian penting karena akan memengaruhi cara penanganan temuan serupa di kemudian hari.
Asal anak macan tutul tersebut juga masih belum diketahui. Kasi Perencanaan, Pengembangan, dan Bisnis Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cianjur, Rohcmatul Fitri Harry, mengatakan Perhutani belum dapat memastikan apakah satwa berasal dari kawasan hutan produksi yang dikelolanya. Ia juga menjelaskan bahwa wilayah hutan di Cianjur menjadi habitat sejumlah satwa dilindungi, termasuk macan tutul dan macan kumbang.
Rohcmatul Fitri Harry menambahkan bahwa satwa liar dapat bergerak mendekati permukiman, sementara gangguan habitat dan faktor cuaca menjadi kemungkinan yang perlu diperhatikan. Meski demikian, ia menegaskan hal tersebut belum terbukti sebagai penyebab kemunculan satwa dalam kasus yang sedang ditangani.
Pemkab Cianjur rencanakan pemetaan habitat satwa liar
Pemerintah Kabupaten Cianjur bersama BBKSDA Jawa Barat dan pemerintah desa menelusuri penemuan anak macan tutul tersebut. Langkah yang direncanakan adalah pemetaan habitat untuk membantu perlindungan satwa liar sekaligus mengurangi potensi gangguan terhadap kelestariannya.
Pemetaan habitat disebut sebagai cara untuk memahami keberadaan satwa liar di wilayah setempat. Namun, pada saat informasi ini disusun, belum ada keterangan terverifikasi mengenai hasil pemetaan, termasuk lokasi asal anak macan tutul yang ditemukan.
Bagi warga yang berpotensi menjumpai satwa liar dalam kondisi lemah, penanganan yang disarankan adalah menjaga jarak dan segera menghubungi petugas konservasi. Penanganan tanpa arahan petugas dikhawatirkan dapat membahayakan warga maupun satwa, terutama bila hewan terluka atau mengalami gangguan kesehatan serius.
Kronologi singkat temuan hingga rencana tindak lanjut
Kasus bermula dari laporan warga yang melihat satwa bercorak totol hitam di pinggir Jalan Pasir Menteng. Satwa dievakuasi setelah ditemukan lemas, sempat diberi air minum, tetapi mati sekitar satu jam kemudian. Setelah dikuburkan, petugas meminta kuburan dibongkar untuk pemeriksaan bangkai oleh BBKSDA, sementara pemkab dan pihak terkait menelusuri asal satwa dan menyiapkan pemetaan habitat.