Jangan Keliru, Dosen IPB Ungkap Perbedaan Tikus dan Curut serta Risiko Penyakitnya

Riky Iskandar
18 Okt 2026 07:23
Berita News 0 14
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Sekilas tampak serupa, tikus dan curut sering kali sulit dibedakan ketika berkeliaran di lingkungan rumah. Keduanya memiliki ukuran tubuh relatif kecil dan warna gelap. Namun, secara biologis, kedua hewan tersebut berasal dari kelompok yang berbeda, mulai dari ciri fisik, habitat, hingga jenis makanan.

Dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB University, Dr Swastiko Priyambodo, menjelaskan bahwa tikus termasuk kelompok hewan pengerat, sedangkan curut memiliki karakteristik dan kebiasaan makan yang berbeda.

“Tikus termasuk dalam ordo Rodentia atau kelompok hewan pengerat, pemakan segala terutama serealia. Sementara curut termasuk dalam ordo Insectivora yang umumnya memakan serangga dan cacing tanah,” jelas Swastiko.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami perbedaan tersebut agar tidak keliru mengidentifikasi hewan yang ditemukan di sekitar tempat tinggal. Terlebih, tikus diketahui dapat menjadi pembawa sejumlah penyakit yang berisiko menular kepada manusia.

Dari segi fisik, tikus umumnya mempunyai ekor panjang dengan bentuk moncong yang relatif proporsional. Sementara itu, curut cenderung memiliki ekor lebih pendek dan moncong yang lebih panjang.

Perbedaan lainnya terlihat dari tempat tinggal kedua hewan tersebut. Tikus rumah dengan nama ilmiah Rattus tanezumi umumnya ditemukan di bagian atas bangunan, seperti para-para atau langit-langit rumah. Adapun curut rumah (Suncus murinus) lebih sering beraktivitas di permukaan tanah atau lantai.

“Habitat tikus rumah di para-para atau langit-langit, sedangkan habitat curut rumah di permukaan tanah atau lantai,” ujarnya.

Selain tikus rumah, terdapat pula mencit rumah (Mus musculus) yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil. Sementara tikus got (Rattus norvegicus) dikenal memiliki tubuh lebih besar dibandingkan sejumlah jenis tikus lainnya.

Swastiko menjelaskan, mencit rumah, tikus rumah, dan tikus got termasuk rodensia kosmopolit, yakni kelompok hewan pengerat yang tersebar di berbagai benua. Penyebaran ketiga spesies tersebut berkaitan erat dengan keberadaan dan aktivitas manusia.

Selain perbedaan bentuk tubuh dan habitat, aspek kesehatan menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk mengenali tikus dan curut secara tepat.

Swastiko menyebutkan, tikus dapat menjadi pembawa berbagai penyakit yang berpotensi menginfeksi manusia. Beberapa di antaranya adalah pes, leptospirosis, serta hantavirus.

Leptospirosis sendiri dapat menular melalui paparan lingkungan yang terkontaminasi bakteri Leptospira, termasuk air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi.

Sementara itu, Swastiko menjelaskan bahwa curut tidak membawa penyakit seperti yang dibawa tikus. Meski demikian, masyarakat tetap perlu menerapkan kebersihan lingkungan dan berhati-hati ketika menemukan hewan liar di dalam rumah.

Pemahaman mengenai karakteristik masing-masing hewan diharapkan dapat membantu masyarakat menentukan langkah penanganan yang sesuai sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi risiko kesehatan.

Untuk menangkap tikus rumah, mencit rumah, maupun curut rumah, salah satu cara yang dapat digunakan adalah perangkap berperekat atau glue trap.

Namun, proses penanganan setelah hewan tertangkap perlu dilakukan secara hati-hati. Masyarakat sebaiknya menghindari kontak langsung dengan hewan maupun material yang berpotensi terkontaminasi.

Dengan mengenali perbedaan tikus dan curut, masyarakat diharapkan tidak hanya lebih mudah mengidentifikasi hewan yang masuk ke rumah, tetapi juga dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.

Kewaspadaan tersebut menjadi penting, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan permukiman dan mengurangi risiko paparan penyakit yang dapat ditularkan oleh tikus.

x
x