Jerome Polin ungkap “Nobody can buy my integrity” saat polemik unfollow Raffi

Abdul Halim
2 Nov 2026 04:11
Berita 0 0 View
5 menit membaca

Jakarta, Infopantulan.com – Jerome Polin menjadi sorotan warganet setelah muncul dugaan dirinya berhenti mengikuti akun Instagram Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Dugaan itu menguat setelah Jerome mengunggah pernyataan singkat di Threads pada 2 November 2026 yang berbunyi, “Nobody can buy my integrity.” Peristiwa ini kemudian menyeret kembali kisah lama kolaborasi Jerome dengan Raffi saat keduanya bertemu di Jepang pada 2018, sekaligus memunculkan perdebatan soal batas mengingat bantuan masa lalu dan kebebasan menentukan sikap.

Hingga saat ini, Jerome belum menjelaskan secara rinci maksud kalimat tersebut maupun keterkaitannya dengan polemik unfollow. Di sisi lain, kisah yang kembali diungkit bermula dari pengakuan Jerome bahwa Raffi pernah mengirim pesan langsung (DM) saat pengikut Instagram Jerome masih belum mencapai 100 ribu, lalu kolaborasi mereka turut mendorong pertumbuhan pengikut Jerome hingga menembus angka 100.000. Sementara itu, polemik yang mengaitkan Raffi dengan isu hoaks juga ikut memanaskan percakapan publik setelah Raffi disebut hadir sebagai tamu dalam kegiatan deklarasi di Bundaran HI, Jakarta, pada 29 Oktober 2026.

Jerome Polin tulis “Nobody can buy my integrity” di Threads

Unggahan Jerome Polin di Threads pada 2 November 2026 berisi kalimat berbahasa Inggris, “Nobody can buy my integrity.” Kalimat itu dimaknai sebagai penegasan bahwa integritasnya tidak bisa “dibeli” oleh siapa pun. Meski begitu, Jerome tidak menyebut nama Raffi Ahmad maupun Nagita Slavina dalam unggahannya, dan tidak merinci konteks spesifik yang melatarbelakangi pernyataan tersebut.

Ketika nama Jerome sedang ramai dikaitkan dengan dugaan unfollow, pernyataan singkatnya langsung menjadi pemantik diskusi. Sebagian warganet menilai kalimat itu memiliki hubungan dengan polemik yang sedang beredar, namun sebagian lainnya meminta penjelasan langsung karena belum ada informasi yang mengunci maksud Jerome secara jelas.

Dalam situasi seperti ini, ruang tafsir memang terbuka lebar, terutama karena pernyataan yang muncul tidak disertai keterangan tambahan. Yang tersedia baru berupa kalimat singkat, sehingga keterkaitan antara “integritas” yang dimaksud Jerome dengan isu unfollow masih belum terverifikasi dari penjelasan langsung.

Kisah kolaborasi Jerome dan Raffi di Jepang 2018 kembali diungkit

Perdebatan yang kini menguat juga mengembalikan perhatian publik pada cerita lama Jerome tentang pertemuannya dengan Raffi di Jepang pada 2018. Jerome pernah menceritakan bahwa Raffi lebih dulu menghubunginya lewat DM Instagram, saat akun Jerome belum terlalu besar. Pada saat itu, Jerome menyebut jumlah pengikut Instagram-nya masih berada di bawah 100 ribu, sementara kanal YouTube Nihongo Mantappu yang dikelolanya telah memiliki sekitar 500 ribu pelanggan.

Jerome menggambarkan rasa terkejutnya menerima DM dari akun Raffi yang terverifikasi. Ia mengatakan bahwa ia sempat merasa tidak mungkin pesan tersebut dibaca, namun ketika membuka DM, ia mendapati ada pesan dari akun Raffi. Jerome juga menyebut pertemuan mereka kemudian berujung pada pembuatan konten bersama dan Raffi menandai akun Instagram Jerome.

“Aku merasa nggak mungkin dong. Aku DM juga nggak mungkin dibaca, emang aku siapa? Tapi tiba-tiba pas aku buka DM, ada DM dari centang biru @raffinagita1717. Aku kaget banget, hah aku kok di-DM,” ujar Jerome dalam podcast tersebut.

Dari cerita Jerome, dampak kolaborasi itu terasa pada pertumbuhan audiensnya. Jerome mengingat bahwa setelah unggahan Raffi, pengikut Instagram-nya meningkat hingga mencapai 100.000. Namun, ia juga mengingatkan bahwa perjalanan kariernya sebagai kreator konten sebenarnya telah dimulai sebelum momen kolaborasi tersebut, karena Nihongo Mantappu sudah ia bangun sejak 2017.

Dengan fakta itu, diskusi publik kemudian terbagi. Ada yang menilai seseorang semestinya tetap mengingat bantuan ketika kariernya belum sebesar sekarang. Ada pula yang berpendapat bahwa hubungan pertemanan dan keputusan mengikuti atau tidak mengikuti akun media sosial tetap berada pada hak masing-masing individu.

Dugaan unfollow dikaitkan dengan polemik hoaks dan klarifikasi Raffi

Rangkaian pembicaraan yang menyeret Jerome berawal dari dugaan berhentinya Jerome mengikuti akun Raffi dan Nagita di Instagram. Isu itu kemudian dikaitkan dengan perbincangan yang lebih luas di media sosial, termasuk kalimat yang beredar terkait hoaks. Di percakapan publik, pernyataan tersebut dikaitkan dengan kehadiran Raffi dalam acara deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran HI, Jakarta, pada 29 Oktober 2026.

Dalam acara tersebut, Raffi disebut mengajak anak muda untuk melawan hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi di media sosial. Namun, polemik muncul ketika ada sorotan terhadap identitas sejumlah peserta. Salah satu peserta mengaku bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara (Undira) dan menyebut dirinya mendapat bayaran untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Menanggapi kegaduhan yang muncul, Polda Metro Jaya menyampaikan permintaan maaf. Raffi juga memberikan klarifikasi bahwa ia hadir sebagai tamu undangan dan tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara. Raffi menyatakan bahwa ia menerima informasi terkait kehadirannya pada malam sebelum acara berlangsung.

“Saya hadir dalam kegiatan deklarasi Sumpah Pemuda kemarin sebagai undangan yang informasinya baru saya terima pada malam sebelum acara. Saya tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara, serta tidak mengetahui detail susunan acara dan pihak-pihak yang hadir,” kata Raffi dalam keterangannya.

Ketika klarifikasi itu beredar, unggahan Jerome di Threads serta dugaan unfollow kemudian ikut menjadi bahan perbincangan lanjutan. Sampai berita ini disusun, belum ada penjelasan langsung dari Jerome mengenai dugaan unfollow maupun tudingan melupakan jasa Raffi Ahmad. Unggahan tentang integritas juga belum disertai keterangan yang memastikan kaitannya dengan polemik tersebut.

Yang masih belum jelas dan mengapa perdebatan melebar

Meski pernyataan Jerome berbunyi tegas, informasi yang tersedia masih terbatas pada kalimat “Nobody can buy my integrity.” Tidak adanya penyebutan pihak tertentu membuat publik sulit memastikan apakah “integritas” yang dimaksud terkait dengan isu hoaks, hubungan pertemanan, atau konteks lain yang hanya dipahami oleh Jerome dan lingkaran terdekatnya.

Di sisi lain, kisah kolaborasi Jerome dengan Raffi menjadi bahan penguat argumen dari dua kubu yang berbeda. Bagi kubu yang menilai Jerome seharusnya tetap menghargai bantuan, angka pertumbuhan pengikut yang disebut Jerome menjadi simbol bahwa kolaborasi itu berpengaruh nyata. Namun kubu yang menolak anggapan tersebut menekankan bahwa keputusan mengikuti akun di media sosial tidak otomatis menjadi ukuran balas budi atau ukuran moral.

Perbedaan cara pandang ini membuat polemik tidak berhenti pada dugaan unfollow semata. Ia berkembang menjadi diskusi tentang batas menghargai masa lalu dan ruang kebebasan seseorang menentukan sikap, terutama ketika kedua isu, klarifikasi Raffi terkait acara dan pernyataan singkat Jerome tentang integritas, sama-sama hadir dalam percakapan publik.

x
x