google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

Pada 28 Agustus 2026, misalnya, Aisyah memberikan sambutan dalam Pengajian Rutin Muslimah dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang digelar di Istana Isen Mulang. Dalam kesempatan itu, ia menyinggung kondisi kabut asap akibat karhutla yang tengah melanda wilayah Kalteng.
Fakta ini memperlihatkan bahwa keberadaan Aisyah di rumah jabatan bukan semata-mata dipahami sebagai aktivitas pribadi. Sebagai ketua organisasi yang menjalankan program sosial kemasyarakatan, ia menggunakan lokasi tersebut untuk kegiatan yang menargetkan komunitas dan agenda publik.
Nama Aisyah sebelumnya juga ikut terseret polemik setelah sejumlah akun resmi organisasi perangkat daerah di Pemprov Kalteng mengunggah ucapan selamat ulang tahun untuknya. Kontroversi muncul karena momen tersebut bertepatan dengan kondisi masyarakat yang sedang menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan.
Agustiar Sabran selaku gubernur kemudian memberikan penjelasan. Ia menilai ucapan ulang tahun tersebut merupakan hal yang wajar dan tidak dimaknai sebagai pesta pora. Agustiar juga menyebut keluarganya memilih mengambil hikmah dari polemik yang berkembang.
Dalam pembacaan publik, perbedaan persepsi kerap terjadi saat sebuah unggahan dilakukan bersamaan dengan situasi darurat. Namun, klarifikasi dari pihak keluarga menempatkan persoalan pada aspek momentum dan cara memaknai unggahan, bukan pada dugaan penyalahgunaan anggaran oleh Aisyah.
Perkembangan berikutnya menunjukkan sisi lain dari aktivitas Aisyah yang berkaitan langsung dengan penanganan karhutla. Pada 1 September 2026, ia mengunjungi posko relawan karhutla di Kelurahan Petuk Katimpun, Kota Palangka Raya.


Tidak ada komentar