
INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Ribuan warga memadati sejumlah ruas jalan protokol untuk menyaksikan Kirab Merah Putih kembali dalam rangkaian Festival Merah Putih (FMP) 2026, Minggu (9/8/2026).
Lima bendera tersebut masing-masing memiliki panjang 100 meter. Jika dirangkai, bendera Merah Putih yang dibentangkan mencapai total 500 meter, membentang dari kawasan Tugu Kujang hingga Pusat Pendidikan Zeni (Pusdikzi) di Jalan Sudirman.
Kirab yang menjadi tradisi tahunan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia itu turut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto.
Bima mengapresiasi keberlangsungan Kirab Merah Putih yang telah digelar selama 11 tahun secara berturut-turut. Menurutnya, konsistensi tersebut tidak terlepas dari kuatnya kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat.
“Tradisi ini bisa berjalan 11 tahun karena ada dukungan dari semua untuk berkolaborasi. Unsur pemerintahnya solid, dengan warga juga kompak,” ujar Bima.
Mantan Wali Kota Bogor tersebut menilai kirab tidak boleh hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial untuk memeriahkan bulan kemerdekaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk kembali menguatkan persatuan dan kebersamaan.
Terlebih, Indonesia saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan serta target pembangunan yang membutuhkan kerja bersama. Karena itu, semangat yang ditampilkan masyarakat dalam Kirab Merah Putih diharapkan tidak berhenti selama kegiatan berlangsung.
“Saat ini kita membutuhkan kebersamaan ini lebih dari masa-masa sebelumnya, karena kita punya tantangan yang berat dan target-target yang tidak mudah. Jadi, semangat Kirab Merah Putih ini harus paralel dengan keseharian warga dan pemerintah,” katanya.
Terkait kemungkinan pelaksanaan kegiatan serupa di daerah lain, Bima mengatakan pemerintah pusat telah mendorong seluruh daerah untuk turut memeriahkan momentum bulan kemerdekaan.
Menurutnya, Presiden telah menginstruksikan agar peringatan 17 Agustus di berbagai daerah diisi dengan pesta rakyat. Meski demikian, bentuk kegiatan diserahkan kepada masing-masing daerah dengan mempertimbangkan karakter dan kondisi wilayah.
“Banyak juga di daerah lain yang melaksanakan kirab seperti ini, tapi kan tidak semua daerah sesuai. Intinya bukan kirabnya, tetapi semangat kebersamaannya,” tegasnya.

