
INFOPANTULAN.COM – Sejauh Mata Memandang merayakan 12 tahun perjalanan kreatifnya dengan membuka Toko Sejauh, toko permanen pertama brand tersebut di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat. Peresmian dilakukan pada Kamis, 1 Oktober 2026, sekaligus menandai pergeseran dari aktivitas yang selama ini banyak berbentuk pameran dan kolaborasi menjadi ruang fisik yang bisa dikunjungi secara berkelanjutan.
Langkah ini membawa fokus pada hubungan antara sandang, tradisi, manusia, dan keberlanjutan, bukan hanya penjualan produk. Toko tersebut dirancang sebagai tempat pengunjung memahami cerita di balik karya, proses produksi, serta figur yang terlibat, termasuk lewat kolaborasi mitra pada momen pembukaan.
Toko di Plaza Indonesia tidak diposisikan sebagai etalase semata. Brand tersebut menekankan fungsi ruang sebagai tempat perjumpaan, tempat orang bisa menelusuri cerita, proses, dan orang-orang yang membentuk perjalanan Sejauh Mata Memandang selama ini. Di saat yang sama, “Sahabat Sejauh” juga ditempatkan sebagai komunitas yang diharapkan tetap terhubung, tidak berhenti saat pameran berakhir.
Sentuhan personal terasa dari konsep interior yang dikaitkan dengan pendiri sekaligus Direktur Kreatif Sejauh Mata Memandang, Chitra Subyakto. Toko dirancang bersama Felix Tjahjadi dengan mengambil inspirasi dari rumah keluarga Chitra saat ia kecil. Sejumlah foto rumah keluarga dan beberapa mebel antik dari rumah tersebut ikut ditempatkan di dalam toko, sehingga suasananya hangat, berlapis memori, dan terasa akrab bagi pengunjung yang meluangkan waktu.
Warna terakota menjadi elemen visual yang menonjol, terlihat pada fasad toko melalui penggunaan tegel dari Tegel Kunci. Palet hangat ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipadukan dengan material lain yang mendukung gagasan pemanfaatan kembali sumber daya.
Pada bagian rak, pilar, hingga beberapa furnitur, toko memanfaatkan kayu hasil guna ulang. Pilihan material tersebut memberi kesan natural sekaligus memperkuat pesan keberlanjutan yang dibawa brand. Tekstur yang lebih hidup juga hadir dari penggunaan tenun tangan berbahan serat alami dari ROA Handwoven sebagai pelapis dinding di sebagian area.
Perpaduan ragam material ini membuat kunjungan tidak hanya berputar pada produk jadi. Pengunjung diarahkan untuk merasakan bagaimana ruang menyampaikan nilai kerajinan dan keberlanjutan melalui detail yang bisa dilihat dan disentuh.
Pada hari pembukaan, area etalase menghadirkan kolaborasi Sejauh Mata Memandang dengan KhayalKini. Dalam kolaborasi tersebut, tanaman tillandsia dipadukan dengan kain perca sisa produksi Sejauh.
Gagasan ini menampilkan bagaimana bahan yang sebelumnya tersisa dapat diolah kembali menjadi elemen bernilai estetis. Dengan cara itu, toko tidak hanya memajang hasil akhir, tetapi juga memperlihatkan cara pikir yang mendorong transformasi bahan, dari sisa produksi menuju karya yang tetap menarik untuk dilihat.
Peresmian toko permanen juga menjadi penanda lanjutan kerja sama jangka panjang antara Sejauh Mata Memandang dan Plaza Indonesia. Chitra Subyakto menyebut keterkaitan tersebut bermula pada 2015, saat brand menggelar pameran pertamanya di lokasi itu.
Setelah lebih dari satu dekade menghadirkan pameran, kolaborasi, dan inisiatif lain, kini brand kembali dengan bentuk yang lebih menetap. Zamri Mamat, Chief Marketing Officer Plaza Indonesia, menyatakan kehadiran Toko Sejauh melengkapi area Indonesian Icons di Level 3. Ia menempatkan toko ini sebagai kelanjutan hubungan yang sudah terbentuk sebelumnya, sekaligus ruang permanen untuk mempertemukan karya, komunitas, kolaborator, dan gagasan masa depan sandang.
Berbeda dari konsep pop-up yang biasanya hadir dalam periode terbatas, Toko Sejauh dirancang sebagai ruang yang bisa dikunjungi terus. Koleksi yang ditampilkan bersama mitra akan berganti secara berkala, sehingga pengalaman berkunjung bisa berubah mengikuti kerja sama yang dikembangkan Sejauh Mata Memandang.
Pada pembukaan perdana, salah satu koleksi mitra yang ditampilkan adalah tenun dari Rumah Tenun Baku Peduli berupa kain tenun Songket dari Cibal, Flores, Nusa Tenggara Timur. Kain tersebut dibuat oleh penenun lokal menggunakan pewarna alami dari kekayaan alam setempat. Dari penjualan kain, 100 persen keuntungan dikembalikan kepada para penenun untuk mendukung pemulihan ekonomi jangka panjang, termasuk respons terhadap dampak gempa bumi magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 yang disebut ikut terdampak pada komunitas penenun.
Seiring peresmian toko, Sejauh Mata Memandang juga menghadirkan sejumlah karya baru. Salah satunya motif terbaru dari kolaborasi dengan seniman Indonesia, Eko Nugroho. Brand juga menampilkan koleksi pakaian berbahan tenun jacquard katun bermotif Ayam serta tenun chambray katun dengan berbagai pilihan warna.
Pendekatan material tetap menekankan penggunaan pewarna nabati sebagai bagian dari pengembangan proses dan material yang lebih memperhatikan keberlanjutan. Brand mengaitkan karya dengan isu lingkungan dan sosial melalui inisiatif, termasuk partisipasi dalam gerakan #PatunganUntukHutan yang diinisiasi Ferry Irwandi bersama organisasi konservasi lingkungan. Donasi dari Sejauh disalurkan melalui Kitabisa untuk mendukung kerja tim di lapangan dalam mencegah kebakaran hutan, respons darurat, serta pemulihan habitat satwa yang terdampak.
Untuk aspek transparansi rantai pasok, Sejauh Mata Memandang memperkenalkan Digital Product Passport (DPP) pada produk yang terhubung dengan Mula. Melalui kode QR pada label gantung produk, konsumen dapat mengakses informasi yang lebih terstruktur mulai dari material, asal bahan, proses pembuatan, hingga pihak-pihak yang terlibat. DPP juga mencantumkan kemungkinan panduan perawatan dan perbaikan, serta jejak perjalanan produk setelah berada di tangan pemiliknya. Mula disebut sebagai platform asal Jakarta yang membantu brand tekstil dan fesyen mengubah data rantai pasok menjadi paspor produk digital, laporan dampak, dan dokumentasi untuk kebutuhan pasar ekspor.


Tidak ada komentar