
INFOPANTULAN.COM, BOGOR– Krisis air bersih akibat musim kemarau semakin meluas di Kabupaten Bogor. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mencatat, hingga saat ini permintaan bantuan air bersih telah datang dari 32 kecamatan.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Bogor, Ade Hasrat, mengatakan permintaan air bersih sebenarnya sudah mulai muncul sejak awal Juni 2026. Namun, intensitas permintaan terus meningkat seiring berlangsungnya musim kemarau.
“Sampai hari ini sudah ada permintaan air bersih di 32 kecamatan. Kekeringan ini sudah mulai ada permintaan sejak awal bulan Juni dan intensitasnya terus meningkat,” ujar Ade Hasrat.
BPBD Kabupaten Bogor pun terus meningkatkan kesiapsiagaan. Pasalnya, berdasarkan informasi yang disampaikan pemerintah daerah mengacu pada rilis BMKG, puncak kekeringan diperkirakan masih akan terjadi pada Oktober mendatang.
“Seperti yang sudah disampaikan Pak Bupati (Rudy Susmanto), kita masih terus berupaya mengantisipasi karena puncak kekeringannya diperkirakan pada bulan Oktober,” katanya.
Hampir 10 Juta Liter Air Bersih Sudah Didistribusikan
Untuk menangani kondisi darurat tersebut, Pemerintah Kabupaten Bogor dapat memanfaatkan Belanja Tidak Terduga (BTT) setelah status tanggap darurat kekeringan ditetapkan.
Dana tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional penanganan kekeringan, termasuk pembelian bahan bakar hingga biaya pengiriman air bersih kepada masyarakat terdampak.
“Karena kita sudah menetapkan tanggap darurat, maka ketentuannya kita bisa mempergunakan dana BTT atau biaya tidak terduga,” jelas Ade pada awak media, Rabu (2/9/2026).
Distribusi air bersih dilakukan secara bersama-sama oleh sejumlah perangkat daerah. Tidak hanya BPBD, armada dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan serta Dinas Sosial juga turut membantu pengiriman air kepada warga.
Selain itu, bantuan air dalam jumlah besar juga diperoleh secara gratis dari Perumda Air Minum Tirta Kahuripan.
“Yang mengirimkan bukan hanya BPBD, Damkar juga, kemudian dari Dinsos juga ada. Yang terbesar memang kita memperoleh bantuan air gratis,” ujarnya.
Hingga saat ini, BPBD mencatat hampir 10 juta liter air bersih telah dikirimkan kepada masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Bogor yang terdampak kekeringan.
Bogor Timur dan Barat Mulai Terasa Parah
Ade mengungkapkan, pada awal musim kemarau wilayah Rancabungur menjadi salah satu daerah yang pertama kali mengajukan permintaan air bersih.
Namun kini, dampak kekeringan mulai semakin terasa di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor bagian timur dan barat.
Di wilayah timur, daerah yang mulai mengalami kondisi cukup parah di antaranya Tanjungsari, Cariu, dan Jonggol. Sementara di wilayah barat, kekeringan mulai dirasakan di Tenjo dan Parung Panjang.
“Kalau sekarang mulai terasa parah itu di Bogor bagian timur dan barat. Bogor timur itu Tanjungsari, Cariu, Jonggol. Kalau bagian barat Tenjo, Parung Panjang,” ungkapnya.
Meski permintaan bantuan terus meningkat, Ade memastikan sejauh ini pendistribusian air bersih masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Sejauh ini alhamdulillah belum ada kendala yang berarti berkaitan dengan pendistribusian air bersih. Semua masih bisa terpenuhi,” katanya.
Namun, dalam proses distribusi terkadang terjadi persoalan teknis di lapangan. Misalnya, ketika bantuan air ditujukan untuk satu wilayah tertentu, warga di lingkungan sekitar yang juga mengalami kekeringan turut meminta bantuan terlebih dahulu.
BPBD pun berupaya mengantisipasi kondisi tersebut agar distribusi air dapat menjangkau seluruh warga terdampak secara merata.
Debit Sungai Turun Drastis
Selain kesulitan mendapatkan air bersih, musim kemarau juga berdampak terhadap kondisi sejumlah sungai di Kabupaten Bogor. Berkurangnya curah hujan di wilayah hulu menyebabkan debit air sungai mengalami penurunan drastis.
Ade mengatakan pemerintah daerah telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk mencari langkah antisipasi, termasuk melakukan normalisasi sejumlah tampungan air.
Pemerintah Kabupaten Bogor juga mendorong peningkatan daya tampung air melalui pekerjaan yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
Namun demikian, Ade menegaskan persoalan utama tetap berada pada berkurangnya sumber air dari wilayah hulu.
“Kalau sumber air dari hulunya memang sudah tidak ada, otomatis debit sungai juga pasti berkurang drastis,” katanya.
Sementara itu, distribusi air bersih menggunakan mobil tangki yang dilakukan BPBD dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Untuk sektor pertanian, penanganan akan dilakukan melalui mekanisme dan instansi terkait, termasuk upaya normalisasi saluran serta pemanfaatan pompa atau mesin untuk membantu kebutuhan pengairan.
BPBD Kabupaten Bogor pun terus melakukan inventarisasi wilayah terdampak dan mendorong koordinasi lintas perangkat daerah guna menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan masih akan meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

