Pemkot Bogor Terapkan Program Satu Siswa Satu Pohon pada MPLS 2026

Wahfidz Addiyansyah
15 Jul 2026 07:31
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memanfaatkan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan sejak hari pertama siswa memasuki bangku sekolah.

Salah satu langkah yang dilakukan ialah mengajak seluruh peserta didik baru tingkat SMP menanam pohon sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Program tersebut diawali di SMPN 18 Kota Bogor, Rabu (15/7/2026), melalui kegiatan penanaman pohon yang dipimpin Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Dedie turut didampingi Ketua OSIS dan pengurus sekolah menanam berbagai jenis pohon buah serta pohon pelindung.

Dedie menegaskan, gerakan penghijauan ini merupakan upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Menurutnya, pelajar memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan agar kondisi bumi di masa depan tetap layak dihuni.

“Di masa depan itu jangan kondisi global warming menjadi global disaster. Sehingga penyadaran ini harus juga muncul dari generasi muda. Kita mengajak siswa siswi SMP di Bogor untuk peduli, mau melestarikan lingkungan. Kita mulai dari SMPN 18, mudah-mudahan bisa direplikasi di semua sekolah hingga pada akhirnya Bogor akan tetap hijau lestari,” ujar Dedie.

Ia menjelaskan, Dinas Pendidikan Kota Bogor telah menerbitkan surat edaran yang menginstruksikan seluruh SMP melaksanakan kegiatan serupa selama MPLS. Tidak hanya menanam, sekolah juga diminta memastikan tanaman yang ditanam terus dipantau dan dirawat hingga tumbuh optimal.

“Yang penting memastikan tanaman yang ditanam itu dimonitor pertumbuhannya, perkembangannya, sampai betul-betul dirawat dengan baik dan menghasilkan oksigen,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Herry Karnadi, mengatakan setiap siswa baru SMP diwajibkan membawa satu bibit tanaman. Bibit tersebut dapat berupa pohon pelindung, pohon buah maupun tanaman sayuran yang nantinya ditanam di lingkungan sekolah atau lokasi lain yang telah ditentukan.

Menurut Herry, kebijakan tersebut dirancang untuk membentuk karakter siswa melalui pengalaman langsung merawat tanaman sejak awal mereka memasuki jenjang pendidikan menengah pertama.

“Anak-anak yang masuk SMP kita minta membawa satu pohon tiap anak, baik pohon pelindung, pohon buah, bahkan pohon sayuran pun. Tujuannya membangun karakter, karena mereka yang menanam, mereka yang merawat, dan nantinya mereka juga yang menikmati hasilnya,” ungkap Herry.

Ia mengakui tidak semua sekolah memiliki lahan yang cukup untuk penanaman. Karena itu, sekolah diperbolehkan memanfaatkan taman kota, ruang terbuka hijau, maupun kawasan bantaran sungai sebagai lokasi penghijauan dengan tetap melibatkan siswa dalam proses perawatan.

“Kalau sekolah lahannya terbatas seperti SMP 1, SMP 7 atau SMP 8, penanamannya bisa dilakukan di lokasi lain, misalnya di taman kota atau kawasan bantaran Sungai Ciliwung. Yang terpenting, anak-anak tetap bertanggung jawab merawat tanaman itu dengan rutin menyiram dan memantau pertumbuhannya,” jelasnya.

Herry menambahkan, program tersebut saat ini difokuskan untuk jenjang SMP. Sementara bagi sekolah dasar, konsep penghijauan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah, misalnya melalui penanaman sayuran dalam pot yang dapat dirawat oleh para siswa.

Ke depan, Pemkot Bogor berharap gerakan menanam pohon juga diterapkan di tingkat SMA melalui koordinasi dengan Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Provinsi Jawa Barat sehingga menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh jenjang pendidikan di Kota Bogor.

“Kita minta nanti di Bogor berlaku juga untuk jenjang SMA, jadi berlakunya kota, tidak hanya menjadi kewenangan Disdik sampai SMP, tetapi juga diterapkan di SMA,” tutupnya.

x
x