Waste Station Rekosistem Bogor, warga dapat reward poin dari sampah

Abdul Halim
26 Sep 2026 12:39
Bogor 0 25
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Pemerintah Kota Bogor mengajak warga memilah sampah sejak dari sumbernya melalui fasilitas Waste Station Rekosistem yang tersedia di Balai Kota Bogor pada Sabtu, 26 September 2026. Inisiatif ini menempatkan pengelolaan sampah bukan sekadar urusan tempat pembuangan, melainkan bagian dari kebiasaan harian masyarakat.

Di fasilitas tersebut, sampah yang disetorkan tidak hanya diterima untuk diolah, tetapi juga diberi nilai ekonomi. Warga akan memperoleh reward point yang dapat dikonversi menjadi saldo, lalu dimasukkan ke dompet digital maupun rekening bank, sehingga keterlibatan warga terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Waste Station Rekosistem di Balai Kota Bogor untuk dorong budaya memilah

Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menjelaskan, Waste Station Rekosistem merupakan upaya membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak awal. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat perlu dibarengi pembangunan sistem yang membuat warga lebih mudah, tertarik, dan konsisten dalam memilah sampah.

Dedie menekankan bahwa persoalan persampahan tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah infrastruktur di bagian hilir. Tantangannya ada pada hulu, yaitu bagaimana sampah dipilah, dikurangi, dan dikelola lebih baik sebelum akhirnya masuk ke alur pengangkutan dan pemrosesan. Fasilitas ini diharapkan mendukung target Kota Bogor menuju kondisi Indonesia ASRI, yaitu Aman, Sehat, Resik, dan Indah.

Kolaborasi lintas pihak, membangun ekosistem persampahan berkelanjutan

Waste Station Rekosistem disebut sebagai hasil kolaborasi antara Pemkot Bogor dan Rekosistem, Yayasan Materia, Ford Foundation, Parongpong RAWHAUS, serta melibatkan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Lingkungan Hidup. Keterlibatan berbagai pihak ini menunjukkan bahwa program pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga membutuhkan dukungan dari sisi kebijakan, pendanaan, hingga pengembangan ekosistem operasional.

CEO dan Co-Founder Rekosistem, Ernest Christian Layman, menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah harus berjalan bersama keterlibatan masyarakat. Harapannya, warga tidak hanya menggunakan fasilitas sebagai tempat buang sampah, melainkan terlibat dalam proses pengelolaan sampahnya sendiri melalui kebiasaan memilah.

Jenis sampah yang bisa disetor, termasuk kemasan low value

Program ini membuka kesempatan bagi warga untuk menyetorkan beragam jenis sampah. Mulai dari plastik, botol plastik, sachet, bungkus mi instan, kemasan deterjen, sampah elektronik, minyak jelantah, kardus, kertas, logam, hingga botol kaca.

Menariknya, fasilitas ini juga menerima kemasan low value yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai ekonomi. Dengan mekanisme penilaian poin, sampah yang sebelumnya kurang dilirik tetap bisa dikumpulkan dan ditukarkan, sehingga warga memiliki opsi lebih luas ketika memilah sampah di rumah.

Ernest menjelaskan bahwa setiap jenis sampah memiliki nilai poin sebagai reward bagi masyarakat, termasuk plastik, botol plastik, sachet, hingga bungkus kemasan low value yang selama ini dinilai tidak bernilai.

Reward poin bisa dikonversi saldo, nilai Rp100 hingga Rp6.000 per kg

Nilai reward yang diberikan bervariasi, mulai dari Rp100 hingga Rp6.000 per kilogram. Besaran ini bergantung pada jenis sampah yang disetorkan, sehingga warga terdorong untuk memilah berdasarkan kategori yang sesuai dengan nilai poin yang lebih tinggi.

Ke depan, nilai poin disebut masih dapat dikembangkan seiring meningkatnya antusiasme masyarakat dan konsistensi memilah sampah. Pola seperti ini membuat program tidak berhenti pada penyediaan alat, tetapi juga memberi ruang penyesuaian berdasarkan respons warga di lapangan.

Dampak langsung bagi warga dan arah ekonomi sirkular di Kota Bogor

Skema reward point yang dapat dikonversi menjadi saldo dan masuk ke dompet digital maupun rekening bank membuat insentifnya terasa nyata. Bagi warga, sampah yang sebelumnya identik dengan beban pengelolaan dapat berubah menjadi aktivitas yang memberi apresiasi, sekaligus mendorong kebiasaan memilah sebelum barang-barang tersebut dikumpulkan.

Dengan pendekatan dari hulu ke hilir, pengelolaan sampah di Kota Bogor diarahkan tidak hanya untuk mengurangi beban pembuangan akhir, tetapi juga menciptakan ekonomi sirkular yang melibatkan masyarakat sejak proses awal. Saat warga konsisten memilah, alur pengolahan menjadi lebih tertata, sementara kesempatan pemanfaatan kembali atas material bernilai juga semakin terbuka.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

x
x