Pekan Sastra Bogor 19-20 September 2026, Lapak Baca Gelar Diskusi dan Screening

Abdul Halim
20 Sep 2026 00:05
Peristiwa 0 23
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Pekan Sastra Bogor akan digelar pada 19 hingga 20 September 2026 di Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor. Komunitas Lapak Baca menyusun rangkaian kegiatan dua hari yang mempertemukan sastrawan, komunitas pembaca, pegiat literasi, hingga komunitas film agar ekosistem sastra di Kota Bogor bisa dibahas dari berbagai sudut.

Acara ini dibuka dengan agenda Wisata Sastra Kota pada Sabtu 19 September, lalu berlanjut ke diskusi sejarah sastra, pembahasan ekosistem sastra, bazar buku, sesi membaca bersama, serta penutup berupa screening dan diskusi ekosistem film. Project Manager Pekan Sastra Bogor, Moch Aldy MA, menekankan bahwa kegiatan tidak hanya ditujukan untuk menghadirkan figur sastra, melainkan juga membuka ruang pertemuan antara pembaca dan buku.

Wisata Sastra Kota jadi pembuka Pekan Sastra Bogor

Pada hari pertama, Pekan Sastra Bogor dibuka melalui Wisata Sastra Kota yang bekerja sama dengan komunitas sejarah Bujangga Manik Society. Format wisata ini memberi cara pandang berbeda, karena peserta tidak berhenti pada pembahasan di ruang diskusi, melainkan diajak menelusuri konteks yang membentuk tradisi literasi di Bogor.

Kolaborasi dengan komunitas sejarah juga menguatkan gagasan bahwa sastra tumbuh bersama ruang sosialnya. Dengan pendekatan seperti ini, peserta dapat melihat bagaimana jejak budaya dan pengetahuan lokal berhubungan dengan cara orang menulis, membaca, dan saling bertukar gagasan dari waktu ke waktu.

Diskusi sejarah sastra dan ekosistem literasi Kota Bogor

Setelah pembukaan, rangkaian kegiatan beralih ke diskusi sejarah sastra yang menghadirkan sastrawan dari Bogor dan tingkat nasional. Fokusnya tidak hanya pada karya sastra sebagai produk akhir, tetapi juga pada perjalanan yang melingkupi lahirnya karya, termasuk relasi antar pelaku, komunitas, serta pembaca.

Dalam sesi lanjutan, panitia mengangkat tema ekosistem sastra, khususnya perkembangan sastra di Kota Bogor. Bagi penyelenggara, pembahasan ekosistem berarti melihat keterhubungan antara berbagai elemen: penulis, komunitas, penerbit, arsip, dan ruang-ruang yang selama ini menjadi tempat diskusi maupun aktivitas literasi.

Film, pemutaran, dan diskusi ekosistem film

Menariknya, panitia juga melibatkan komunitas film di Bogor. Selain diskusi sastra, disiapkan pemutaran dan diskusi film yang bekerja sama dengan Komunitas Film Bogor, Agrimovie dari IPB University, Bale Film, dan Kolektips Cinema Cigombong. Kehadiran medium film memberi perluasan cara membaca teks, karena cerita dan narasi dapat menghubungkan minat penonton dengan tradisi membaca dan menulis.

Hari terakhir ditutup dengan Screening dan Diskusi Ekosistem Film di Bogor. Dengan format penutup seperti ini, acara tidak berhenti pada kegiatan literasi konvensional, tetapi menguji bagaimana ekosistem kreatif yang lebih luas bisa berdialog dengan sastra.

Bazar buku dan Chill Reading untuk mempertemukan pembaca dengan buku

Selain diskusi dan pemutaran, panitia menyiapkan bazar buku yang melibatkan sejumlah penerbit besar. Kehadiran bazar buku menjadi jembatan langsung antara pembicara dan pembaca, karena peserta bisa menemukan bacaan baru secara nyata, bukan hanya mengikuti obrolan di forum.

Pada Minggu 20 September, kegiatan dilanjutkan dengan Chill Reading, sesi membaca bersama yang bekerja sama dengan komunitas Bogor Book Party. Aktivitas semacam ini biasanya membuat suasana lebih santai, namun tetap menjaga fokus pada kebiasaan membaca. Dalam konteks Pekan Sastra Bogor, Chill Reading juga berfungsi sebagai ruang latihan kebiasaan literasi yang bisa berlanjut setelah acara selesai.

Generasi muda dekat dengan sastra lewat berbagai medium

Moch Aldy MA menyampaikan bahwa Pekan Sastra Bogor sengaja dirancang agar sastra bisa dilihat sebagai ekosistem, bukan sekadar daftar nama atau forum yang hanya diikuti kalangan tertentu. Ia menyebut keterlibatan berbagai pihak, mulai dari komunitas film sampai penerbit, sebagai cara untuk mempertemukan pembaca dengan buku sekaligus membuka peluang diskusi lintas komunitas.

Aldy juga menyoroti perubahan cara generasi muda berhubungan dengan sastra. Menurutnya, anak muda tidak selalu datang ke acara sastra atau membeli buku puisi, tetapi menemukan teks melalui media sosial, film, musik, zine, dan komunitas yang lebih dekat dengan keseharian mereka. Tantangannya kemudian adalah bagaimana medium-medium tersebut bisa diarahkan agar terhubung dengan tradisi membaca dan menulis yang lebih serius.

Ia berharap Pekan Sastra Bogor tidak berakhir pada dua hari agenda. Yang dicari penyelenggara adalah dampak setelah kegiatan berlangsung, misalnya peserta pulang membawa buku, membentuk kelompok baca, menulis, atau menciptakan kegiatan lanjutan. Harapan itu sejalan dengan tujuan panitia untuk melihat sastra sebagai jaringan hubungan antara karya, pembaca, komunitas, penerbit, arsip, dan berbagai kerja kebudayaan yang hidup di Kota Bogor.

x
x