Sorotan Keracunan MBG Muncul di Banyak Daerah, Pengelola SPPG Kemang Bongkar Pentingnya Disiplin Dapur

Riky Iskandar
26 Sep 2026 14:11
News 0 41
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Kasus dugaan keracunan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah menjadi alarm bagi pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Bukan hanya soal menu dan kandungan gizi, proses pengolahan makanan hingga makanan tiba di tangan siswa dinilai harus menjadi perhatian serius.

Pemilik SPPG Kampung Jampang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Deni Pramuji, mengatakan tata kelola dapur menjadi salah satu kunci untuk mencegah terjadinya persoalan pada makanan yang dibagikan kepada para penerima MBG.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele lantaran MBG setiap hari dikonsumsi dalam jumlah besar oleh siswa maupun guru di sekolah.

“Saya melihat banyaknya kasus keracunan MBG, bahkan yang bikin sangat prihatin adanya siswa di sekolah yang menolak MBG dari dapur SPPG,” ujar Deni kepada wartawan, Sabtu (26/9/2026).

Deni menilai, salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah kesiapan dapur dan sumber daya manusia yang mengelola makanan.

Ia mengaku menemukan masih adanya dapur SPPG yang menurutnya belum dipersiapkan secara matang, termasuk dari sisi pengalaman tenaga pemasak.

“Yang saya lihat ada SPPG itu para pemasaknya tidak berpengalaman di bagian tata boga, masak-memasak. Jadi dapur-dapur itu berdiri tanpa persiapan,” ungkapnya.

Berangkat dari pengalaman mengelola sekitar 10 dapur SPPG, Deni pun menekankan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) secara ketat.

Menurut dia, proses memasak dalam jumlah besar untuk kebutuhan MBG tidak bisa disamakan dengan memasak makanan di rumah.

“Kita harus lakukan langkah persuasif seperti memberi tahu baik-baik kepada para chef agar tidak menyamakan proses memasak di rumah orang tuanya dengan di dapur SPPG, mengingat di dapur SPPG itu ada takaran SOP-nya,” jelasnya.

Ia juga mendorong pemilik SPPG tidak hanya menyerahkan seluruh proses kepada tenaga pemasak, tetapi ikut melakukan pengawasan secara langsung.

Terlebih, jika terdapat tenaga pemasak yang belum memiliki pengalaman memadai dalam mengelola makanan dalam skala besar.

“Pemilik juga harus berperan aktif dalam mendampingi para chef di dapurnya yang belum terlalu menguasai kemampuan memasak. Pendampingan itu sekitar tiga hari tiga malam agar makanan yang disajikan sesuai SOP,” kata Deni.

Menurutnya, pengawasan sejak tahap persiapan hingga makanan siap didistribusikan menjadi bagian penting untuk memastikan proses berjalan sesuai standar.

“Jadi, kita pastikan dapur kita baik dan cara pengelolaannya baik sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.

Siswa Menolak MBG, SPPG Diminta Berbenah
Deni juga menyoroti munculnya penolakan terhadap makanan MBG dari sejumlah dapur SPPG di sekolah.

Menurut dia, kepercayaan pihak sekolah dan siswa harus dibangun kembali melalui pembuktian, bukan sekadar penjelasan.

Ia menyarankan SPPG yang mendapat penolakan melakukan evaluasi dan pembenahan terlebih dahulu sebelum kembali mendistribusikan makanan ke sekolah.

“Sampaikan permintaan maaf dan buktikan kepada pihak sekolah bahwa dapur tersebut telah diperbaiki dari sisi kualitas kesehatan makanannya,” ujarnya.

Deni mengingatkan, pembenahan harus benar-benar dilakukan sebelum SPPG kembali datang ke sekolah.

“Jangan sampai datang ke sekolah, tapi dapur masih belum diperbaiki,” pungkasnya. (Nelly)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

x
x