INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Kawasan kuliner Taman Budaya, Sentul City Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kedatangan warna baru bagi para pencinta kuliner. Sukses dengan cabang pertamanya di One Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan, Olla Cafe kini resmi membuka cabang keduanya di Taman Budaya dengan membawa konsep segar yang memadukan keunikan interior lintas benua dan kelezatan kuliner khas Malaysia.
Arkhan (24), Supervisor Olla Cafe cabang Taman Budaya, menceritakan transformasi menarik dari lini bisnis kuliner yang berada di bawah naungan PT Magal Grup (kategori non-Magal) ini.
“Dulu konsep menu kita lebih ke western, tapi sekarang kita beralih menggunakan konsep ‘Olama’ yang kiblatnya lebih ke arah masakan Malaysia,” ujar Arkhan saat ditemui di lokasi, Senin (15/6/2026).
Meskipun beralih haluan ke menu Melayu, Olla Cafe tetap mempertahankan standar rasa yang kuat. Saat ini, Olla Cafe tengah gencar mengenalkan Bakmie Series sebagai menu baru mereka. Di antara deretan menu yang ada, varian Rendang dan Kari menjadi rekomendasi mutlak yang wajib dicoba.

“Kalau untuk makanan, yang paling spesial menurut saya itu rendang dan karinya, itu enak banget. Tapi kembali lagi ke selera konsumen ya. Kalau di menu Olama sendiri, sejauh ini yang paling banyak diminati pengunjung itu Nasi Lemak, Rendang Sapi, dan Nasi Ayam Panggang,” jelas Arkhan.
Bagi pencinta kopi, Olla Cafe juga menawarkan pengalaman rasa yang berbeda lewat dua menu signature-nya, Ola Cafe dan Ola Macchiato (Olla Pink Macchiato)
“Basic-nya memakai double espresso, whipping cream, dan es krim. Jadi perpaduannya menghasilkan rasa yang manis, strong, dan creamy. Penggunaan susunya tidak terlalu banyak, sehingga aftertaste-nya cenderung kuat dan manis. Bedanya, kalau untuk varian Olla Cafe, kita kombinasikan dengan fresh milk,” tambahnya.
Tidak hanya soal lidah, Olla Cafe juga menjual suasana (ambience) yang menjadikannya tempat ideal untuk bersantai. Mengusung tema lifestyle, kafe ini menawarkan interior berkonsep vintage yang unik karena memadukan estetika dari beberapa benua sekaligus.
Saat memasuki area indoor, pengunjung akan disuguhi atmosfer bergaya semi-Italian dan Western. Sementara jika bergeser ke area lantai atas, nuansa berganti menjadi estetik khas Asia. Perpaduan gaya Malaysia, Italia, dan Barat inilah yang menjadi daya tarik visual bagi para pemburu foto estetik.
Untuk melayani pengunjung, Olla Cafe Taman Budaya Sentul City beroperasi mulai pukul 09.00 – 22.00 WIB pada hari kerja (weekday). Sedangkan pada akhir pekan (weekend), mereka buka lebih awal dan tutup lebih lambat, yaitu dari pukul 07.00 hingga 24.00 WIB, didukung oleh tim yang bekerja dengan sistem 6 hari kerja dan 1 hari libur.
Di tengah potensi besar yang dimiliki, Arkhan tidak menampik adanya tantangan operasional di lapangan. Menurutnya, tingkat keramaian pengunjung di Taman Budaya saat ini masih fluktuatif dan sangat bergantung pada aktivitas kawasan. Hal ini turut berdampak pada seluruh dari total 10 tenant yang ada di area tersebut (termasuk tenant besar seperti Fori dan Nagal).
Sebagai perwakilan tenant, Arkhan berharap pihak manajemen pengelola Taman Budaya bisa lebih agresif dan kreatif dalam menyelenggarakan acara-acara besar secara rutin.
“Kendalanya mungkin kurang kreativitas atau event dari pihak Taman Budaya, dan itu berpengaruh ke semua tenant, bukan cuma Olla Cafe aja. Seperti kemarin waktu ada event lari, itu dampaknya lumayan bagus banget, semua outlet jadi ramai,” ungkap Arkhan.
Ia berharap ke depannya pihak pengelola bisa memperbanyak agenda kreatif guna menstabilkan trafik pengunjung sekaligus menjaga keberlangsungan bisnis para tenant di sekitar kawasan.
“Harapan saya sering-sering bikin event kreatif langsung dari Taman Budayanya. Ini juga penting untuk meminimalisir agar jangan sampai ada tenant yang tutup di sekitar sini,” pungkasnya.

















