Kontroversi tarif konten Rumah Pengabdi Setan, Raja Jerome dari Malaysia

Abdul Halim
1 Sep 2026 12:13
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Raja Jerome, traveller asal Malaysia, mengunggah pengalamannya saat berkunjung ke Rumah Pengabdi Setan di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kunjungan itu awalnya bernuansa wisata horor, tetapi berubah menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah ia mendapati perbedaan tarif antara kunjungan reguler dan kedatangan yang ditujukan untuk pembuatan konten.

Dalam video yang beredar, Raja Jerome terlihat mendatangi lokasi, bertemu petugas, lalu diarahkan ke loket untuk proses masuk. Di titik itulah percakapannya bergeser. Ia ditanya tujuan kedatangannya, lalu diketahui ada ketentuan tarif berbeda bagi pengunjung yang datang untuk membuat konten dibanding wisatawan yang sekadar menikmati lokasi dan mengabadikan momen pribadi.

Perbedaan tarif ini menjadi sorotan karena Raja Jerome menyebutkan jumlah pengikut atau subscriber akun media sosialnya, yang berada di kisaran sekitar 27.000. Berdasarkan informasi yang ia terima saat di loket, ia dikenakan tarif sebesar Rp600.000 untuk melakukan pembuatan konten di Rumah Pengabdi Setan. Setelah memahami biaya tersebut, Raja Jerome memilih tidak melanjutkan rencana produksi konten secara khusus dan akhirnya menggunakan tiket kunjungan reguler.

Tarif kunjungan reguler vs produksi konten di Rumah Pengabdi Setan

Menurut penjelasan yang ia dapatkan dari petugas di lokasi, tiket kunjungan reguler diberlakukan untuk wisatawan yang menikmati objek sekaligus mengambil foto atau video singkat sebagai dokumentasi pribadi. Untuk wisatawan lokal, tarif yang disebutkan adalah Rp15.000, sedangkan wisatawan mancanegara dikenakan Rp25.000.

Sementara itu, skema berbeda diterapkan jika pengunjung datang dengan kepentingan produksi konten yang lebih serius. Poin yang disorot Raja Jerome adalah adanya batasan terkait durasi pengambilan gambar dan kebutuhan produksi. Aktivitas yang masih dianggap wajar untuk dokumentasi pribadi, termasuk penggunaan kamera atau ponsel serta unggahan story, ditempatkan dalam kategori kunjungan biasa.

Namun, ketika pengambilan gambar diarahkan untuk membuat materi konten dengan durasi lebih panjang dan kebutuhan produksi tertentu, tarifnya disebut memiliki ketentuan tersendiri. Di sinilah Raja Jerome merasa rencananya berubah, karena biaya khusus produksi yang dikenakan kepadanya cukup signifikan dibanding tiket reguler.

Raja Jerome memilih tiket reguler setelah mengetahui biaya konten

Setelah percakapan di loket berakhir, Raja Jerome memutuskan untuk menyesuaikan rencana. Ia tidak melanjutkan produksi konten dengan skema khusus, melainkan menggunakan tiket kunjungan reguler seperti pengunjung pada umumnya. Keputusan itu sekaligus menjadi bagian dari narasi videonya: bagaimana rencana membuat konten perjalanan akhirnya berganti karena pertimbangan biaya.

Unggahan tersebut kemudian memicu perhatian warganet. Banyak pengguna yang mencari tahu sosok traveller asal Malaysia itu, termasuk aktivitasnya sebagai pembuat konten perjalanan. Di sisi lain, diskusi publik juga mengarah pada angka tarif produksi konten yang disebut mencapai Rp600.000, terutama karena ia memiliki sekitar 27.000 pengikut.

Kenapa perbedaan tarif konten bisa jadi isu publik

Kasus ini menyoroti dinamika yang kerap muncul ketika destinasi wisata bertemu dengan industri kreator. Pengelola biasanya perlu mengatur arus pengunjung, menjaga ketertiban, serta mengantisipasi gangguan operasional ketika ada proses produksi yang lebih kompleks. Dari sudut pandang pengunjung, aturan semacam ini sering kali terasa tidak sederhana, terutama jika kategori “konten” belum dijelaskan secara rinci sebelum kedatangan.

Dalam kasus Raja Jerome, faktor pemicu utamanya adalah adanya pertanyaan mengenai jumlah pengikut atau subscriber, yang kemudian berpengaruh pada tarif. Bagi penonton video, bagian ini tampak seperti penetapan harga berbasis skala audiens. Meski pengaturan tersebut mungkin dimaksudkan untuk menyesuaikan potensi dampak promosi atau intensitas produksi, publik tetap cenderung menilai apakah mekanismenya mudah dipahami sejak awal.

Reaksi warganet juga menunjukkan bahwa wisata horor seperti Rumah Pengabdi Setan memang menarik perhatian luas, termasuk dari luar daerah bahkan mancanegara. Ketertarikan itu membuat banyak pengunjung ingin mengabadikan pengalaman, dan pada akhirnya mendorong kebutuhan aturan yang jelas agar semua pihak paham sejak pintu masuk.

Rumah Pengabdi Setan dan daya tarik wisata berbasis film horor

Rumah Pengabdi Setan di kawasan Pangalengan dikenal karena keterkaitannya dengan film horor Pengabdi Setan. Popularitas film membuat lokasi yang berhubungan dengannya ikut dikenal luas, sehingga tidak hanya wisatawan lokal, tetapi juga pengunjung dari berbagai daerah dan mancanegara tertarik datang untuk melihat langsung.

Fenomena ini biasanya memperkuat budaya dokumentasi di media sosial. Foto, video singkat, hingga unggahan story adalah bagian dari pengalaman wisata modern. Karena itu, ketika destinasi menetapkan pembedaan tarif, pengunjung akan membandingkan antara “sekadar menikmati” dan “membuat produksi”. Perbedaan kategori yang terasa tipis, seperti durasi pengambilan gambar, bisa menjadi pemicu perdebatan jika tidak dikomunikasikan secara transparan.

Perbincangan yang melibatkan Raja Jerome kini menjadi contoh bagaimana pengalaman satu pengunjung dapat memantik diskusi publik lebih luas. Intinya, Rumah Pengabdi Setan tetap menjadi tujuan wisata yang banyak diburu, tetapi cara pengelola mengatur produksi konten dan penerapan tarif akan terus menjadi perhatian, terutama bagi kreator dengan basis pengikut yang besar.

x
x