Titik panas TPAS Galuga Bogor menurun, pemantauan 10 hari tetap dilakukan

Abdul Halim
18 Sep 2026 16:36
Peristiwa 0 23
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Titik panas di lahan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Kabupaten Bogor, menunjukkan penurunan dibanding hari-hari sebelumnya. Meski begitu, petugas tetap menjalankan pemantauan ketat untuk mengantisipasi munculnya titik api baru di area yang sama.

Rencana pengawasan dan penanganan masih akan berlangsung hingga 10 hari ke depan. Pemerintah Kota Bogor menegaskan, selain respons teknis, kesiapsiagaan, tata kelola, serta soliditas lintas unit menjadi bagian penting agar kejadian serupa tidak terulang.

Penurunan titik panas di TPAS Galuga, patroli tetap berjalan

Memasuki fase lanjutan penanganan, kondisi di TPAS Galuga disebut sudah lebih terkendali. Namun, petugas tidak menghentikan langkah pemantauan karena titik panas pada area tumpukan sampah dapat muncul kembali meski terlihat membaik.

Untuk itu, patroli dan pemantauan lapangan dijadwalkan tetap dilakukan hingga batas waktu 10 hari. Langkah ini bertujuan memastikan area yang sudah ditangani benar-benar stabil, sekaligus mendeteksi sedini mungkin bila ada titik panas baru yang belum terpantau.

Wali Kota Bogor tekankan pembelajaran dan mitigasi jangka pendek

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan bahwa penanganan kebakaran di TPAS Galuga tidak bisa diperlakukan sebagai pekerjaan sederhana. Kejadian tersebut menurutnya menjadi pembelajaran untuk memperkuat kesiapsiagaan, termasuk mitigasi agar kebakaran tidak kembali terjadi.

Dedie juga menyoroti aspek kebersamaan dan soliditas jajaran pemerintah. Ia menilai, penanganan di lapangan membutuhkan koordinasi yang rapi, baik dalam merespons kondisi darurat maupun menata langkah lanjutan setelah api terkendali.

Dalam arahannya, Dedie menekankan perlunya persiapan langkah antisipasi dan mitigasi, tidak hanya pada sisi sarana dan prasarana, tetapi juga pada tata kelola. Ia menyebut pekerjaan rumah yang harus diperhatikan masih cukup banyak, karena pengelolaan TPAS berkaitan langsung dengan risiko kebakaran berulang.

Upaya sejak awal kebakaran, dari water bombing hingga drone geothermal

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Rudy Mashudi, memaparkan perkembangan penanganan yang sudah memasuki hari ke-11. Kebakaran di lahan TPAS Galuga bermula pada Senin, 7 September 2026, dan sejak awal berbagai upaya dilakukan secara berlapis.

Rudy menyebut tindakan penanganan mencakup penyemprotan oleh Damkar, pemadaman menggunakan water bombing, serta proses pendinginan melalui pengangkatan dan penguraian tumpukan sampah dengan bantuan alat berat. Kombinasi metode ini digunakan untuk menurunkan panas dan mengurai material yang berpotensi menyala kembali.

Selain penanganan fisik, deteksi titik panas juga dilakukan dengan bantuan drone geothermal. Penggunaan teknologi tersebut membantu memastikan titik yang masih panas dapat dipetakan lebih akurat, sehingga langkah pendinginan dan pemadaman dapat diarahkan secara lebih efektif.

Evaluasi lapangan: kendala air, jangkauan selang, dan kebutuhan penguatan sarana

Rudy menjelaskan bahwa evaluasi awal penanganan mencakup kendala sumber air dan keterbatasan jangkauan selang pemadam menuju titik awal kebakaran. Kondisi seperti ini dapat memengaruhi kecepatan respons saat api masih berada pada fase awal dan titiknya sulit dijangkau.

Untuk 10 hari ke depan, rencana kerja meliputi patroli bersama, pendinginan area, serta pemantauan udara menggunakan drone. Koordinasi dan komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Bogor juga terus dijalankan agar pengendalian di TPAS berjalan selaras, terutama dalam pembagian peran dan tindak lanjut teknis.

Evaluasi lainnya berkaitan dengan penguatan sarana dan prasarana pendukung di TPAS Galuga. DLH menyebut kebutuhan mencakup peralatan pemadaman, teknologi pendeteksi panas, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam penanganan kondisi kebencanaan.

Dengan fokus pada pemantauan dan penguatan kesiapsiagaan, petugas berharap penurunan titik panas yang saat ini terlihat dapat bertahan, sementara risiko titik api baru tetap ditekan melalui deteksi dini dan pendinginan terarah.

x
x