google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

Meski pelaku sudah dikepung, emosi massa tidak bisa langsung mereda. Ada momen ketika kedua terduga pelaku sempat diamuk massa, sebelum aparat kepolisian di lokasi melakukan upaya pengamanan. Kehadiran aparat menjadi penentu agar situasi tidak berubah menjadi tindakan main hakim sendiri yang berpotensi menimbulkan korban tambahan.
Salah satu peserta aksi menyampaikan bahwa ada pelaku yang diduga mengambil handphone saat korban sedang membuat video demo. Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana pencopetan terjadi pada fase aktivitas yang relatif “bergerak”, ketika peserta merekam atau memperhatikan jalannya aksi sehingga pelaku dapat memanfaatkan celah waktu.

Dalam situasi protes seperti ini, komunikasi antara korban dan orang-orang terdekat biasanya menentukan cepat atau tidaknya pelaku tertangkap. Saat korban menyadari perangkatnya hilang, ia langsung menyampaikan kejadian tersebut. Informasi yang cepat menyebar di antara peserta membuat pencarian pelaku menjadi lebih terarah.
Setelah korban berteriak dan massa merespons, pengepungan dilakukan tanpa banyak jeda. Dua pelaku yang diduga berada di sekitar kerumunan kemudian diamankan. Dari proses penangkapan tersebut, tampak bahwa pengawasan internal di tengah massa dapat berperan sebagai “filter” pertama sebelum polisi melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Tidak ada komentar