Kelurahan Kencana Dukung PSEL Kayumanis, Dorong Penguatan Infrastruktur Pengelolaan Sampah

Riky Iskandar
21 Agu 2026 07:08
News 0 41
2 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, mendukung rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kelurahan Kayumanis.

Keberadaan fasilitas tersebut dinilai dapat menjadi solusi dalam menangani persoalan sampah sekaligus memperkuat pengelolaan sampah di wilayah penyangga.

Lurah Kencana, Heri Agus Suherman, mengatakan Kelurahan Kencana memiliki potensi produksi sampah yang cukup besar. Hal itu sejalan dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 23.190 jiwa.

Menurutnya, posisi Kelurahan Kencana yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Kayumanis serta wilayah Kabupaten Bogor juga membuat kawasan tersebut cukup strategis dalam mendukung operasional PSEL.

“Kalau dilihat dari jumlah penduduk yang mencapai 23.190 jiwa, ini sangat potensial menghasilkan sampah. Untuk satu RW saja bisa menghasilkan 4 sampai 5 ton sampah per hari,” kata Heri, Jumat (21/8/2026).

Namun, besarnya produksi sampah tersebut belum didukung armada pengangkutan yang memadai. Heri menyebut, kebutuhan ideal armada pengangkut sampah di wilayahnya sedikitnya mencapai lima unit dump truck.

“Saat ini kendaraan yang beroperasi hanya satu unit. Jadi memang masih sangat terbatas dibandingkan dengan kebutuhan yang ada,” ujarnya.

Heri berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dapat segera memperkuat infrastruktur pendukung, baik untuk pengangkutan maupun pengolahan sampah. Menurutnya, peningkatan sarana tersebut penting agar pengelolaan sampah antara wilayah Kota Bogor dan daerah penyangga dapat terintegrasi.

Heri juga menyoroti dampak pesatnya pembangunan perumahan di Kelurahan Kencana. Perkembangan properti di kawasan tersebut memang memberikan kontribusi terhadap peningkatan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan pendapatan daerah, tetapi juga menimbulkan tekanan terhadap lingkungan.

Salah satu persoalan yang muncul adalah penyempitan alur sungai serta tergerusnya batas wilayah yang kemudian memicu luapan air. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi aliran air yang berasal dari Kelurahan Cibadak maupun wilayah Kabupaten Bogor.

“Pembangunan properti juga memicu persoalan lingkungan seperti banjir dan longsor yang merugikan warga, khususnya di RW 4, 5, 6, dan 9,” jelasnya.

Heri menuturkan, luapan air kerap terjadi ketika arus sungai dari sejumlah wilayah bertemu di kawasan perbatasan Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Karena itu, diperlukan penanganan secara terpadu yang tidak hanya berfokus pada satu wilayah administratif.

Ia mengusulkan pembangunan kolam retensi sebagai salah satu langkah untuk menampung sekaligus mengendalikan debit air ketika hujan deras.

“Solusinya, Pemkot Bogor perlu membangun kolam retensi sebagai penampung dan pengendali banjir,” pungkasnya.

x
x