Kesukaan film sedih dan lagu mellow, psikologi jelaskan efek emosionalnya

Abdul Halim
21 Okt 2026 05:05
Gaya Hidup 0 10
4 menit membaca

Banyak orang merasa lebih nyaman memutar lagu mellow atau menonton film bernuansa duka saat suasana hati sedang berat. Dalam kajian psikologi, kebiasaan ini dipahami bukan sekadar selera hiburan, melainkan cara otak memproses emosi melalui narasi. Menariknya, respons emosional itu bisa muncul meski penonton sadar alur cerita atau lagu yang didengar tidak terjadi pada dirinya.

Penjelasan psikologisnya berangkat dari bagaimana manusia merespons cerita. Saat seseorang terhubung dengan narasi, termasuk narasi sedih, tubuh dan pikiran tetap memproses emosi seolah pengalaman tersebut nyata. Pada titik inilah kesedihan bisa terasa “mengena”, lalu diikuti perubahan suasana hati yang berbeda-beda pada tiap individu, tergantung bagaimana mereka memaknai cerita yang mereka tonton.

Resonansi emosi, mengapa kisah sedih terasa “hidup”

Salah satu alasan utama orang menyukai kisah sedih adalah efek resonansinya. Psikolog menekankan bahwa meski kita tahu cerita fiksi, respons emosional sering muncul secara otomatis ketika perhatian terserap oleh tokoh, konflik, dan momen-momen kunci. Narasi memberi struktur pada emosi, sehingga perasaan yang tadinya samar bisa menjadi lebih jelas.

Keterikatan terhadap tokoh juga berperan. Ketika penonton ikut memproses perubahan emosi yang dibawa alur cerita, kesedihan tidak hanya datang sebagai reaksi jarak jauh. Ada rasa ikut mengalami, meski hanya dalam batas pengalaman menonton. Pada kondisi seperti ini, hiburan sedih bisa terasa seperti “mengunjungi” bagian perasaan yang selama ini tidak terbahas secara utuh.

Kesedihan sebagai pemantik rasa bersyukur

Ada pula sisi lain yang lebih bernuansa, yakni kemungkinan kesedihan dalam cerita mendorong rasa bersyukur. Dalam studi yang menguji respons penonton terhadap film tragis berjudul Atonement, peserta yang merasakan kesedihan lebih intens melaporkan kecenderungan peningkatan kebahagiaan dalam hidup mereka.

Peneliti menyoroti cara peserta memaknai hubungan personal setelah menonton. Mereka menguji apakah peserta membandingkan hidupnya dengan kehidupan karakter tragis, dan apakah jenis pemikiran itu memengaruhi suasana hati. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan kebahagiaan tidak terutama dipicu oleh cara berpikir yang terlalu berpusat pada diri, melainkan oleh seberapa kuat peserta mengingat hubungan dekat yang mereka miliki.

Dengan kata lain, kesedihan dapat bekerja seperti pemantik refleksi. Emosi berat yang muncul saat menonton memberi ruang bagi perhatian untuk bergeser, dari fokus pada kehilangan atau kesedihan menuju penegasan nilai hubungan yang selama ini dianggap biasa.

Tragedi fiksi dan tragedi nyata, bedanya pada kecemasan

Perbedaan yang sering luput dipahami adalah bagaimana emosi tersebut berlanjut setelah sesi menonton atau setelah peristiwa nyata terjadi. Studi lain menemukan bahwa intensitas kesedihan yang dirasakan saat mengingat tragedi pribadi bisa setara dengan kesedihan saat menyaksikan tayangan tragis. Namun, ada perbedaan mencolok pada kecemasan.

Ketika tragedi terjadi dalam kehidupan nyata, partisipan mengalami kecemasan yang jauh lebih tinggi dibandingkan saat mereka menonton film atau tayangan sedih. Penjelasan yang muncul terkait cara emosi “berlanjut” setelah peristiwa. Peristiwa nyata membawa konsekuensi lanjutan, sehingga pikiran cenderung memikirkan dampak yang harus dihadapi. Pada cerita fiksi, emosi yang muncul cenderung tidak punya efek langsung yang terus terbawa setelah sesi selesai.

Di sinilah konsep hiburan bertema sedih menjadi relevan. Penonton bisa merasakan emosi berat, tetapi tidak menanggung beban konsekuensi nyata dari peristiwa yang diceritakan. Ruang aman ini membuat proses mengolah emosi terasa lebih terkontrol.

Bagaimana dampaknya terasa dalam aktivitas sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan menikmati cerita sedih sering muncul saat seseorang sedang berupaya memproses perasaan yang dominan. Respons emosional yang terasa “nyata” dapat membantu memberi label pada pengalaman batin, misalnya ketika rasa sedih yang sebelumnya samar menjadi lebih mudah dikenali dan dipahami.

Selain itu, refleksi yang dipicu narasi tragis bisa menggeser fokus. Jika pada awalnya perhatian tertuju pada kehilangan, setelah menonton sebagian orang merasakan pergeseran menuju penghargaan pada relasi yang dimiliki. Perubahan fokus ini berhubungan dengan cara emosi diproses, bukan sekadar intensitas kesedihan.

Karena kecemasan yang menyertai tragedi fiksi cenderung lebih rendah, sebagian orang merasa lebih mudah kembali beraktivitas setelah sesi menonton atau mendengarkan. Kesedihan tetap hadir, tetapi tidak berubah menjadi ketegangan berkepanjangan. Pola inilah yang membuat hiburan bertema sedih dapat terasa menenangkan bagi sebagian orang, bukan sekadar menyakitkan.

x
x