Gen Z dukung ekonomi kreatif lewat bisnis digital, custom, dan konten UMKM lokal

Abdul Halim
29 Okt 2026 14:38
Ekonomi 0 0 View
4 menit membaca

Infopantulan.com – Dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, gagasan tentang kontribusi Gen Z terhadap ekonomi kreatif mengemuka dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian. Fokusnya bukan sekadar mengikuti tren, melainkan mengubah cara Gen Z menggunakan media sosial, memanfaatkan keterampilan kreatif, dan menjadikannya peluang usaha yang bisa dijalankan secara lebih fleksibel.

Menurut gagasan yang berkembang di kalangan penggerak ekonomi kreatif, langkah yang ditawarkan mencakup membangun bisnis digital, menjual produk personal atau custom, mengangkat brand yang lebih ramah lingkungan, hingga berperan sebagai content creator dan digital marketer untuk UMKM lokal. Caranya, Gen Z memanfaatkan keahlian desain, kemampuan membuat konten, serta kebiasaan konsumsi konten online untuk mendorong penjualan dan memperluas jangkauan karya.

Bisnis digital untuk Gen Z: jadikan kreativitas sebagai produk yang mudah dijual

Salah satu cara paling cepat dijangkau adalah mengubah ide kreatif menjadi produk digital. Karena Gen Z dikenal akrab dengan teknologi, format seperti template planner, tracker kebiasaan, hingga desain media sosial disebut cocok untuk dijalankan sambil tetap menata waktu sekolah atau pekerjaan. Produk semacam ini bisa dibuat dari kebutuhan personal, lalu dikemas agar relevan bagi pengguna lain yang memiliki pola aktivitas serupa.

Keunggulannya terletak pada model kerja yang lebih lentur. Kreator dapat merancang produk dari pengalaman dan preferensi pribadi, kemudian mendistribusikannya dalam bentuk digital. Setelah tersedia, produk bisa dibeli oleh banyak orang tanpa harus melakukan pertemuan tatap muka. Dengan pola seperti ini, aktivitas kreatif yang awalnya hanya menjadi hobi atau hiburan berpeluang berubah menjadi sumber pendapatan tambahan.

Produk custom dan aksesori personal, dari jam bekas hingga charm untuk journal

Ekonomi kreatif juga bisa bertumbuh dari barang yang unik dan tidak sepenuhnya massal. Di sini, Gen Z didorong mengeksplorasi seni dan fashion melalui pembuatan pernak-pernik personal, misalnya strap tas dari jam bekas, charm lucu untuk leather journal, hingga case ponsel yang disesuaikan dengan pesanan pembeli.

Contoh lain yang relevan adalah pembuatan journal dari kain perca. Model seperti ini memberi nilai estetika sekaligus ruang personalisasi pada sisi pembeli. Ketika pelanggan merasa ikut terlibat dalam pemilihan gaya, bahan, dan detail, produk yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai barang, tetapi juga membawa cerita dan karakter tertentu. Dalam praktiknya, pendekatan custom sering lebih menarik bagi calon pembeli karena hasil akhirnya terasa “dibuat untuk saya”.

Fashion ramah lingkungan lewat bahan terurai dan konten proses pembuatan

Bagi Gen Z yang ingin menyelaraskan usaha kreatif dengan kepedulian sosial dan lingkungan, arah yang bisa diambil adalah membangun brand fashion yang lebih bertanggung jawab. Dalam gagasan yang berkembang, pilihan bahan seperti linen yang lebih ramah lingkungan, serta penggunaan pewarna alami, disebut sebagai contoh pendekatan yang dapat diaplikasikan dalam produk.

Yang tak kalah penting adalah cara brand berkomunikasi. Karena Gen Z terbiasa bekerja dengan ekosistem digital, isu lingkungan dapat diangkat lewat konten media sosial milik merek. Konten tentang pilihan bahan, alasan penggunaan pewarna alami, sampai cerita proses pembuatan dapat membantu membangun awareness tanpa menunggu kampanye skala besar. Dengan pendekatan ini, edukasi lingkungan masuk ke ruang yang memang sering dikunjungi audiens.

Content creator dan digital marketer untuk UMKM lokal

Media sosial yang selama ini dipakai untuk menikmati konten juga bisa menjadi kanal pendukung penjualan produk kreatif. Gen Z dapat berperan sebagai content creator dan digital marketer dengan membuat konten menarik tentang produk, khususnya produk ramah lingkungan, sambil menonjolkan cerita di balik merek atau pembuatnya.

Upaya tersebut juga bisa diarahkan untuk mendukung UMKM lokal saat seseorang melakukan perjalanan ke daerah tertentu. Melalui konten berbasis pengalaman lapangan, kreator dapat membantu calon pembeli menemukan penjual karya kreatif di lokasi yang dikunjungi. Dampak yang diharapkan terlihat dari meningkatnya engagement, bertambahnya traffic ke kanal media sosial, serta kemudahan calon pembeli dalam mengambil keputusan karena informasi produk lebih mudah dijangkau.

Angkat budaya lokal lewat desain grafis dan produk kertas daur ulang

Keahlian desain grafis dapat diarahkan menjadi produk yang mengangkat budaya sekaligus selera pasar masa kini. Salah satu contoh yang disebut adalah pembuatan stiker bergambar makanan khas seperti pecel lele, klepon, sate ayam, atau nasi goreng. Gaya visual yang lucu dan menggemaskan membuat produk lebih mudah diterima oleh audiens yang menyukai elemen budaya dalam kemasan ringan.

Selain stiker, ada peluang menjual kartu pos atau notebook dari kertas daur ulang. Produk berbasis kertas ini bisa memakai desain yang menampilkan stan penjual street food. Dengan begitu, pembeli tidak hanya mendapatkan barang fungsional, tetapi juga membawa elemen budaya yang bisa dibawa pulang. Pendekatan ini memperluas nilai ekonomi kreatif, karena budaya lokal tidak berhenti pada konsumsi sesaat, melainkan masuk ke benda-benda yang bisa digunakan dan dikoleksi.

x
x