
INFOPANTULAN.COM – Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi Universitas Islam Bogor (HIPMI PT UIB) mengikuti kegiatan Campus Tour by Google Gemini di Universitas Indonesia (UI), Sabtu, 26 September 2026. Acara di lingkungan UI ini berfokus pada pengenalan kecerdasan buatan, khususnya cara memanfaatkan Google Gemini untuk kebutuhan pembelajaran, produktivitas, riset, hingga pengembangan ide bisnis.
Kegiatan tersebut berlangsung di kampus UI dan menjadi ruang edukasi terarah bagi peserta untuk memahami bagaimana Gemini dapat membantu mengolah informasi, merangkum materi bacaan, mengembangkan gagasan, menyusun konsep tulisan, serta mencari alternatif solusi atas persoalan yang sedang dipelajari. Dalam sesi pengenalan, peserta juga didorong agar tidak berhenti pada hasil cepat, melainkan mengerti cara kerja AI agar penggunaannya lebih tepat guna.
Campus Tour by Google Gemini menghadirkan materi yang menekankan manfaat AI untuk konteks akademik. Bagi mahasiswa, teknologi semacam Gemini dapat dipakai untuk menyusun kerangka tugas, membantu merumuskan ide penelitian, membuat rancangan presentasi, hingga membantu memahami topik yang terasa kompleks. Namun, arah pembelajaran yang disampaikan bukan sekadar “minta jawaban”, melainkan bagaimana mengarahkan AI agar menghasilkan output yang relevan dengan kebutuhan studi masing-masing.
Peserta diperkenalkan pada berbagai contoh penggunaan, mulai dari mengolah informasi sampai menyusun konsep tulisan. Pada praktiknya, kemampuan mahasiswa dalam memetakan kebutuhan menjadi kunci. Ketika tujuan sudah jelas, hasil yang keluar biasanya lebih sesuai dengan konteks, misalnya untuk merangkum bahan bacaan tertentu atau mengembangkan gagasan presentasi yang terstruktur.
Meski AI dapat mempercepat proses, peserta juga diingatkan agar tetap menggunakan kemampuan berpikir kritis. Informasi yang dihasilkan dari AI perlu diperiksa kembali menggunakan sumber tepercaya. Hal ini penting karena output AI bisa saja tidak sepenuhnya tepat bila konteksnya kurang spesifik atau bila data yang dipakai belum terverifikasi.
Dalam kegiatan tersebut, poin tanggung jawab akademik ditegaskan. AI tidak semestinya menggantikan proses berpikir mandiri mahasiswa, terutama saat menyusun argumen, menarik kesimpulan, atau merumuskan gagasan penelitian. Proses belajar tetap membutuhkan verifikasi, penalaran, dan pemahaman mendalam, bukan hanya mengandalkan hasil instan.
Bagian edukasi lain yang ditonjolkan adalah pentingnya menyusun prompt atau instruksi yang jelas ketika menggunakan AI. Peserta diarahkan untuk memperhatikan konteks, tujuan, dan pertanyaan yang diberikan kepada Gemini, karena ketiganya akan memengaruhi relevansi hasil yang diperoleh.
Dengan kata lain, cara menulis instruksi menentukan kualitas output. Jika pertanyaan terlalu umum, hasil yang muncul cenderung melebar. Sebaliknya, ketika instruksi menyertakan batasan topik, kebutuhan format, atau tujuan spesifik, AI bisa membantu menyusun materi yang lebih sesuai untuk aktivitas akademik maupun kebutuhan kerja kelompok.
Kegiatan ini juga memiliki keterkaitan kuat dengan dunia kewirausahaan, sejalan dengan perhatian HIPMI PT UIB terhadap penguatan minat dan kapasitas berusaha. Dalam materi yang disampaikan, Google Gemini diposisikan sebagai alat untuk membantu mengembangkan ide usaha, mengenali profil konsumen, menyusun rancangan business plan, mengembangkan identitas merek, hingga menyiapkan materi komunikasi bisnis.
Relevansi AI untuk wirausaha tidak hanya berhenti pada kecepatan. Peserta diarahkan untuk melihat AI sebagai teknologi yang bisa membantu eksplorasi gagasan, meningkatkan efisiensi kerja, dan memperluas cara berpikir ketika merancang strategi usaha. Dengan dukungan AI, mahasiswa dapat mencoba berbagai variasi ide secara lebih cepat sebelum mematangkan rencana yang benar-benar akan dijalankan.
Di luar aspek teknis, peserta juga mendapatkan penekanan mengenai tanggung jawab penggunaan AI. Mereka diingatkan soal kejujuran akademik, perlindungan data pribadi, hak cipta, keamanan informasi, serta etika komunikasi. AI harus dipakai secara bertanggung jawab, termasuk tidak digunakan untuk plagiarisme atau untuk menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Aturan etika ini penting karena penggunaan AI sering melibatkan proses pengolahan informasi. Ketika mahasiswa menggunakan data pribadi atau materi yang dilindungi hak cipta, risiko pelanggaran bisa muncul. Karena itu, pemahaman batasan penggunaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengenalan teknologi.
Salah satu peserta, Aqsal, menyampaikan bahwa ia memperoleh pengalaman baru dalam memahami penggunaan AI secara lebih terarah. Menurutnya, kegiatan tidak hanya memperkenalkan teknologi AI, tetapi juga mengajak peserta memahami cara memanfaatkannya secara produktif dan bertanggung jawab. Ia mengaku merasa lebih percaya diri untuk menggunakan Gemini dalam belajar, menyusun ide, serta mengembangkan rencana usaha.
Pelaksanaan di lingkungan UI turut menjadi momentum untuk memperluas wawasan sekaligus membuka peluang jejaring antarmahasiswa. Dengan adanya pertemuan lintas bidang seperti pendidikan, kewirausahaan, dan teknologi, peserta mendapat kesempatan untuk bertukar perspektif dan memperkaya cara pandang sebelum menerapkan AI pada aktivitas akademik maupun rencana bisnis masing-masing.


Tidak ada komentar