
INFOPANTULAN.COM – Pasar Induk Jambu Dua di Kota Bogor kini berubah wajah menjadi Pasar Bersih Jambu Dua, dengan fokus tidak hanya pada perdagangan buah dan sayur, tetapi juga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah. Langkah ini terlihat dari hadirnya sentra kuliner yang menampung pelaku UMKM untuk menjalankan sekaligus memperluas bisnis mereka.
Di kawasan yang ramai dikunjungi warga, termasuk dari Jabodetabek dan daerah sekitar, Pemerintah Kota Bogor bekerja sama dengan investor serta Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) mengarahkan pertumbuhan ekonomi melalui ruang usaha yang lebih terstruktur. Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyoroti bahwa skema dukungan, berupa insentif, diarahkan bagi pelaku usaha yang baru mulai dan mereka yang sebelumnya mengalami keterpurukan ekonomi, termasuk akibat pemutusan hubungan kerja (PHK).
Transformasi Pasar Induk Jambu Dua menjadi Pasar Bersih Jambu Dua memperlihatkan pergeseran fungsi ruang publik perdagangan. Jika sebelumnya kawasan tersebut dikenal sebagai pusat transaksi beragam kebutuhan pangan, kini mulai berkembang menjadi ekosistem usaha yang memberi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk tumbuh. Tidak hanya menjual produk segar, kawasan ini juga diarahkan menjadi tempat yang mendukung aktivitas ekonomi yang lebih beragam.
Sentra kuliner menjadi salah satu indikator paling mudah terlihat dari perubahan tersebut. Kehadiran lapak-lapak usaha membuat pasar tidak berhenti pada aktivitas belanja harian, tetapi juga berperan sebagai destinasi yang menawarkan pilihan makanan dan minuman. Dampaknya, perputaran ekonomi di sekitar pasar ikut terdorong karena pengunjung tidak hanya membeli bahan pangan, tetapi juga memanfaatkan area kuliner.
Keberadaan sentra kuliner di Pasar Bersih Jambu Dua memberi wadah bagi pelaku UMKM untuk menjalankan usaha dengan dukungan fasilitas yang disediakan. Dengan model ini, para pedagang kecil dapat lebih fokus pada pengembangan menu, kualitas layanan, dan kesinambungan usaha, tanpa harus memikirkan seluruh beban biaya sewa sejak awal.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyampaikan bahwa sebagian pelaku UMKM yang bergabung memiliki latar belakang yang tidak mudah. Ia menyinggung cerita pelaku usaha yang pernah mengalami PHK, lalu mencoba bangkit dengan memanfaatkan peluang di Pasar Jambu Dua. Dalam penjelasannya, PHK dipandang sebagai kondisi berat bagi perekonomian seseorang, namun ruang usaha yang lebih terjangkau dapat membantu pelaku menemukan kembali semangat untuk berusaha.
“Pelaku UMKM ini salah satunya ada yang mengalami PHK. Melihat peluang di Pasar Jambu Dua, daya juangnya kembali bangkit,” ujar Dedie A. Rachim, Sabtu (19/9/2026).
Dedie juga menekankan bahwa banyak orang ingin bangkit, tetapi ketika harus menyewa tempat atau ruko di mal, beban biaya dapat menjadi penghambat. Karena itu, pemerintah menyediakan insentif agar pelaku usaha yang baru merintis dapat mengurangi risiko dan memperoleh ruang belajar yang lebih realistis.
Model pemberdayaan UMKM yang diterapkan melalui sentra kuliner tidak hanya ditujukan bagi pelaku yang mengalami PHK. Skema yang sama juga diarahkan untuk pelaku usaha rintisan atau startup yang baru memulai dengan skala terbatas. Logikanya, tahap awal usaha sering kali berhadapan dengan keterbatasan modal, sementara kebutuhan untuk menjaga keberlangsungan bisnis tetap tinggi.
Dalam penjelasan Dedie, insentif diberikan agar pelaku usaha dapat menekan risiko pada fase belajar membangun usaha. Ia menyebut bahwa modal yang terbatas semestinya diiringi dengan langkah yang meminimalkan risiko, sehingga pelaku memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang. Pemerintah, investor, dan Perumda PPJ kemudian berperan sebagai penghubung yang membuat ruang usaha tersebut bisa berjalan.
“Jadi modelnya itu pemerintah memberikan insentif kepada startup, kepada mereka yang baru mulai belajar usaha dengan model terbatas,” kata Dedie A. Rachim.
Dedie menambahkan bahwa dukungan tersebut mensyaratkan adanya kemauan, tenaga, dan kesempatan yang sama bagi mereka yang ingin berusaha bangkit. Dengan begitu, program tidak berhenti pada pemberian fasilitas saja, tetapi juga mendorong pelaku untuk aktif mengembangkan usahanya.
Pasar Bersih Jambu Dua diposisikan sebagai semacam laboratorium penguatan ekonomi kerakyatan lewat UMKM kuliner. Konsep ini membuka peluang bagi daerah lain untuk mempelajari pendekatan yang serupa, terutama terkait cara mengelola ruang pasar agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan usaha kecil.
Selain itu, konsep kebersamaan yang dibangun lewat usaha kolektif dinilai menjadi faktor penting agar mimpi pelaku usaha dapat lebih mudah diwujudkan. Saat pelaku UMKM berada dalam ekosistem yang saling terhubung, mereka dapat belajar dari dinamika pasar harian, mengasah strategi penjualan, dan memanfaatkan arus pengunjung yang datang bukan hanya untuk kebutuhan pokok, melainkan juga untuk pengalaman kuliner.
“Artinya, modal kebersamaan ini yang bisa membuat segala mimpi itu terwujud,” ujar Dedie A. Rachim.

