
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan mendapat tambahan dukungan dari pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto menyetujui pengiriman ratusan peralatan untuk mempercepat pemadaman, termasuk dukungan di lokasi yang sulit dijangkau tim di lapangan.
Persetujuan itu disampaikan dalam rapat pencegahan dan penanganan karhutla di Gedung VVIP Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, pada Senin, 24 Agustus 2026. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru melaporkan sekitar 1.900 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juli 2026, dan masih tersisa kurang lebih 200 hektare yang membutuhkan penanganan intensif.
Dalam rapat tersebut, salah satu kebutuhan yang disampaikan Herman Deru adalah mesin pompa dan selang. Peralatan ini dirancang untuk mengoptimalkan sumber air yang tersedia di wilayah rawan karhutla, termasuk dari sumur bor.
Permintaan tersebut kemudian disetujui Prabowo. Rencana pengiriman 500 mesin pompa dan selang diharapkan membuat kerja pemadaman dari darat lebih efektif, terutama saat titik api berada jauh dari akses air permukaan atau ketika infrastruktur pendukung terbatas. Dengan pompa, distribusi air dapat dilakukan lebih terarah, sementara selang membantu menjangkau titik panas yang tidak bisa didekati kendaraan besar.
Secara operasional, penambahan alat seperti ini biasanya berpengaruh langsung pada tempo pemadaman. Api yang berada di area terbuka atau semak-semak cenderung cepat berkembang bila suplai air dan jangkauan pemadaman kurang. Karena itu, tambahan pompa dan selang menjadi penguat agar tim lapangan bisa menekan penyebaran lebih cepat sebelum api membesar.
Selain kebutuhan pemadaman, rapat juga membahas aspek mobilitas petugas. Herman Deru menyampaikan usulan pengiriman 50 motor trail yang dapat digunakan untuk mencapai wilayah sulit sekaligus dimodifikasi agar mampu membawa peralatan pemadam api ringan (APAR).
Prabowo menyetujui jumlah yang lebih besar, yaitu 100 motor trail. Pertimbangan di balik peningkatan ini jelas, karena akses menuju lokasi karhutla sering kali menjadi hambatan utama. Jalan yang sempit, medan berlumpur, atau jarak yang jauh dari titik kumpul membuat kendaraan berukuran besar tidak selalu bisa masuk.
Motor trail yang dimodifikasi untuk membawa APAR memberi fleksibilitas respon cepat. Tim bisa melakukan penanganan awal saat titik api masih kecil, sehingga mengurangi risiko api merembet ke area yang lebih luas. Dalam situasi karhutla, langkah awal seperti ini sering menentukan apakah pemadaman bisa dikendalikan dalam waktu singkat atau justru memerlukan pengerahan sumber daya lebih besar.
Upaya penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada memadamkan api, tetapi juga pada mencegah penyebaran. Karena itu, pemerintah menyetujui tambahan 20 unit ekskavator.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M Iqbal Alisyahbana sebelumnya mengusulkan alat berat tersebut untuk membuat kanal dan melakukan penyekatan lahan. Kanal membantu mengatur kondisi kelembapan serta mendukung ketersediaan air saat diperlukan, sedangkan penyekatan berfungsi menciptakan batas agar api tidak mudah merambat ke wilayah lain.
Menariknya, penggunaan ekskavator tidak berhenti ketika kondisi dinyatakan aman. Setelah masa penanganan, alat berat diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kelompok tani. Ini penting agar investasi peralatan tidak berhenti pada respons darurat, tetapi juga memberi manfaat lanjutan bagi aktivitas produktif masyarakat.
Untuk penanganan dari udara, pemerintah tetap mengandalkan operasi pemadaman melalui helikopter water bombing. Sebanyak lima helikopter disiapkan untuk menangani titik api yang sulit dijangkau dari darat.
Prabowo menyatakan tidak ada penambahan jumlah helikopter karena lima unit yang tersedia dinilai masih cukup untuk menangani sekitar 200 hektare lahan yang tersisa. Satu helikopter water bombing dapat membawa sekitar empat ton air dalam satu kali operasi. Dengan skema penerbangan berulang, kapasitas pemadaman dari udara diperkirakan mencapai sekitar 1.200 ton air per hari.
Targetnya, sisa lahan yang terbakar dapat dipadamkan dalam pekan tersebut. Dalam praktiknya, pendekatan udara biasanya dipadukan dengan pemadaman darat agar tidak hanya memadamkan titik api, tetapi juga mencegah bara berpindah dan memunculkan titik baru. Dengan sisa lahan yang relatif terkonsentrasi, strategi ini diharapkan lebih tepat sasaran.
Penanganan karhutla di Sumatera Selatan tidak bisa dilepaskan dari karakter wilayahnya, khususnya lahan gambut. Luas gambut yang rawan terbakar mencapai sekitar 1,27 juta hektare, dengan sekitar 600 ribu hektare berada di Ogan Komering Ilir dan sekitar 600 ribu hektare lainnya di Musi Banyuasin, sisanya tersebar di wilayah lain.
Karakter gambut yang mudah menyimpan panas membuat api dapat menyala lebih lama dan sulit dipadamkan hanya dengan pendekatan permukaan. Karena itu, pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan pemadaman saat api sudah muncul, tetapi juga melakukan pembangunan serta pemeliharaan kanal air gambut agar lahan lebih lembap dan sumber air tetap tersedia ketika kebakaran terjadi.
Di sisi lain, tanggung jawab pencegahan juga diarahkan kepada perusahaan pemegang konsesi. Herman Deru menegaskan bahwa pihak yang melanggar akan ditindak tegas, termasuk kemungkinan pencabutan izin. Penegakan seperti ini relevan karena karhutla sering berkaitan dengan praktik pengelolaan lahan, termasuk kepatuhan terhadap aturan pembukaan lahan dan pencegahan kebakaran.
Dengan tambahan 500 mesin pompa, 100 motor trail, dan 20 ekskavator, pemerintah menargetkan penanganan yang lebih cepat untuk sisa sekitar 200 hektare. Namun pekerjaan sesudah pemadaman tidak kalah penting, yaitu memastikan titik api tidak kembali muncul, terutama di wilayah gambut yang memiliki risiko kebakaran berulang.

