Prabowo di Istana Bahas Karhutla, Tekankan Hormat pada Pakar

Abdul Halim
27 Sep 2026 00:40
Berita 0 34
5 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Presiden Prabowo Subianto menegaskan dirinya menghormati pakar dan akademisi saat berdiskusi dengan 22 akademisi dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 24 September 2026. Dalam pertemuan itu, pembahasan diarahkan pada pengelolaan lahan gambut sekaligus pencegahan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, termasuk kemungkinan pemanfaatan gambut secara produktif.

Penegasan Prabowo muncul beberapa hari setelah ia menyinggung kalangan pakar dalam pidato peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat, 18 September 2026. Saat itu, ia menyebut ada pakar yang menurutnya terlalu merasa pintar hingga berujung pada sikap yang ia nilai tidak tepat, lalu kini ia menekankan bahwa pernyataannya bisa dipelintir sehingga terkesan meremehkan ahli, padahal ia mengaku terbiasa mencari masukan dari orang yang paham bidangnya.

Prabowo klarifikasi: pernyataan bisa dipelintir soal hormat pakar

Dalam diskusi di Istana, Prabowo menjelaskan bahwa ada kemungkinan kalimatnya ketika disampaikan kepada audiens tidak dipahami utuh. Ia mengakui bahwa sebagian orang bisa “memelintir” maksud yang ia sampaikan, sehingga muncul kesan seolah dirinya tidak menghormati pakar.

Prabowo kemudian menegaskan sikapnya berlawanan dengan kesan tersebut. Ia menyatakan dirinya paling menghormati pakar dan terbiasa mencari masukan dari akademisi maupun ahli untuk memperkuat keputusan yang akan diambil. Pernyataan itu ia sampaikan langsung dalam forum dengan 22 akademisi, yang menandai upaya merapatkan ruang dialog antara pemerintah dan komunitas ilmiah.

“Jangan salah ya menerima, kadang-kadang saya kalau bicara di audiens, suka dipelintir ya, dibilang seolah saya nggak hormati pakar. Saya paling hormat sama pakar,” ujar Prabowo.

Diskusi Istana fokus karhutla dan pengelolaan lahan gambut

Selain klarifikasi sikap, pertemuan tersebut juga memuat agenda substantif, yakni pengelolaan lahan gambut serta upaya pencegahan karhutla. Prabowo meminta para akademisi memberikan masukan mengenai langkah yang dinilai tepat untuk mencegah kebakaran, termasuk cara pandang terhadap gambut yang tidak hanya dipahami sebagai area rawan, tetapi juga sebagai ruang yang berpotensi dikelola secara lebih produktif.

Ia menekankan perlunya jawaban yang bisa diterapkan, terutama untuk kawasan hutan yang memiliki gambut. Dalam forum tersebut, Prabowo meminta pendapat yang spesifik, bukan sekadar pernyataan umum, agar rekomendasi yang lahir bisa menjawab kebutuhan pencegahan sebelum kebakaran terjadi.

“Sebagai ahli tolong saya diberi tahu apa langkah terbaik untuk kita cegah kebakaran di kawasan hutan, pertama, kedua kawasan hutan yang ada gambutnya, dua hal. Dan ketiga yang saya minta saran dari saudara-saudara, apakah gambut ini bisa kita manfaatkan ke arah produktif?” ujar Prabowo.

Pendekatan ilmiah dan mitigasi sebelum api muncul

Prabowo juga mendorong pendekatan ilmiah dalam pengelolaan gambut. Ia menyebut pencegahan karhutla perlu disiapkan lebih awal, bukan menunggu sampai kebakaran terjadi. Dalam pandangannya, upaya pencegahan harus berangkat dari solusi yang berbasis pengetahuan dan riset, sehingga kebijakan tidak hanya reaktif saat kondisi sudah darurat.

Ia menggarisbawahi bahwa diperlukan “jawaban ilmiah” untuk menghadapi persoalan gambut dan risiko kebakaran. Dengan cara pandang seperti ini, peran akademisi menjadi lebih menonjol karena rekomendasi yang diberikan diharapkan bisa diterjemahkan menjadi langkah operasional di lapangan.

“Tapi dengan gambut kalau bisa ada jawaban ilmiah, a scientific solution,” tutur Prabowo.

Pengalaman Prabowo cari ahli, terkait tugas dan cara mengambil keputusan

Prabowo mengaitkan sikapnya menghormati pakar dengan pengalamannya. Ia mengatakan pengalaman sebagai perwira TNI membuatnya terbiasa mencari masukan dari orang-orang yang memiliki keahlian di bidang tertentu. Menurutnya, keberhasilan dalam tugas tidak lepas dari kebiasaan mendengarkan masukan ahli, sehingga ia menempatkan peran pakar sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan.

Dalam penjelasan itu, Prabowo juga menegaskan bahwa sikap menghormati pakar bukan hanya slogan, melainkan kebiasaan yang ia jalankan. Pernyataan ini sekaligus menjadi jawaban atas polemik yang sempat muncul dari pidatonya sebelumnya, ketika ia menyampaikan kritik terhadap cara pandang sebagian pakar yang ia nilai tidak tepat.

“Saya paling hormat sama pakar, nggak bisa apapun saya, kenapa saya berhasil sebagai perwira karena saya selalu cari pakar,” ujar Prabowo.

Pidato PAN jadi pemantik, lalu klarifikasi di forum akademisi

Rangkaian pernyataan Prabowo berkaitan dengan pidato pada peringatan HUT ke-28 PAN di Jakarta pada Jumat, 18 September 2026. Enam hari setelah pidato itu, ia kembali menegaskan posisinya dalam pertemuan dengan akademisi di Istana pada Kamis, 24 September 2026.

Dalam pidato tersebut, Prabowo menyebut ada pakar-pakar yang menurutnya menganggap diri paling tahu. Ia juga menyinggung soal sikap yang ia nilai berlebihan akibat terlalu merasa pintar, hingga ia menyebut istilah “goblok”. Kini, ia memperjelas bahwa sebagian orang bisa salah menangkap maksud pembicaraan, sehingga perlu diluruskan bahwa dirinya justru mencari masukan dari pakar.

“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” kata Prabowo.

Dampak bagi warga: kesiapan mitigasi, embung, dan pompa air

Agenda pengelolaan gambut dan karhutla dalam pertemuan itu juga menyinggung langkah mitigasi yang menyangkut kesiapan di lapangan. Pemerintah disebut membahas antisipasi sebelum kebakaran terjadi, termasuk kesiapan petugas serta infrastruktur pendukung seperti embung dan pompa air.

Implikasinya langsung terasa bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan kebakaran dan kabut asap. Ketika mitigasi dilakukan lebih awal, risiko gangguan aktivitas harian seperti sekolah, transportasi, dan kesehatan pernapasan dapat ditekan. Selain itu, gagasan pemanfaatan gambut secara produktif berpotensi memengaruhi cara pandang pengelolaan lahan, karena membuka ruang agar wilayah gambut tidak hanya dipandang sebagai area yang harus dihindari, tetapi juga dikelola dengan pendekatan yang lebih terukur.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

x
x