
INFOPANTULAN.COM – Ratusan pelajar SMA di salah satu sekolah swasta di Cileungsi, Kabupaten Bogor, diduga menjadi korban konten pornografi hasil manipulasi kecerdasan buatan atau deepfake AI. Dalam laporan polisi yang diajukan ke Polres Bogor, kasus ini disebut bermula dari foto para siswa yang wajahnya diedit lalu ditempelkan pada tubuh perempuan lain dalam kondisi tanpa busana.
Peristiwa tersebut dilaporkan melalui surat polisi nomor LP/B/1143/V/2026/SPK/Polres Bogor/Polda Jawa Barat tertanggal 19 Mei 2026. Kuasa hukum saksi menyebut konten hasil editan itu kemudian disebarkan melalui sejumlah akun media sosial hingga muncul di situs judi online, sementara perangkat telepon seluler milik terduga pelaku sempat diperiksa dan ditemukan ribuan file foto serta video yang diduga merupakan hasil pengeditan AI.
Menurut penjelasan kuasa hukum saksi, wajah para siswa korban tidak lagi utuh seperti foto aslinya. Wajah mereka diedit dan dipasang pada tubuh perempuan lain tanpa busana. Proses edit tersebut membuat konten tampak seolah berasal dari korban, padahal tidak ada persetujuan dari pemilik foto.
Dalam keterangan yang disampaikan di hadapan penyidik, para saksi juga menyebut bahwa penyebaran dilakukan melalui media sosial, lalu berujung pada platform yang lebih berisiko. Ada dugaan konten tersebut turut beredar sampai ke sejumlah situs internet, termasuk situs judi online, yang memperluas dampak ke korban karena konten semacam ini umumnya sulit ditarik sepenuhnya dari peredaran.
Dalam perkara ini, terdapat dua orang yang dilaporkan dengan inisial KF dan DCN. Keduanya diduga memiliki pembagian peran, satu pihak disebut sebagai inisiator atau pihak yang menyuruh, sedangkan pihak lainnya diduga berperan sebagai pembuat konten. Pembagian peran seperti ini biasanya menjadi fokus penyidik untuk menilai unsur kesengajaan serta alur pembuatan dan penyebaran konten.
Kasus juga dikaitkan dengan adanya perselisihan antar pihak yang diduga terlibat. Salah satu terduga pelaku disebut membongkar kasus tersebut dengan menunjukkan foto pornografi hasil editan. Informasi itu kemudian disampaikan kepada korban dan sejumlah teman lainnya, sampai muncul pengakuan yang direkam dan diserahkan sebagai bahan laporan kepada Polres Bogor.
Di tahap pemeriksaan awal, telepon seluler yang diduga milik pelaku sempat diperiksa. Dari pemeriksaan tersebut, ditemukan ribuan foto dan video yang diduga merupakan hasil editan menggunakan kecerdasan buatan. Temuan jumlah file yang besar ini mengindikasikan bahwa pembuatan konten kemungkinan tidak berhenti pada satu kejadian, melainkan berlangsung berulang.
Kuasa hukum saksi juga menjelaskan bahwa di perangkat tersebut sempat terlihat adanya akses ke beberapa situs yang pernah memuat unggahan, termasuk situs judi online. Keterangan itu memperkuat dugaan adanya jalur distribusi konten yang tidak hanya terbatas pada grup atau akun tertentu, tetapi juga menyebar lintas platform.
Kasus ini diduga telah berjalan sejak 2025, ketika para korban masih berstatus pelajar. Saat ini, beberapa terduga pelaku disebut telah lulus, sementara sebagian korban melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan sebagian lainnya masih bersekolah. Perbedaan status pendidikan itu membuat dampak kasus terhadap kehidupan korban semakin beragam, mulai dari terganggunya konsentrasi belajar hingga tekanan sosial di lingkungan pertemanan.
Dalam kondisi seperti ini, penyidik biasanya perlu memetakan kronologi sejak konten dibuat, kapan disebarkan, dan siapa saja yang terhubung dalam rantai peredaran. Pemetaan tersebut juga penting untuk menentukan apakah konten hanya beredar di kalangan terbatas atau sudah melebar ke komunitas yang lebih luas.
Kuasa hukum saksi menyebut ada korban yang mengalami tekanan psikologis setelah mengetahui dirinya menjadi sasaran deepfake AI. Dampak psikologis pada korban kasus seperti ini dapat muncul dari rasa malu, ketakutan konten beredar lebih luas, hingga perubahan perilaku karena merasa diawasi atau disalahpahami oleh orang di sekitarnya.
Dalam kesempatan itu, kuasa hukum berharap proses hukum berjalan cepat dan tidak berlarut-larut. Harapannya, para korban bisa segera kembali fokus pada pendidikan tanpa harus menunggu terlalu lama. Ia juga mengimbau korban lain yang merasa mengalami hal serupa untuk berani melapor, karena jumlah korban diduga belum sepenuhnya terungkap.
Upaya pelaporan menjadi bagian penting untuk memperluas pengumpulan bukti, termasuk menelusuri perangkat, akun yang terhubung, dan jejak digital yang relevan. Dengan data yang lebih lengkap, penegak hukum dapat menilai keterlibatan pihak-pihak terkait secara lebih menyeluruh dan memastikan penanganan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

