
INFOPANTULAN.COM, BOGOR– Abu vulkanik mungkin hanya terlihat seperti lapisan debu tipis di jalan, halaman, atau atap rumah. Namun, partikel yang beterbangan dapat menjadi ancaman bagi kesehatan, terutama saluran pernapasan, mata, dan kulit. Karena itu, Dinas Kesehatan Kota Bogor meminta warga meningkatkan kewaspadaan dan melakukan sejumlah langkah pencegahan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Erna Nuraena, mengatakan masyarakat perlu memahami dampak kesehatan yang mungkin muncul akibat paparan abu vulkanik agar dapat melakukan perlindungan sejak dini.
“Yang pertama yang harus kita waspadai adalah potensi dampak terhadap kesehatan. Yang pertama, gangguan kesehatan saluran napas, kemudian mata, dan kulit,” kata Erna, Minggu malam (6/8/2026).
Gunakan Masker, Lindungi Saluran Pernapasan
Untuk mencegah abu terhirup, masyarakat dianjurkan menggunakan masker sesuai standar, khususnya ketika berada di luar ruangan.
Erna menyebut masker N95 sebagai pilihan yang direkomendasikan. Jika tidak tersedia, masyarakat dapat menggunakan KN95, KF94, atau masker medis.
Sementara masker kain yang dibasahi dapat digunakan sebagai pilihan terakhir, meski tingkat perlindungannya lebih rendah dibandingkan masker yang memiliki standar filtrasi.
Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan, yakni lansia, anak-anak, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Lindungi Mata dan Kulit
Selain saluran pernapasan, mata dan kulit juga perlu mendapatkan perlindungan.
Warga yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan kacamata untuk mengurangi paparan langsung abu pada mata. Sementara untuk melindungi kulit, masyarakat dianjurkan mengenakan pakaian tertutup.
Dinkes juga meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak ada keperluan mendesak.
Jangan Langsung Menyapu Abu
Hal lain yang tidak kalah penting adalah cara membersihkan abu vulkanik di lingkungan rumah.
Erna mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyapu abu dalam kondisi kering, menggunakan kemoceng, maupun membersihkannya dengan cara yang membuat abu kembali beterbangan.
Sebab, partikel abu yang beterbangan justru dapat meningkatkan risiko terhirup.
“Lebih baik masyarakat menyiram dulu atau menyemprot sehingga permukaannya lembap, baru kemudian dibersihkan,” ujarnya.
Dengan membasahi permukaan terlebih dahulu, abu diharapkan tidak mudah beterbangan saat proses pembersihan.
Belum Ada Kasus yang Terkait Paparan Abu
Dinkes Kota Bogor hingga kini terus memantau kondisi kesehatan masyarakat melalui seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
Erna mengatakan, berdasarkan pemantauan sementara, belum ada laporan kasus yang berkorelasi dengan dampak abu vulkanik.
Meski demikian, seluruh fasilitas kesehatan diminta melakukan pemantauan dan melaporkan setiap hari apabila menemukan kasus yang diduga berkaitan dengan paparan abu.
Waspadai Sesak hingga Iritasi
Masyarakat diminta tidak menunggu kondisi memburuk apabila mulai mengalami gangguan kesehatan setelah terpapar abu.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain sesak napas, batuk-batuk, nyeri dada saat batuk, iritasi mata, dan iritasi kulit.
“Silakan langsung mengakses pelayanan kesehatan terdekat. Semua puskesmas siap siaga,” kata Erna.
Untuk kondisi kegawatdaruratan medis, masyarakat dapat menghubungi call center Dinas Kesehatan di 119.
Di tengah paparan abu vulkanik, kewaspadaan dapat dimulai dari hal sederhana: gunakan masker yang tepat, lindungi mata dan kulit, kurangi aktivitas di luar ruangan, serta bersihkan abu dengan cara membasahinya terlebih dahulu.

