google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

INFOPANTULAN.COM – Seorang siswi berusia 16 tahun di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dilaporkan mengalami gangguan ingatan setelah menjadi korban dugaan keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut sempat diikuti keluhan seperti kejang, kesulitan berbicara, hingga dugaan tidak mengenali sebagian orang terdekat. Kasus ini kembali menjadi sorotan ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turun langsung menemui para siswa yang masih menjalani perawatan di Karo pada Jumat, 11 September 2026.
Dalam kunjungannya, Gibran menyampaikan permintaan maaf atas nama pemerintah kepada keluarga korban. Ia juga menegaskan komitmen memastikan anak-anak yang terdampak memperoleh pelayanan kesehatan dan obat-obatan terbaik, termasuk membuka kemungkinan rujukan ke fasilitas kesehatan lain bila diperlukan. Peristiwa ini sekaligus memunculkan kembali pertanyaan publik mengenai pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG.
Peristiwa yang dialami Febiona Purba, pelajar SMK Bersama Berastagi, bermula pada 13 Agustus 2026. Pada waktu itu, ia termasuk dalam kelompok ratusan pelajar yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG. Keluarga kemudian menyampaikan adanya perubahan kondisi setelah proses perawatan berjalan beberapa hari.
Menurut keterangan ibunya, Elvinus Lusiana Sitanggang, awalnya Febiona masih tampak baik-baik setelah menjalani penanganan di rumah sakit. Namun, perubahan mulai terlihat setelah Febiona kembali ke rumah. Elvinus menyebut Febiona sempat mengalami kejang, kemudian muncul perubahan pada kemampuan berkomunikasi dan ingatan.
Elvinus juga mengatakan bahwa saat setelah kembali ke rumah, cara bicara Febiona berubah dan kondisinya dinilai seperti anak-anak. Bahkan, keluarga sempat melihat Febiona tidak mengenali anggota keluarga maupun teman-temannya di lingkungan sekolah. Pergeseran kemampuan yang dilaporkan inilah yang membuat kasus memperoleh perhatian luas.
Meski keluarga melaporkan gangguan ingatan dan keluhan neurologis, pemeriksaan medis yang dilakukan terhadap Febiona tidak menunjukkan kelainan pada aktivitas listrik otak. Dinas Kesehatan Kabupaten Karo menyebut pemeriksaan electroencephalography (EEG) dilakukan dua kali di rumah sakit berbeda.


Tidak ada komentar