Penataan 20 Area Lahan Bojonggede-Kemang Bogor Mulai Jalan Bertahap

Abdul Halim
28 Sep 2026 13:25
Bogor 0 27
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Penataan kawasan lahan di ruas Jalan Bojonggede-Kemang (Bomang), Kabupaten Bogor, dikerjakan bertahap oleh sejumlah perangkat daerah dengan pembagian lahan menjadi sekitar 20 area sesuai fungsi. Koordinator Ketahanan Pangan Bomang, Kapten Inf. Wawan, menjelaskan pembagian dilakukan menyesuaikan kebutuhan dan kapasitas tiap dinas yang terlibat.

Pelaksanaan penataan ini disampaikan Kapten Inf. Wawan saat kunjungan lapangan pada Senin, 28 September 2026, di kawasan Bomang yang membentang dari titik lampu merah Jampang hingga area setelah rel. Prosesnya melibatkan kerja perataan, pengembangan sektor pertanian dan perkebunan, penyiapan fasilitas bioflok, hingga pembukaan area ekowisata.

Pembagian 20 area di Jalan Bojonggede-Kemang (Bomang)

Menurut Kapten Inf. Wawan, skema penataan membagi kawasan menjadi 20 area dengan batas yang berurutan. Area 1 dimulai dari lampu merah Jampang dan berakhir di Area 20 setelah rel. Namun, Area 20 tidak diarahkan untuk pertanian karena letaknya terlalu dekat dengan hutan kota, sehingga peruntukannya dialihkan menjadi bagian dari ruang hijau tersebut.

Pola pembagian ini tidak hanya soal tata ruang, tetapi juga cara menyelaraskan fungsi lahan dengan karakter geografis. Sebagian lahan, kata Wawan, dibiarkan mengikuti kontur tanah agar tetap berperan sebagai penahan jalan dan tebing, sehingga risiko longsor dapat ditekan. Artinya, tidak semua bidang diratakan sampai datar, karena kondisi tanah dan kebutuhan stabilitas infrastruktur menjadi pertimbangan utama.

Dinas Tanaman Pangan fokus pertanian dan perkebunan

Dalam pembagian porsi lahan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) mendapat area yang relatif besar untuk mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan. Kapten Inf. Wawan menegaskan bahwa fokus pertanian memang berada pada dinas tersebut, sementara perangkat daerah lain menempati lahan sesuai kapasitas dan kebutuhan masing-masing.

Dengan pengaturan seperti ini, pengembangan pertanian diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi terintegrasi dengan fungsi lain di kawasan. Misalnya, keberadaan area yang disiapkan untuk kegiatan perikanan dan ekowisata dapat memberi variasi aktivitas, sehingga pengelolaan kawasan lebih beragam dan tidak bertumpu pada satu jenis pemanfaatan lahan.

Bioflok, rataan lahan DLH, dan rambu perempatan

Dinas Perikanan disebut menyiapkan fasilitas bioflok di salah satu area. Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memperoleh area yang sudah diratakan untuk disiapkan sesuai kebutuhan. Penataan yang dilakukan tidak berhenti pada pemanfaatan lahan, tetapi juga menyasar aspek dasar keselamatan dan akses, termasuk pemasangan rambu-rambu di sejumlah perempatan yang dikerjakan oleh Dinas Perhubungan sebagai bagian dari penataan awal.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa pembenahan kawasan dilakukan lintas sektor. Rambu perempatan misalnya, berpengaruh langsung terhadap kelancaran arus kendaraan dan keamanan pengguna jalan saat pengerjaan maupun setelah kawasan beroperasi sesuai rencana.

Ekowisata serta penataan Area 5 dan Area 6

Area ekowisata sudah dibuka, lalu akan masuk pada tahap penataan lanjutan sesuai konsep yang disiapkan. Pada saat yang sama, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) melakukan penataan di Area 5 dan Area 6. Area 5 sudah diratakan dan dikupas menggunakan alat berat, sedangkan Area 6 masih memuat lahan CSR yang dipakai sebagai tempat karantina tanaman hasil relokasi.

Model penataan ini memperlihatkan adanya kesinambungan antara kegiatan relokasi tanaman dan kebutuhan pengembangan fasilitas. Karantina tanaman di Area 6 menjadi jembatan agar tanaman hasil pemindahan dapat ditangani sebelum akhirnya siap ditempatkan pada area yang sesuai.

Alat berat bertambah, Area 3 jadi pekerjaan terpanjang

Pengerjaan di lapangan menggunakan alat berat. Saat kunjungan Bupati Bogor Rudy Susmanto, tersedia tiga unit ekskavator, kemudian kini ditambah satu unit traktor. Kapten Inf. Wawan menyebut penambahan alat bertujuan mempercepat pekerjaan di area yang masih berat.

Ia juga menjelaskan tidak semua bagian dikerjakan dengan tahapan yang sama. Area yang paling berat dan belum tuntas adalah Area 3 dengan panjang sekitar 1,3 kilometer. Kondisi panjang segmen dan kebutuhan penanganan di lapangan membuat prosesnya berjalan lebih lama dibanding area lain yang skalanya lebih pendek atau tahapannya lebih sederhana.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

x
x